Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 22 April 2012

diposting pada tanggal 21 Apr 2012 10.06 oleh Essy Eisen
Pengampunan-Nya memampukan kita melangkah

Kisah Para Rasul 3:12-19, Mazmur 4, 1 Yohanes 3:1-7, Lukas 24:36b-48

Rasa bersalah karena sudah melakukan kesalahan yang besar kepada seseorang yang kita kenal sungguh akan menimbulkan perasaan yang menghantui. Aktivitas hidup menjadi terganggu. Pikiran seolah-olah seperti diliputi oleh selubung yang gelap berisi perpaduan rasa antara takut, sesal dan gelisah. Adakalanya pengalaman traumatis itu sampai mengakibatkan susah tidur dan terbawa menjadi mimpi buruk. Akibat yang ditimbulkan karena pengalaman traumatis dapat menjadi perkara yang tidak menyehatkan badan dan jiwa.

Murid-murid Kristus pernah mengalami perasaan itu. Perisitiwa aniaya siksa derita dan penyaliban yang dialami Guru mereka tanpa kehadiran mereka di dekat-Nya sewaktu itu terjadi, tentu telah menimbulkan selubung kebingungan dan rasa bersalah dalam pikiran mereka. Perpaduan antara sesal, takut, rindu, dengan segudang pertanyaan dalam hati dan pikiran “Apa yang telah kita lakukan?”

Mungkin saat ini kita juga mengalami perasaan seperti ini? Momen “nasi sudah menjadi bubur”. Kita berharap waktu dapat diputar ulang kembali, sehingga kita dapat menghindari apa-apa yang kepalang sudah terjadi untuk menghindarkan kita dari susah hati yang dialami kini. Dosa memang membuat kita menjadi seperti terbelenggu. Menemui jalan buntu. Entah apakah masa depan masih dapat dikatakan cerah dalam suasana hati yang beku seperti itu.

Dalam suasana seperti itu Yesus datang. Murid-murid-Nya berpikir Ia hantu. Sepertinya perasaan bersalah telah menghantui mereka selama ini. Tetapi Yesus bukan hantu. Dia adalah Tuhan yang bangkit. Nyata jelas, bahwa Kasih selalu akan keluar sebagai pemenang. Luka-luka akibat dosa manusia masih tertera di tubuh-Nya, tetapi Ia hidup! Kedatangan-Nya kepada murid-murid-Nya membuka selubung pikiran dosa dan sesal mereka menjadi suasana hati yang baru.

Ternyata Yesus mengampuni mereka! Ya. Yesus tidak mengingat–ingat derita yang dialami sendiri tanpa murid-murid-Nya. Bagi Yesus luka-luka-Nya, adalah penderitaan karena kasih yang harus ditempuh-Nya sebagai Mesias. Itu semua akan berujung kepada kebaikan Allah berupa pengampunan dosa. Yesus mendorong mereka untuk melangkah maju. Ia berkata “..atas nama Raja Penyelamat itu haruslah diwartakan kepada segala bangsa bahwa manusia harus bertobat, dan bahwa Allah mengampuni dosa.,..” (Luk. 24:47, BIS-LAI). Murid-murid kemudian dimampukan-Nya untuk menjadi saksi-Nya. Kristus tidak ingin mereka hanya berdiam dalam selubung pikiran yang hanya akan mematikan mereka untuk terus melanjutkan karya pembaruan Allah di dunia ini.

Pengampunan-Nya memampukan murid-murid-Nya untuk terus melangkah. Dikemudian hari dicatat Petrus salah seorang murid Kristus yang menerima perutusan dari Yesus yang bangkit itu, mempersaksikan kuasa kebangkitan itu dengan penuh keberanian dan ketegasan dalam kotbah singkatnya paska pemulihan seorang lumpuh di bait Yerusalem. Petrus mengajak orang-orang Israel untuk sadar dan bertobat, keluar dari selubung pikiran yang membelenggu mereka dan menikmati pemulihan kehidupan di dalam nama Yesus Kristus (Kis. 3:12-19).

Kuasa kasih Allah yang mengaruniakan pengampunan dosa akan mendorong para pengikut Kristus untuk hidup dalam pertobatan yang sungguh-sungguh (1 Yoh. 3:6). Petrus, Yohanes dan para rasul lain mau masuk kembali ke Yerusalem, kota yang telah mereka tinggalkan dahulu karena ketakutan, ketidaktahuan dan kegoyahan hati. Rekonsiliasi hati telah terjadi dalam kehidupan mereka. Semua karena pengampunan dan kuasa kebangkitan Kristus yang sudah mereka alami. Kuasa pemulihan Allah di dalam Yesus Kristus mereka hadirkan di dalam kota yang dulu pernah “menyakiti” mereka dan menolak kasih Allah! Murid-murid terus maju melangkah. Mereka dimampukan Kristus untuk memberitakan kabar baik, tentang kasih pengampunan dan ajakan pertobatan bagi banyak bangsa.

Pertanyaan Aplikasi:
  • Menurut Saudara, apakah selama-lamanya kejahatan dan kebusukkan dosa itu lebih unggul dari kebaikan? (Kis. 3:15-16)
  • Apa yang seharusnya dilakukan oleh orang beriman di saat marah? (Mzm. 4)
  • Apa yang menjadi bukti bahwa seseorang tetap berada di dalam Kristus? (1 Yoh. 3:6)
  • Apa yang akan Saudara lakukan sebagai seorang yang sudah diampuni oleh Allah?
(Pdt. Essy Eisen)
Comments