Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 21 September 2014

diposting pada tanggal 23 Sep 2014 01.13 oleh Admin Situs
Hidup adalah anugerah 

Keluaran 16:2-15; Mazmur 105:1-6, 37-45; Filipi 1:21-30; Matius 20:1-16

Tak ada manusia yang terlahir sempurna, jangan kau sesali segala yang telah terjadi 
Kita pasti pernah dapatkan cobaan yang berat, seakan hidup ini tak ada artinya lagi 
Syukuri apa yang ada hidup adalah anugerah, Tetap jalani hidup ini melakukan yang terbaik. 

Tak ada manusia yang lahir sempurna, jangan kau sesali segala yang telah terjadi Syukuri apa yang ada hidup adalah anugerah 
Tetap jalani hidup ini melakukan yang terbaik, Tuhan pasti menunjukkan kebesaran dan KuasaNya 
Bagi hambanya yang sabar dan tak kenal putus asa 
Jangan menyerah…jangan menyerah…jangan menyerah… 

Di atas adalah sebuah lirik lagu yang berjudul “Jangan Menyerah” dinyanyikan oleh De Masiv. Lagu tersebut mengajak kita untuk tetap semangat dalam menjalani kehidupan yang sudah Tuhan anugerahkan bagi kita. Kata orang, hidup ini bagaikan sebuah roda yang sedang berputar, kadang posisi di atas, terkadang posisi di bawah. Posisi roda di atas sebagai gambaran keadaan hidup yang nyaman dan menyenangkan. Sedangkan posisi roda di bawah adalah gambaran keadaan yang dirasa menyakitkan dan membuat putus asa.

Sebagai manusia tentu kita bisa saja merasakan semua putaran tersebut, dan De Masiv mengingatkan bahwa setiap keadaan harus dilihat sebagai anugerah Allah yang patut disyukuri. Karena rasa syukur inilah yang akan menjadi kekuatan bagi kita untuk terus melanjutkan kehidupan. Suka atau duka, gagal atau sukses, di atas atau di bawah, semua adalah anugerah yang memiliki maksud dan tujuan, yakni mendatangkan kebaikan bagi kita dan orang yang ada di sekitar kita. Tak ada satu keadaan pun dari hidup kita yang diluar kuasa Tuhan, sebab itu kita jangan menyerah atau bersungut-sungut dalam hidup, terutama saat menghadapi situasi pelik.

Keluaran 16:2-15, merupakan bagian dari kisah Israel di padang gurun. Dalam lindungan-Nya, Israel mendapat kekuatan, makanan juga minuman. Perlindungan Tuhan ini menunjukkan bahwa Ia setia dengan janji-Nya. Bagaimana dengan Israel?

Di gurun, perasaan putus asa sering melanda Israel. Dalam keputusasaan itu mereka mudah bersungut-sungut dan marah (ayat 3). Memang Israel adalah bangsa yang mudah marah, bersungut-sungut kepada Musa, Harun, bahkan Allah, tetapi Allah tidak membuat sungut- sungut itu sebagai alasan untuk memutuskan cinta kasih-Nya. Perkataan Tuhan “… maka kamu akan mengetahui, bahwa Akulah TUHAN, Allahmu” (ayat 12), menunjukkan bahwa Allah adalah Tuhan yang berlimpah anugerah. Anugerah-Nya tampak melalui kesediaan-Nya memberikan makanan setiap hari bagi umat-Nya, baik bagi umat Israel di padang gurun Sin, maupun bagi kita di gurun persoalan masing-masing. Bagaimana dengan kehidupan kita sekarang? Apakah hidup sebagi anugerah kita jalani dengan syukur atau malah dengan sungut-sungut?

(Noerman Sasono, S.Si. (Teol.))
Comments