Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 24 November 2013

diposting pada tanggal 21 Nov 2013 01.38 oleh Admin Situs   [ diperbarui21 Nov 2013 01.46 ]
Yesus Kristus, Raja Surgawi Sejati

Yesaya 23:1-6, Mazmur 46, Kolose 1:9-20, Lukas 23:33-43

Minggu ini adalah minggu terakhir tahun liturgi gerejawi kita. Minggu ini disebut juga dengan Minggu Kristus Raja. Apa artinya? Artinya kita menghayati, mengenangkan dan menghidupi kenyataan, sebagaimana Tuhan Yesus Kristus menghadirkan karya-Nya untuk memperjuangkan keadilan, kedamaian, kasih terhadap sesama ciptaan Allah, maka sebagai pengikut-Nya kita akan dipimpin Allah untuk berproses sampai tiba pada keadaan yang baik itu, bahkan ikut serta memperjuangkannya pula.

Pada zaman nabi Yeremia (Yer. 23:1-6), umat Allah hidup sengsara karena ketidakadilan dan ketidakbenaran merajalela. Oleh sebab itu nabi menyuarakan seruan kerasnya kepada para Raja Yehuda yang bekarya semaunya. Bahkan pemimpin umat menjalin aliansi dengan kerajaan-kerajaan yang bereputasi haus kuasa dan tidak mempedulikan kemanusiaan. Mereka dipenuhi dengan ambisi militer semata tanpa mempedulikan kebutuhan umat. Kebobrokan kepemimpinan itu ditambah lagi dengan keculasan para pemimpin agama yang membuai umat dengan nubuatan palsu yang mengatakan bahwa kebijakan yang diambil Raja-Raja Yehuda itu tidak akan menghasilkan kehancuran. Yeremia mengingatkan bahwa ambisi jahat itu akan menghancurkan umat dan mereka akan dibuang ke Babel. Namun nabi Yeremia bukan hanya memberikan peringatan kehancuran. Ia juga memberitakan pengharapan. Allah akan bertindak. Akan ada pemimpin baru yang bijaksana dan serius dalam melaksanakan kebenaran dan keadilan, yang peduli kepada kebutuhan publik ketimbang sekadar mementingkan kuasa semata. Pada saat itu umat akan menikmati damai sejahtera yang sempurna. Kita tahu dan kita imani, bahwa Sang tunas Daud yang dimaksudkan Yeremia itu, ialah Yesus Kristus.

Lukas menuliskan kisah penyaliban Yesus (Luk 23.33-43). Dalam adegan ini jelas terlihat bahwa Yesus tengah bertindak sebagai pemimpin sejati! Dalam kesengsaraan fisik dan cemoohan prajurit dan para pemimpin agama, juga seorang penjahat yang disalib bersama-Nya, Yesus mengampuni para penyalib-Nya dan menjanjikan kedamaian Firdaus bagi seorang penjahat yang bertobat. Meskipun menurut ukuran dunia saat itu, Yesus “tidak berkuasa”, sebab ukuran dunia acapkali tentang berkuasa itu ialah yang memiliki kuasa dominasi, tetapi Yesus memiliki kuasa yang lebih dari hal-hal itu. Ia memiliki kuasa anugerah, kuasa pengampunan dan pembaruan relasi dalam hidup yang akan menghasilkan kemungkinan-kemungkinan baru yang menghidupkan dalam hidup. Yesus ialah Raja yang bertakhta di salib untuk menunjukkan kuasa-Nya yang menolak kekerasan untuk menunjukkan kasih ilahi. Bahkan pada saat-Nya, Yesus bangkit dalam kuasa kasih ilahi untuk kemudian mengundang banyak orang menikmati kuasa pembaruan hidup yang disediakan-Nya.

Jadi, perayaan Kristus Raja tidak boleh dihayati berujung pada keangkuhan, tetapi justru gereja Tuhan terus belajar untuk lebih dalam lagi memahami apa artinya hidup di dalam iman. Sebagai pengikut Kristus kita diproses terus untuk menghidupi kuasa kasih yang “mengajak”. Saat gereja Tuhan menghidupi dengan sungguh tindakan keadilan, kedamaian dan kerjasama mutual yang berangkat dari kasih yang tulus, maka dunia akan mengalami dengan sungguh apa artinya “Kristus menjadi Raja”.

Bukankah demikian juga yang menjadi nasihat kepada Jemaat Kolose (Kol. 1:9-20)? Kita telah berpindah dari kerajaan kegelapan kepada kerajaan Anak-Nya yang kekasih. Dari kuasa dominasi dan korupsi kepada penebusan dan pengampunan dosa. Kita dipanggil untuk menjadi pelayan pendamai dengan sabar dan tekun. Kita percaya bahwa Kristus, Raja kita, selalu mengaruniakan kekuatan yang kita butuhkan untuk melakukannya.

(Pdt. Essy Eisen)
Comments