Renungan Warta 24 Juni 2012

diposkan pada tanggal 22 Jun 2012 16.12 oleh Essy Eisen
Dalam badai hidupku, Yesus kupegang teguh!

Ayub 38:1-11, Mazmur 107:1-3, 23-32; 2 Korintus 6:1-13, Markus 4:35-41

Jika hidup diibaratkan seperti sedang mengarungi lautan, maka tidak selamanya kita berlayar dengan angin yang tenang. Adakalanya masalah datang. Pikiran dan perasaan menjadi tidak tenang. Iman kita diuji kesahihannya. Di manakah kuasa Allah? Apakah Allah peduli?

Dari dalam badai Tuhan menjawab Ayub. Mengejutkan, Allah tidak menjawab pertanyaan Ayub. Allah menggunakan pengabaian Ayub dan membandingkannya dengan gejolak yang ada di dalam tatanan alam. Jika Ayub tidak memahami karya Allah di dalam tatanan alam semesta, bagaimanakah ia dapat memahami pikiran dan karakter Allah? Yang dibutuhkan dari Ayub sebenarnya adalah percaya kepada Allah dan pemeliharaan-Nya (Ayb. 38:1-11).

Murid-murid membutuhkan istirahat, tetapi mereka terkena badai. Danau Galilea dikelilingi bukit. Angin yang kadang-kadang bertiup di sekitar area itu dapat menyebabkan gelombang pada danau itu secara tiba-tiba. Murid-murid Yesus bukanlah nelayan amatiran yang baru sekali berlayar di danau itu. Tetapi saat badai menerpa mereka menjadi panik dan ketakutan. Kehadiran Yesus di dalam perahu bersama-sama dengan murid-murid-Nya seolah-olah belum mampu membuat murid-murid mengenali kehadiran Allah yang menyelamatkan di dalam kehidupan mereka (Mrk. 4:35-41). Sekarang ini, kita, sebagai pengikut Kristus yang telah mengalami kehadiran-Nya di dalam kehidupan kita, sebaiknya jangan sampai jatuh ke dalam ketidakpercayaan murid-murid yang seperti itu.

Gereja Korintus ada di dalam bahaya menyia-nyiakan kasih karunia Allah. Mereka ada dalam bahaya mengabaikan nasihat Paulus dan dibingungkan oleh rupa-rupa pengajaran yang lain. Mereka didorong untuk tidak menunda-nunda kesempatan untuk membiatkan Kristus masuk di dalam kehidupan mereka. Seperti Paulus selalu mempertimbangkan setiap perilaku hidupnya sebagai kesempatan untuk memberitakan Kristus, kitapun diajak untuk melakukan hal serupa. Jangan sampai perilaku kita menjadi batu sandungan bagi yang lain sehingga mereka menolak Kristus. Saat dipenjara, Paulus menggunakan kesempatan itu untuk memberitakan Kristus. Situasi yang buruk bagi orang kebanyakan, bagi Paulus merupakan kesempatan dan sarana untuk menyatakan kebaikan Allah. Apa yang kita lakukan dalam saat tersulit kehidupan, memperlihatkan bagaimana iman kita yang sebenarnya. Paulus tidak mudah terpengaruh keadaan yang berat atau desakan yang buruk dari orang-orang disekitarnya. Paulus tidak mengkompromikan standar hidupnya sebagai pengikut Kristus dengan serampangan (2 Kor. 6:1-13).

Kehidupan beriman kadang dapat mengalami keadaan seperti di dalam badai juga. Sebagai pengikut Kristus kita harus bersiap untuk mengadapi badai yang datang. Jangan menjadi tertekan, namun tetaplah tenang. Dalam ketenangan hati dan iman kita dapat berdoa dan percaya bahwa Allah tetap memegang kendali. Dalam kendali Allah yang penuh kasih karunia, kita dimampukan untuk mengambil tindakan yang bijaksana. Kita tidak menjadi reaktif dengan menunjukkan emosi negatif, tetapi tetap memiliki pikiran yang positif dan jernih. Dalam badai hidup, selagi Yesus menjadi pegangan hidup, kita dimampukan untuk melihat kesempatan untuk belajar menumbuhkan iman dan menantikan pertolongan Allah yang tepat pada waktu-Nya, bukan?

Pertanyaan Aplikasi:
  • Dengan kehadiran masalah, orang dapat belajar banyak hal. Setujukah Saudara dengan pernyataan ini? Mengapa?
  • Bagaimanakah Saudara mengenali kehadiran Allah dalam masalah-masalah hidup Saudara?
  • Jika saat ini Saudara sedang mengalami badai hidup, apa yang seharusnya Saudara lakukan?
Comments