Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 23 November 2014

diposkan pada tanggal 20 Nov 2014 03.00 oleh Admin Situs
Ikut teladan Sang Raja yang Peduli & Gembala yang Baik

Yehezkiel 34:11-16, 20-24, Mazmur 100, Efesus 1:15-23, Matius 25:31-46

Di tengah kacau balaunya nilai-nilai hidup karena kebobrokan kepemimpinan, Allah yang penuh kasih itu berjanji. Seperti seorang gembala yang baik memelihara dengan sempurna kawanan domba gembalaannya, begitu juga tindakan Allah kepada umat yang dikasihi-Nya (Yeh. 34:11-16). Kehadiran pemeliharaan Allah yang sempurna itu nampak jelas melalui karya Mesias (Pemimpin Yang diurapi Allah), melalui keturunan Daud (Yeh. 34:20-24). Melalui kepemimpinan Sang Mesias itu, umat-Nya akan menghidupi nilai-nilai kehidupan yang dikehendaki Allah, saat mereka menyatakan tindakan yang berujung pada kedamaian, keadilan dan kebersamaan hidup yang dasarnya kasih suci.

Dengan tindakan Allah sebagai Raja, Gembala, yang peduli itu sepatutnyalah umat-Nya bersyukur kepada-Nya. Ungkapan syukur itu ditunjukkan dengan kesediaan mendengar dan memberlakukan perintah-Nya. Sebagaimana Allah menunjukkan kesediaan-Nya memberikan diri demi kebaikan umat-Nya, begitu juga setiap orang yang mengagumi segenap karya-Nya dengan rela memberikan diri bagi sesamanya (Mzm. 100).

Kita mengamini dan mengimani bahwa Mesias yang dimaksudkan Allah itu adalah Tuhan Yesus Kristus (Ef. 1:22-23). Melalui segenap karya-Nya baik saat berada secara fisik di bumi ini, maupun kehadiran-Nya di dalam Firman, Perjamuan Kudus dan Roh Kudus sampai sekarang ini, Tuhan Yesus Kristus menunjukkan dengan nyata sikap-Nya sebagai Raja yang peduli, Gembala yang baik.

Dalam catatan penginjil Matius 25:31-46, Tuhan Yesus menjelaskan visi ke depan Kerajaan Allah yang turut dihadirkan oleh Sang Mesias, atau dalam bahasa penginjil Matius, oleh “Anak Manusia”. Yesus menjelaskan, seperti Sang Raja yang memeriksa kehidupan orang-orang yang dipimpin-Nya, begitu juga kita diajak mengenali kembali tindakan Allah yang menunjukkan kepemimpinan-Nya kepada orang-orang yang lemah, yang membutuhkan pertolongan dalam hidup. Jika Allah begitu peduli dan berkenan ada untuk menolong orang-orang itu, bagaimana dengan umat yang mengasihi-Nya? Perhatikan bahwa Sang Raja itu ternyata begitu murka saat orang-orang yang dipimpinnya mengabaikan kehadiran orang-orang yang lemah dan membutuhkan pertolongan dalam hidup! Secara tidak langsung Tuhan Yesus ingin mengajarkan bahwa “Imanuel”, kehadiran Allah bersama dengan manusia, dapat dilihat dalam diri orang-orang yang lapar, haus, tersesat, sakit, terluka, terbelenggu. Setiap orang yang mau mengikuti teladan Raja yang peduli, Gembala yang baik, dipanggil untuk peduli dan mengasihi mereka juga.

Oleh sebab itu, seperti Jemaat Efesus yang bukan saja mengimani Kristus sebagai Juruselamat, tetapi juga yang telah menunjukkan kasih yang nyata dalam hidup mereka, kita semua dipanggil Allah untuk mengenal dengan sungguh-sungguh apa yang seharusnya menjadi karya nyata kita sebagai pengikut Kristus (Ef. 1:15-17). Memang untuk menunjukkan karya kasih kepada setiap orang yang lemah dan membutuhkan pertolongan itu tidak mudah. Tetapi kita telah menerima kuasa yang luar biasa! Rasul Paulus mengatakan bahwa kuasa yang membangkitkan Tuhan Yesus Kristus dari maut, kini bekerja juga dalam diri kita yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus (Ef 1:18-21)!

Pertanyaan perenungan
  1. Apa artinya jika Allah digambarkan seperti seorang Raja Yang Peduli dan Gembala Yang Baik? 
  2. Kepedulian dan kebaikan seperti apakah yang Anda sudah terima dari Allah melalui karya Tuhan Yesus Kristus di sepanjang hidup Anda? Apa yang Anda lakukan setelah mengalami semua itu terhadap orang-orang yang ada di sekitar kehidupan Anda? 
  3. Apa yang menjadi tanggapan Anda jika dikatakan bahwa Allah “hadir” di dalam diri orang yang miskin, lemah, dalam kesesatan, sakit, terluka, terbelenggu? 
Praktek Iman, Pengharapan dan Kasih
  1. Berkenan dikoreksi oleh Firman Allah untuk memperbaiki pikiran, perkataan dan kelakuan. 
  2. Tidak berkeluh-kesah dan mencari-cari alasan untuk menghindar saat mendapat kesempatan untuk melayani kawanan domba gembalaan Allah. 
  3. Menolong orang yang miskin, lemah, kesusahan, sakit, terluka dengan segenap kekuatan yang Allah berikan.
(Pdt. Essy Eisen)
Comments