Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 22 September 2013

diposkan pada tanggal 19 Sep 2013 16.06 oleh Essy Eisen
Cerdik dan setia sebagai abdi Allah 

Amos 8:4-7, Mazmur 113, 1 Timotius 2:1-7, Lukas 16:1-13

Nasihat Tuhan Yesus dalam Lukas 16:13 tegas dan jelas. Pengabdian kepada Allah harus terus menerus dipermurni setiap hari di atas pengabdian kita akan hal-hal lain. Mengapa? Sebab dengan mengabdi kepada Allah, cara kita mengabdi kepada yang lain akan terkena pengaruh baik yang Allah berikan. Sebaliknya, pengabdian yang setengah hati kepada Allah, acapkali menghasilkan pribadi yang munafik. Tindakan beriman acapkali tidak memberikan dampak berarti dalam kehidupan.

Untuk mengajak murid-murid-Nya tiba pada kesadaran supaya mereka mendayagunakan segenap potensi yang ada demi pengabdian yang setia dan serius kepada Allah, Tuhan Yesus menceritakan sebuah cerita. Cerita itu berlatar belakang dunia pertanian pada zaman itu. Sudah lumrah kala itu bahwa sebuah lahan tanah dapat disewakan kepada penggarap oleh tuan tanah. Biaya sewa dibayar dengan bagi hasil tanaman yang ditanam, entah hasil anggur, hasil zaitun atau gandum. Dalam hukum agama Yahudi, orang dilarang meminjamkan uang dengan bunga. Namun acapkali ada orang yang jahat untuk mencari celah mengakali hukum itu dengan membungakan bukan uang, tetapi hasil tanaman. Walaupun terkesan legal, tindakan ini tetap kejahatan, sebab para petani harus membayarkan lebih dari sewa resmi. Yang diuntungkan tanpa bekerja ialah orang yang melakukan penggelapan, yaitu si perantara antara tuan tanah dan para petani.

Sepertinya bendahara yang diceritakan oleh Yesus termasuk orang yang melakukan penggelapan itu. Ia tidak bekerja tetapi ingin mendapatkan untung. Sungguh keji. Dikisahkan tuan dari si bendahara ini memutuskan untuk mem-PHK dirinya karena laporan yang diterimanya tentang kinerja buruknya. Memikirkan dampak PHK itu, si bendahara ini cari jalan bagi masa depannya. Ia lalu memotong biaya sewa para petani yang harus dibayar kepada tuannya. Besar kemungkinan biaya yang dipotong itu sebenarnya adalah jumlah penggelapan yang ia lakukan. Sungguh lihai. Pada satu sisi, para petani merasa senang karena biayanya dipotong (padahal tidak) dan si bendahara mendapatkan kesan yang baik dari para petani, pada sisi lain, tuannya tidak rugi juga, karena bukankah ia tetap mendapat hasil biaya sewa yang semestinya? Selain itu, di muka para petani, si tuan tanah ini akan mendapatkan pujian karena dianggap berbaik hati kepada mereka dengan memotong biaya sewa! Itu sebabnya begitu perkara kelihaian ini diketahui oleh si tuan, ia memuji bendahara itu. Sungguh cerdik! Si bendahara menggunakan kekayaannya (mamon dalam bahasa Aram itu artinya kekayaan) yang didapatnya dengan tidak jujur itu untuk “membeli” dan membangun relasi penerimaan antar pribadi.

Tentu Tuhan Yesus tidak ingin kita mengikuti keculasan dan kejahatan si bendahara yang bertindak jahat dengan melakukan penggelapan terhadap para petani dan tuannya itu. Yang dapat kita pelajari dari cerita ini ialah tentang potensi kecerdikan seorang anak manusia untuk menghadapi masalah pelik dalam hidup. Tuhan Yesus ingin mengarahkan kita untuk cerdik dalam memperjuangkan apa-apa yang baik walau menghadapi kesusahan sekalipun. Kalau orang yang culas dan jahat semacam bendahara itu saja dapat mengelola dan mendayagunakan potensi yang dimiliki untuk menyelamatkan diri dari masalah peliknya, bukankah seharusnya murid-murid Kristus juga harus cekatan dalam melakukan tanggungjawabnya dalam menghadirkan kebaikan Kristus di tengah kehidupannya? Apapun itu resikonya!

Sumber daya yang Allah percayakan kepada kita itu bukan untuk disimpan, tetapi untuk didayagunakan menjadi saluran berkat bagi sesama. Apa yang Allah percayakan entah uang, kemampuan, tenaga, semua itu harus dikelola dengan tanggungjawab dan kesetiaan penuh pengabdian kepada Allah. Alangkah indahnya dan berdampaknya, jika seseorang memberikan pelayanan kepada Allah bukan yang sisa, setengah-setengah atau asal jadi saja. Tetapi pelayanan yang terbaik, yang berpihak kepada yang lemah. Pelayanan yang berkorban. Pelayanan yang mau melakukan apa yang dipercayakan sampai selesai dengan hasil yang baik dan memuaskan.

(Pdt. Essy Eisen)
Comments