Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta, 23 Oktober 2011

diposkan pada tanggal 4 Nov 2011 20.47 oleh Essy Eisen
Kasihilah…dirimu sendiri?

Mat 22: 34-40

Narsisme. Mencintai diri sendiri. Sejak media-media sosial berbasis internet menjamur, semakin banyak orang agaknya terjebak pada narsisme. Mereka (dan barangkali juga kita) menjadi lebih mengasihi diri sendiri, kagum akan diri sendiri, memperhatikan diri sendiri daripada orang lain dan Tuhan. Tidak sedikit pula yang mengatakan narsisme bisa dibenarkan secara Alkitabiah dan mereka mengutip Mat 22: 39, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”

Menurut sebagian orang, berdasarkan ayat ini, sebelum kita mengasihi orang lain, kita pertama-tama harus mengasihi diri sendiri. Kalau kita tidak mengasihi diri sendiri, mana mungkin kita mengasihi orang lain? Dan jika kita tidak mengasihi diri sendiri, maka kita tidak memenuhi perintah Kristus. Oleh karena itu, menjadi narsis boleh-boleh saja dan sesuai dengan Injil. Namun, pada hemat saya, cara pandang seperti ini kurang sesuai dengan keseluruhan pesan yang disampaikan Tuhan Yesus dalam Mat 22: 34-40.

Pertama-tama, dengan menyatakan pendapat bahwa perikop ini tidak bisa menjadi dasar untuk membenarkan narsisme, saya tidak menganjurkan kita semua untuk mulai membenci diri sendiri dan menyiksa diri. Sama sekali tidak. Semua orang yang sehat jiwanya pasti akan berupaya merawat diri dan membangun citra diri yang positif. Ini bersifat alamiah dalam diri semua manusia. Tuhan Yesus menyadari hal itu, seperti yang akan dijelaskan kemudian.

Untuk memahami teks ini dengan lebih baik, kita perlu mengenali konteksnya. Dalam bacaan ini, Tuhan Yesus sedang menjawab pertanyaan: “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” Jadi yang menjadi sorotan Tuhan Yesus adalah perintah-perintah yang tercantum dalam Taurat. Saudara boleh baca kelima kitab Musa dan carilah perintah untuk menyayangi diri sendiri. Kita tidak akan menemukannya. Dalam Im 19: 18, perintah yang diparafrase oleh Yesus berbunyi: “Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Perintah Taurat yang dianggap Yesus penting ditemukan dalam konteks menghentikan balas dendam kepada orang-orang lain. Menurut Taurat, caranya adalah dengan mengasihi musuh itu seperti kita mememelihara dan merawat diri sendiri.

Selain itu, perintah Tuhan Yesus ini didahului oleh perintah, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.” Kata kunci dalam dua perintah ini adalah “Kasihilah.” Dan jika kita lihat objek langsung dari kasih yang Tuhan Yesus maksudkan adalah Tuhan dan sesama manusia, bukan diri sendiri. Kasih yang dibicarakan Tuhan Yesus di sini bersifat keluar, bukan ke dalam. Kasih Kristiani memang senantiasa mengarah kepada objek-objek lain di luar dirinya sendiri. Tuhan Allah yang datang dalam Kristus Yesus adalah teladan kita. Ia begitu mengasihi manusia, bukan diriNya sendiri, sehingga Ia rela mengorbankan diri bagi kita semua.

Pada akhirnya, perintah Kristus berhenti pada perintah kedua. Anak kalimat, “seperti dirimu sendiri” tidak bisa dipandang setara dengan perintah “Kasihilah sesamamu manusia.” Tidak ada perintah ketiga, “Kasihilah dirimu sendiri.” Tuhan Yesus tidak ingin pengikutnya menjadi terfokus pada diri sendiri dan urusan internalnya sehingga tidak sanggup mengasihi Allah dan sesamanya manusia.

Akankah Tuhan senang jika kita memanfaatkan media-media sosial berbasis internet? Tentunya pertanyaan ini tidak bisa dijawab dengan ya atau tidak semata. Kita perlu menganalisis apa saja yang dilakukan orang di media-media ini dan apa yang mau dicapainya. Akan tetapi, jelas pula bahwa Tuhan Yesus tidak menganjurkan kita untuk menjadi begitu mengasihi diri sendiri sehingga lupa bahwa perintah Taurat dan kitab para nabi dirangkum dalam dua hal ini, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu…Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”

(Agustian N. Sutrisno)
Comments