Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 25 Nopember 2012

diposting pada tanggal 24 Nov 2012 08.57 oleh Essy Eisen
Mari Ikut Kristus, Pemimpin yang Melayani 
Daniel 7:9-10, 13-14, Mazmur 93, Wahyu 1:4b-8, Yohanes 18:33-37 

Sebagai pengikut Kristus kita mengakui dan menerima Yesus Kristus sebagai Raja di atas segala raja. Kristus menjadi “pemimpin” dalam kehidupan kita. Sebagai pemimpin Ia mengarahkan dan meneledankan prinsip-prinsip serta jalan kehidupan yang harus diikuti dengan tulus oleh kita yang mengasihi-Nya. Tidak akan rugi mengikuti jalan yang diteladankan Kristus. Sebab ujung dari jalan itu mengarah kepada kehidupan yang penuh damai sejahtera Allah.

Sebagai pemimpin, cara Kristus pemimpin berbeda dengan kepemimpinan pada umumnya. Kepemimpinan Kristus dilakukan dalam bentuk pelayanan kepada sesama manusia. Jika kepemimpinan pada umumnya lebih mengedepankan kuasa dan perintah, Kristus justru rela menempuh jalan sengsara dan derita supaya setiap orang dapat mengalami kebaikan Allah melalui tindakan kasih-Nya.

Perhatikanlah perbedaan Pilatus, yang pada zaman Yesus memimpin wilayah Yudea, dengan Kristus yang menjadi pemimpin alam semesta dalam percakapan pada saat Yesus diadili. Walaupun Pilatus tidak mendapati kesalahan dalam diri Yesus, tetapi karena ia lebih mencoba mencari simpati dan dukungan ketimbang memperjuangkan apa yang benar, ia mengabaikan kebenaran. Sebagai orang yang diberikan kepercayaan untuk mengambil kebijakan bagi orang lain, Pilatus memandang remeh kepercayaan itu dengan membiarkan orang lain mengambil keputusan yang sebenarnya harus diambilnya sendiri.

Perhatikanlah juga kepemimpinan para alim ulama yang membawa dan menyerahkan Yesus untuk diadili oleh Imam Besar dan oleh pemerintahan Romawi yang pada waktu itu menjadi penjajah daerah itu. Karena ketidaksukaan mereka untuk diajar dan dinasihati oleh Kristus yang membawa pembaruan kehidupan spiritual, mereka memilih untuk “membinasakan” Kristus dan menggunakan tangan orang lain untuk melakukan kejahatan yang keji. Parahnya, mereka lebih memilih untuk mendapatkan seorang penyamun, ketimbang Juruselamat yang akan membawa mereka kepada relasi yang sejati dengan Allah.

Lalu mengapa Tuhan Yesus Kristus memilih untuk “pasif” saja diperlakukan seperti itu? Tidakah seharusnya sebagai Raja di atas segala raja, Ia bertindak tegas dan keras akan kejahatan yang menimpa diri-Nya itu? Pada keadaan inilah kita melihat keagungan kepemimpinan Kristus. Bagi-Nya, jika kekerasan hanya dilawan dengan kekerasan, dunia tidak akan pernah berubah. Kristus mengalami peradilan yang tidak adil oleh dunia, sebab Ia mengamini keadilan dan kebenaran yang lebih sejati yang sedang dikerjakan Allah bagi dunia. Kristus sedang meneladankan kepemimpinan diri yang benar kepada kita bahwa sejatinya Allah-lah yang mengarahkan tindakan hidup, dan tindakan Allah bukanlah menghukum, tetapi menyelamatkan.

Jika karena melakukan yang baik dan benar lalu mendapatkan kesusahan, itu tidak masalah bagi Yesus, sebab demikianlah cara Kerajaan Allah memperbarui dunia ini. Kristus memilih cara kasih untuk menunjukkan sikap-Nya. Bukankah pada akhirnya terlihat jelas sekarang ini bahwa pada akhirnya cara Kristus itu adalah cara yang membawa kepada kemenangan? Egoisme para pemimpin lalim itu hanya tinggal sejarah kelam yang menjadi cibiran. Tetapi Kristus, karena kesetiaan-Nya dalam mengasihi dimuliakan oleh banyak bangsa sampai sekarang.

Minggu ini menjadi momen akhir tahun gerejawi sebelum kita memasuki tahun gerejawi yang baru pada masa Adven. Dalam perziarahan iman kita untuk terus mengingat karya Kristus, pada minggu ini kita diajak untuk mengakui Kristus sebagai pemimpin hidup, sebagai Raja hidup kita! Mari ikuti cara Kristus memimpin. Pimpinlah diri kita, pimpinlah orang lain, dengan cara melayani, berangkat dari kasih dan bukan karena amarah atau pementingan diri sendiri.

(Pdt. Essy Eisen)
Comments