Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 23 September 2012

diposting pada tanggal 21 Sep 2012 21.52 oleh Essy Eisen   [ diperbarui21 Sep 2012 21.53 ]
Orang lain juga penting!

(Filipi 2:1-11)

Jika di dalam keluarga tidak ada kesatuan hati, hubungan satu dengan yang lain dalam keluarga menjadi tidak sehat. Ambisi yang mengutamakan diri sendiri tanpa mempertimbangkan perasaan orang lain, akan berakhir pada perseteruan yang menyedihkan. Jika orang terlalu mementingkan diri sendiri, lambat laun ia akan mengalami kesendirian.

Harmoni adalah sebuah keharusan dalam keluarga dan dalam setiap relasi dengan orang lain sampai kapanpun juga. Harmoni artinya: perbedaan memang selalu ada, tetapi diolah untuk memberikan kebaikan bagi yang lain. Perbedaan bukan menjadi alasan untuk bertengkar, tetapi menjadi alternatif pemikiran yang dikelola untuk menemukan cara yang efektif dalam menghadapi tantangan hidup bersama.

Nasihat Rasul Paulus untuk Jemaat Filipi (Flp. 2:1-4) mengandung prinsip-prinsip hidup yang menyehatkan relasi dengan orang lain dalam mewujudkan harmoni:

1. Bersatu dengan Kristus.
Adalah kejanggalan besar, jika seorang yang sudah bersatu dengan Kristus, tetapi tidak mau mewujudkan persatuan dengan sesama. Orang yang berjalan dengan Kristus, bersatu dengan Kristus. Tidak akan ada kesulitan untuk berjalan dengan orang lain yang berbeda sifat dan sikap dengannya jika ia mau bersatu dengan Kristus.

2. Takluk pada kuasa kasih Kristus.
Kasih Kristus adalah kasih yang “walaupun”. Kasih yang tetap nyata walaupun sudah menerima apa yang tidak enak dan menyakitkan sekalipun. Kasih yang memberi kebaikan bagi orang yang sudah menyakiti diri. Kasih yang mengampuni. Kuasa kasih Kristus ini, mengubahkan pribadi dan kehidupan. Salib Kalvari dan kebangkitan Kristus adalah bukti.

3. Mau ditolong Roh Kristus.
Salah satu karya terbesar Roh Kudus ialah mempersekutukan manusia dengan Allah dan manusia dengan manusia. Roh Kudus menolong orang untuk mampu memberi kebaikan diri bagi yang lain. Sebaliknya, roh jahat menolong orang untuk memberi kejahatan bagi yang lain. Oleh sebab itu, mengasihi adalah karunia Roh yang tidak boleh ditolak.

Prinsip-prinsip ini sudah dihidupi oleh Kristus dengan setia, dan sebagai pengikut-Nya, kita dianjurkan untuk menghidupinya juga. Kita ditantang untuk mengosongkan diri, mengambil rupa hamba dan taat memperjuangkan kasih apapun akibatnya. Prinsip ini, berujung pada kedamaian bagi diri sendiri dan orang lain, serta pemuliaan Kristus Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat (Flp. 2:5-11).

Jika di dalam keluarga, kita memilih untuk:
  • Mengabaikan tanggungjawab dan peran dalam keluarga, 
  • Mau menang sendiri, 
  • Menyerang kelemahan dan kekurangan yang lain, 
  • Enggan berkorban, 
  • Ingin dianggap menjadi tuan bagi yang lain, 
  • Mengabaikan kehidupan spiritual yang sehat, 
  • Belum mengampuni kesalahan orang lain, 
kita perlu segera bertobat! Sebab pilihan itu membuat keluarga tidak harmonis. Tidak ada yang baru dari pilihan itu. Sejak dahulu kala, pilihan-pilihan sikap semacam itu hanya akan melahirkan lingkaran kekerasan yang tiada berakhir. Hidup dipenuhi sakit hati, dendam dan kepahitan.

Jadi, “hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.” (Flp. 2:2-4)

(Pdt. Essy Eisen)
Comments