Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 24 Maret 2013

diposting pada tanggal 5 Apr 2013 09.29 oleh Essy Eisen
"Ketaatan Untuk Menderita"

Yesaya 50:4-9; Mazmur 118:1-2, 9-29; Filipi 2:5-11, Lukas 19:28-40

Bayangkan kita ada di tengah banyak orang yang menyambut kedatangan Yesus memasuki Yerusalem. Lalu kita mendengar orang-orang meneriakkan: “Diberkatilah Dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan, damai di sorga dan kemuliaan di tempat yang mahatinggi”, sambil melambai-lambaikan daun palem. Sebagian dari mereka bahkan membuka baju dan menghamparkannya di jalan sebagai alas, seperti karpet merah yang dipakai untuk menyambut orang penting. Melihat semua yang terjadi, apa yang kita pikirkan tentang Yesus yang dielu-elukan itu?

Bila kita belum pernah mendengar kisah tentang Yesus, barangkali yang segera terpikir bahwa yang dielu-elukan itu pastilah seorang yang istimewa. Bahkan kita mungkin menduga yang sedang disambut ini adalah seorang Raja berkuasa, gagah perkasa dan berwibawa (Lukas 19:28).Dugaan ini tentu ada benarnya. Terutama bila kita lihat Lukas 19:37 yang mengatakan alasan orang banyak mengelu-elukan Yesus adalah “karena segala mujizat yang telah mereka lihat”. Orang banyak menganggap Yesus sebagai orang penting karena Yesus melakukan banyak hal ajaib.

Namun mengenal Yesus semata-mata dari sisi melakukan mujizat saja belumlah memberi gambaran lengkap tentang siapa Yesus.. Dalam Filipi 2:5-8 dikatakan: “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.

Dalam suratnya kepada jemaat di Filipi ini Rasul Paulus memberi gambaran yang lebih utuh tentang Yesus. Bagi Rasul Paulus, Yesus adalah seorang Hamba yang taat sampai mati di kayu salib. Ketaatan yang disertai kerelaan untuk menanggungkan penderitaan dalam Yesaya 50:4-6 digambarkan sebagai ketaatan seorang murid atau seorang pengikut. Penderitaan yang dialami digambarkan meliputi penderitaan fisik (memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku) dan penghinaan (dan pipiku kepada orang yang mencabut janggutku....dinodai dan diludahi.

Ketaatan yang digambarkan dalam Filipi 2: 5-11 dan Yesaya 50:4-9 adalah ketatan yang dilakukan secara sukarela. Bukan ketaatan yang didasari rasa takut akan hukuman yang akan diterima bila tidak taat. Bukan pula ketaatan yang dilakukan bila ada yang mengawasi. Ketataan yang dilakukan seorang hamba dan seorang murid adalah ketaatan sukarela yang terbit dari cinta dan kesadaran bahwa apa yang dilakukan itu adalah hal yang seharusnya dilakukan. Ketaatan seperti inilah yang memungkinkan seorang murid mampu menanggung penderitaan yang sebetulnya tidak dikehendakinya.

Penderitaan yang hadir di dalam ketaatan itu merupakan konsekuensi jalan cinta yang menolak kekerasan yang ditempuh Yesus. Hal ini tergambar dalam cara Yesus memasuki Yerusalem dengan mengendarai keledai yang biasa dipakai dalam suasana damai, dan bukan menunggang kuda yang biasa dipakai untuk berperang (Lukas 19:28-40). Yesus memilih untuk taat kepada kehendak Bapa-Nya dan menolak jalan kekerasan. Yesus memberi teladan bahwa ketaatan sejati berarti juga ketaatan untuk menderita.


Pertanyaan aplikasi:
  1. Yesus seperti apakah yang anda kenal dan sambut selama ini dalam hidup anda? Yesus sebagai tokoh pembuat mujizat atau seorang hamba yang taat sampai mati?

  2. Apa yang mendasari ketaatan anda dalam menjalankan berbagai hal?

(Bpk. Mathyas Simanungkalit, S.Si. (Teol.))
Comments