Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 25 Agustus 2013

diposting pada tanggal 17 Sep 2013 23.04 oleh Essy Eisen
Ulang tahun: Semangat melakukan pembebasan

Yesaya 58:9-14; Mazmur 103:1-8; Ibrani 12:18-29; Lukas 13:10-17

Peristiwa ulang tahun sering menjadi momen seseorang untuk membuat resolusi hidup. Istilah resolusi terkait dengan harapan atau komitmen yang ingin dilakukan oleh orang tersebut. Resolusi ini kemudian dilakukan sepanjang kehidupannya. Resolusi biasanya merupakan titik dimana orang berusaha membebaskan dirinya dari hal yang kurang baik untuk menuju kepada hal yang lebih baik.

Lukas 13:10-17, menyatakan kepada kita bagaimana Yesus menjadikan Sabat sebagai hari pembebasan yang berujung pada tindakan memuliakan Allah. Ada perempuan yang dirasuk roh selama 18 tahun, yang menyebabkan punggungnya sakit sehingga ia tidak lagi bisa berdiri tegak. Dirasuk oleh roh (ayat 16) diberi penjelasan sebagai keadaan diikat oleh iblis. Tindakan penyembuhan Yesus adalah tindakan melepaskan si perempuan dari ikatan tersebut. Kesembuhan perempuan tersebut membuat ia kemudian memuliakan Allah.

Hadirnya tokoh perempuan yang sakit dan disembuhkan oleh Yesus menjelaskan keberpihakan Yesus sebagai Tuhan terhadap mereka yang tertindas. Perempuan bagi orang Israel merupakan warga kelas dua, yang tidak mendapat hak dibandingkan laki-laki.

Luk. 13:15-16, Tuhan Yesus memberi jawaban, yaitu: "Hai orang-orang munafik, bukankah setiap orang di antaramu melepaskan lembunya atau keledainya pada hari Sabat dari kandangnya dan membawanya ke tempat minuman? Bukankah perempuan ini, yang sudah delapan belas tahun diikat oleh Iblis, harus dilepaskan dari ikatannya itu, karena ia adalah keturunan Abraham?" Orang-orang Farisi dan ahli Taurat pada zaman itu mempunyai kebiasaan untuk melepaskan hewan peliharaannya mereka pada hari Sabat, tetapi mereka waktu itu melarang Tuhan Yesus melepaskan penderitaan seorang wanita pada hari Sabat. Dengan pola berpikir yang serba legalistis dan dangkal dapat membuat seseorang memiliki anggapan bahwa “hewan peliharaannya” atau harta miliknya lebih penting dan lebih berharga dari pada keselamatan dan kebahagiaan sesamanya. Mereka melupakan bahwa wanita tersebut sama seperti mereka, yaitu keturunan Abraham. Mereka mengingkari jika perempuan itu berhak untuk mendapatkan hidup yang sama, sebab dia termasuk dalam komunitas Israel.

Selaku gereja Tuhan, kita dipanggil untuk membebaskan sesama dari “kebongkokan spiritualitas”. Tetapi kita sering bersikap seperti kepala rumah ibadat yang mencegah Allah untuk membebaskan sesama yang terbelenggu oleh “kebongkokkan rohani”. Secara tidak sadar kita sering mencegah Allah untuk melakukan pemulihan dalam momen-momen liturgis yang dianggap sakral. Karena itu peristiwa ibadah Minggu, sakramen baptis dan perjamuan kudus, dan hari-hari raya gerejawi sering dilepaskan dari nilai harkat dan kemanusiaan kita. Kita begitu mementingkan liturgi dan peraturannya tetapi mengabaikan umat yang menjadi pelaku dalam seluruh liturgi tersebut. Itu sebabnya kita sering mengabaikan unsur yang hakiki, apakah umat yang terlibat dalam seluruh rangkaian liturgi tersebut telah mengalami pemulihan dan pembebasan dari “kebongkokan rohani”. Di lain pihak, umat juga sering memiliki sikap yang sama, yaitu mereka merasa telah benar di hadapan Allah asalkan telah melaksanakan ibadat tanpa mempertimbangkan apakah ibadat tersebut telah membawa perubahan dan pembaharuan dalam kehidupan pribadinya dengan sesama di sekitarnya. Kondisi “kebongkokan rohani” secara esensial sangatlah berbahaya. Seorang yang bongkok secara rohani akan menjadi picik dan tidak mampu berpikir luas menurut ukuran Kristus. Mereka mengukur segala sesuatu dari keterbatasan perspektifnya. Dengan sikap yang demikian, mereka tidak akan mampu untuk bersandar kepada Kristus yang tak tergoncangkan. Sebab perspektif yang bongkok akan mendorong seseorang untuk merendahkan atau “membongkokkan” harkat orang lain sehingga melumpuhkan daya perspektif sesama untuk melihat keagungan dan kuasa Allah yang tak tergoncangkan. Dengan kata lain, pemulihan dari “kebongkokan rohani” akan memampukan seseorang untuk juga membuka dan memberdayakan sesama dari “kebongkokan rohani”, sehingga mereka bersama-sama mampu berinteraksi dalam kasih dan memuliakan Allah.

Gustavo Gutierrez, seorang tokoh pembebasan dari Amerika Latin, dalam bukunya yang berjudul “A Theology of Liberation” mengatakan “Gereja tidak dapat menjadi nabi pada zaman ini bila dia sendiri tidak berpaling kepada Kristus.” Kalimat ini menegaskan bahwa panggilan gereja adalah untuk mewujudkan misi Allah yakni membebaskan mereka yang tertindas.

Jika demikian seluruh jemaat GKI kini dipanggil untuk senantiasa konsisten dalam memberlakukan kasih dan keadilan dengan membela setiap orang yang tertindas dan lemah tanpa mempedulikan latar-belakang suku, etnis dan agama. Sehingga melalui pelayanan jemaat GKI, kita dimampukan untuk membebaskan sesama yang mengalami “kebongkokan rohani” dan membawa setiap orang untuk bersandar kepada Kristus yang tak tergoncangkan. Jika panggilan ini dapat terwujud maka kita dapat menjadi jemaat yang membawa rahmat Allah dan pembebas bagi sesama kita. Bagaimanakah sikap keputusan saudara untuk merespon HUT penyatuan GKI ke-25? Mari kita meresponnya dengan sikap setia dan komitmen iman yang mantap sebagai para pelayan Kristus, yaitu untuk berjuang menghadirkan karya kasih Allah di atas muka bumi ini. Amin.


(Noerman Sasono, S.Si. (Teol.))
Comments