Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 23 Maret 2014

diposkan pada tanggal 20 Mar 2014 04.19 oleh Admin Situs   [ diperbarui9 Mei 2014 01.36 ]
Yesus “Air Hidup”, Juruselamat Semua Orang

Keluaran 17:1-7, Mazmur 95, Roma 5:1-11, Yohanes 4:5-26, 39-42

Dalam perjalanan Yesus menuju Galilea, Ia melewati daerah Samaria. Bagi kebanyakan orang Yahudi, daerah Samaria dipandang sebelah mata. Sebab orang Samaria, walaupun dapat dikatakan masih saudara, dipandang sebagai orang-orang yang “tidak murni” lagi karena kawin campur. Selain itu acap kali mereka beribadah kepada Allah di Gerizim, bukan di Sion, Yerusalem. Mengapa Yesus lalu mau melewati Samaria? Sebab Yesus tidak diskriminatif. Kasih Yesus adalah untuk semua orang! Kehadiran-Nya menyegarkan jiwa banyak orang. Bukan demi segelintir orang saja.

Tidak hanya itu. Di Samaria, tepatnya di kota Sikhar, karena letih, Yesus beristirahat. Ia haus. Di sana ada “sumur Yakub”. Seorang perempuan sedang menimba di tepi sumur itu. Namun herannya, ia menimba seorang diri. Biasanya para perempuan kalau menimba air, beramai-ramai. Adakah sesuatu yang dilihat Yesus dalam diri perempuan itu? Apakah Yesus melihat kekeringan jiwa dalam dirinya? Menurut kebiasaan pada waktu itu, tidak lazim seorang laki-laki berbicara berduaan dengan perempuan yang bukan isterinya. Apalagi perempuan Samaria itu rupanya menyadari, Yesus itu bukan dari daerahnya. Tetapi Yesus mempertaruhkan reputasinya! Yesus berkenan menyapa perempuan itu dan meminta tolong ditimbakan air olehnya. Kasih anugerah Allah yang dihadirkan Yesus adalah untuk semua orang! Bagi Yesus, sekat-sekat budaya dan perbedaan jangan sampai menghalangi kasih yang ramah untuk menyapa jiwa-jiwa yang kering dan membutuhkan pertolongan.

Perempuan Samaria itu menanggapi Yesus. Menanggapi dengan heran. Seolah-olah ia berkata “Gak salah nih?” Tanggapan Yesus selanjutnya mengajak si perempuan itu untuk mengenali kehadiran Yesus sebagai Mesias, Kristus, Anak Allah yang dijanjikan sejak dahulu melalui kitab nabi-nabi. Baik orang Yahudi maupun orang Samaria, mereka semua memang sangat menantikan Mesias, pembebas fisik dan pembebas spiritual. Yesus pada akhirnya memperkenalkan diri-Nya kepada perempuan itu sebagai Mesias yang dinantikan itu.

Yesus rupanya mengetahui banyak perkara dalam kehidupan pribadi perempuan itu. Melalui percakapan yang dibangun secara mendalam dengan perempuan itu, Yesus menghadirkan diri-Nya sebagai pengantara antara umat dan Allah. Kelak setelah kebangkitan-Nya, dalam beribadah kepada Allah, umat tidak lagi dibatasi oleh sekat-sekat budaya yang picik ataupun ritus-ritus bakti yang terikat pada satu tempat suci tertentu saja. Allah disembah dalam roh dan kebenaran. Sikap bakti yang hadir dari dalam keluar, karena karya Roh Kudus! Sungguh sebuah pembebasan yang luar biasa, yang dihadirkan Yesus sebagai Mesias, Juruselamat semua orang.

Untuk mengajak si perempuan menyadari karya kemesiasan (karya pembebasan Kristus), Yesus memberikan gambaran dirinya sebagai “Air Hidup”. Umat Yahudi dan Samaria tentu ingat kisah sebuah tempat yang dinamakan Masa dan Meriba (Kel. 17:1-7). Kisah yang kemudian diulang-ulang menjadi sebuah pengajaran dalam nyanyian Mazmur yang acap dinyanyikan dalam ibadah-ibadah mereka (Mzm. 95). Skandal Masa dan Meriba menyadarkan umat bahwa dari gunung batu, hadirlah keselamatan, keluar “air yang mengalir deras; air hidup” (bukan dari air sumur). Semua karena anugerah Allah. Air itu mengenyahkan dahaga fisik dan ketidakpercayaan mereka akan penyertaan Allah. Perempuan Samaria itu percaya! Bahkan karena karya kesaksiannya, banyak orang di kampungnya pun menjadi percaya kepada Yesus sebagai Juruselamat dunia.

Demikianlah kehadiran Kristus bagi dunia ini. Ia adalah “Air Hidup”. Melalui karya kasih-Nya di Golgota dalam pemberian nyawa-Nya dan kebangkitan-Nya yang mengalahkan maut, umat merasakan dengan sungguh damai sejahtera Kristus karena pendamaian yang dilakukan-Nya itu. Paulus menjelaskan hal ini dalam Roma 5:1-11.

Bersama “Air hidup” itu umat akan memiliki pengharapan untuk beroleh kemenangan demi kemenangan iman bersama Kristus!

Perenungan:
  • Apakah ada manusia di dunia ini yang tidak dapat minum air? Mengapa? Apakah orang dapat mati jika tidak minum air? 
  • Apakah yang istimewa dari pengajaran Tuhan Yesus Kristus sehingga “kehausan spiritual” Anda terpuaskan selama ini? 
  • Apakah memang benar Tuhan Yesus Kristus sudah menjadi “air hidup” bagi Anda? Apa alasannya? 
(Pdt. Essy Eisen)


Comments