Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 22 Desember 2013

diposting pada tanggal 20 Des 2013 23.38 oleh Admin Situs
“Semua diampuni-Nya”

(Matius 18:21-35)

Memberikan maaf atau lebih dalam lagi, memberikan pengampunan adalah tindakan yang mulia. Acap kali orang yang berbuat salah kepada kita biasanya tidak sengaja dan kesalahannya sepele saja. Tidak perlu dibesar-besarkan dan sampai mendendam segala. Namun akan beda ceritanya jika yang bersalah itu melakukan kesalahan berulang-ulang dan tampaknya disengaja. Bagaimana sikap kita jika mengalami hal itu?

Sepertinya yang menjadi pertanyaan Petrus terkait dengan kesalahan yang terjadi berulang-ulang dan tampaknya disengaja. Orang yang “bersalah” itu terlihat sulit sekali untuk mengubah sikap buruknya. Lalu bagaimana tanggapan pengikut Kristus terhadap orang yang sedemikian? Ada yang berpendapat bahwa terhadap orang yang sedemikian semestinya pengampunan ada batasnya. Sebab jika dibiarkan, orang itu terus menerus akan mengulangi sikap buruknya.

Apa yang menjadi pengajaran Kristus? Bagi Kristus, cinta kasih harus lebih besar ketimbang apapun juga. Angka “7 yang berlipat-lipat” kemungkinan besar terkait juga dengan Kejadian 4:24, tentang kisah Lamekh yang berkoar-koar kepada para istrinya akan membalas kepada siapa pun yang berani menyerangnya. Cuma bedanya, Kristus justru malah menasihatkan, jangan membalas dengan kejahatan, tetapi ampunilah sebanyak 70x7, yang tentu artinya bukan 490 kali semata, tetapi berlipat-lipat, tidak pernah berhenti. Pengampunan adalah lawan kata dari pembalasan dendam. Pengikut Kristus dinasihatkan untuk mengambil sikap yang berkebalikan dari Lamekh.

Untuk mempertegas makna pengampunan yang berangkat dari belas kasihan, Kristus menggunakan perumpamaan. Perlu diketahui, bahwa jenis perumpamaan ini bukanlah seperti perumpamaan “Orang samaria yang murah hati” yang berakhir dengan “pergi dan lakukanlah demikian”. Perumpamaan ini adalah perumpamaan tentang Kerajaan Allah. Melalui perumpamaan ini, Petrus diajak untuk melihat pengampunan bukan dari sudut pandang manusiawi, tetapi dari sudut pandang sifat Allah.

Dalam adegan pertama, Tuhan Yesus menceritakan tentang sebuah kerajaan. Tentu kerajaan ini bukan kerajaan ala Yahudi, sebab dalam hukum Yahudi tidak dikenal penjualan istri dan anak-anak untuk melunasi hutang. Tetapi karena belas kasihan sang raja, maka si terutang itu mendapatkan pembebasan tanpa syarat apapun. Dalam adegan kedua, sang debitor itu kemudian menjadi kreditor. Namun sangat disayangkan, tanggapannya terhadap sang pengutang berbeda dibandingkan dengan tanggapan raja terhadapnya selagi ia masih menjadi seorang terutang. Padahal jika dibandingkan nilai utangnya, sangat jauh berbeda. Dalam adegan ketiga, sang raja mendapatkan informasi mengenai sikap terutang yang sudah dibebaskannya itu terhadap sesamanya. Raja menjadi murka. Ia memberikan didikan keras terhadap hambanya yang tidak tahu belas kasihan dan tidak menghidupi belas kasihan itu.

Untuk memahami dengan utuh cerita yang sederhana ini, kita harus berhati-hati membedakan antara perumpamaan dan alegori. Dalam perumpamaan yang dikisahkan para rabi (guru agama Yahudi), biasanya sang raja diidentikkan dengan Allah sendiri. Tetapi dalam mengerti perumpamaan ini, tidak berarti semua detail tentang sikap sang raja dapat begitu saja dipahami seperti sikap Allah kepada manusia. Kita tentu tidak menerima Allah yang berkenan pada penjualan istri sebagai hukuman terhadap dosa sang suami. Atau juga mengenai hukuman fisik terhadap orang yang berdosa.

Lalu bagaimana kita memahami cerita ini? Melalui cerita ini, kita dapat melihat bahwa dalam kerajaan Allah/ kerajaan sorga, setiap orang yang mau masuk ke dalamnya, semestinya dipenuhi oleh belas kasihan, sebab ia sudah mendapatkan belas kasihan Allah. Sebagai anak-anak Allah, kita dibimbing-Nya untuk terus belajar mempraktekkan pengampunan yang tidak ada batasnya. Kita terus belajar meniru cara Allah dalam berurusan dengan dosa dan kejahatan manusia, berangkat dari belas kasihan.

Tetapi hati-hati. Jangan menafsirkan bahwa kita dapat beroleh pengampunan Allah hanya semata dengan mengampuni orang lain atau sebaliknya, berpandangan bahwa Allah tidak akan mengampuni orang yang berdosa karena tidak mengampuni dosa orang lain. Cerita ini tidak bermaksud berujung pada kesimpulan yang teramat legalistik seperti itu. Cerita ini mendorong kita untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi dengan kebaikan! Itulah makna kerajaan Allah.

Namun perlu dipahami bahwa pengampunan tiada batas tidak sesempit toleransi sentimental terhadap perbuatan buruk yang berulang. Seorang pencandu narkoba/alkohol/hal-hal buruk lainnya, tidak boleh begitu saja diterima dan dipahami kebiasaan buruknya. Seorang remaja yang mengabaikan kepercayaan orang tuanya dengan mengambil tindakan yang keliru dalam hidup, tidak semata-mata diampuni. Sebab, dengan memberikan pengampunan, kita malah sedang menyetujui kejahatan dan dosa! Harus selalu ada unsur pembaruan hidup yang mengikuti pengampunan yang benar dan sejati (Galatia 6:1). Kita yang sudah mendapat belas kasihan Allah, semestinya terus belajar untuk menunjukkan belas kasihan kepada sesama. Antara lain dengan menunjukkan pengampunan yang membaharui hidup terhadap orang-orang yang sudah berbuat salah kepada kita.

(Pdt. Essy Eisen)
Comments