Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta, 25 September 2011

diposting pada tanggal 27 Sep 2011 09.28 oleh Essy Eisen
Sudah Harmoniskah Keluargaku?

Kejadian 2:21-25, Mazmur 127:1-5, Kolose 3:18-20, Lukas 8:16-18

Sedari awal Allah sudah merancangkan bahwa keluarga itu berangkat dari pribadi dengan karakter yang unik. Tetapi perbedaan tidak menjadi alasan untuk bertengkar, sebaliknya, dua pribadi itu menjadi satu dalam ikatan kasih untuk saling menolong dan mendukung satu sama lain (Kej 2:21-25). Hakikat keluarga yang sejati dibangun oleh Allah sendiri. Di dalamnya ada keyakinan yang teguh bahwa Allah memberikan kepada keluarga yang setia kepada-Nya sebuah pemeliharan yang sempurna, melengkapi segala usaha umat-Nya untuk mendapatkan apa yang baik (Mzm 121:1-2). Kehadiran anak atau anak-anak, saudara-saudara dan sahabat-sahabat dekat yang dianggap seperti keluarga sendiri di dalam kehidupan keluarga atau rumah tangga adalah “pusaka” dari Allah (Mzm 127:3-5). Masing-masing anggota keluarga memiliki peran yang penting dan tidak boleh dipandang rendah oleh anggota keluarga yang lain. Jika masalah datang menghampiri, satu sama lain harus saling topang menopang menghadapi tantangan itu bersama-sama.

Tuhan Yesus yang adalah Terang Dunia, harus hadir dalam kehidupan keluarga sebagai Tamu yang tetap. Saat sinar kebenaran dari Kristus menyinari hidup, menjadi tugas kita untuk memancarkan cahaya sinar kasih-Nya itu kepada orang lain di sekitar kita. Kesaksian melalui kata-kata dan tindakan mengenai kasih Kristus harus ditegaskan dengan nyata dan tidak boleh ditutup-tutupi. Di zaman modern di mana media informasi membanjiri kita dan dapat saja mempengaruhi nilai-nilai kehidupan iman, maka kesaksian iman di tengah keluarga tidak boleh redup, tetapi harus semakin kentara. Menjadi tugas orangtua untuk memberikan keteladanan kepada yang lebih muda untuk melatih diri melatih dan menerapkan kebenaran Firman Tuhan. Seperti otot yang dilatih akan menghasilkan otot yang kuat dan sehat, begitu juga latihan rohani berupa pemberlakuan nilai-nilai Firman Tuhan dalam kehidupan (Luk 8:16-18)

Latihan rohani itu harus diterapkan di tengah-tengah situasi kehidupan nyata di mana kita paling banyak menghabiskan waktu kita. yaitu di keluarga dan di tempat kerja. Rasul Paulus memberikan perangkat peraturan berkaitan dengan relasi dalam kehidupan rumah tangga dan tempat kerja terkait dengan relasi antara: (1) suami dan isteri, (2) orang tua dan anak-anak, dan (3) Tuan dan hamba. Dalam setiap bagian ada tanggungjawab yang saling menguntungkan (mutual) untuk memberi perhatian dan diri yang utuh berlandaskan kasih; untuk taat dan memberikan dukungan; untuk bekerja keras dan adil. Nasihat Paulus ini dapat kita gunakan untuk menelisik relasi dalam kehidupan keluarga dan pekerjaan kita. Apakah kita berelasi dengan orang lain sebagaimana yang diharapkan oleh Allah? Lihat juga Efesus 5:21–6:9 berkaitan dengan instruksi sejenis.

Sudah harmoniskah keluargaku? Ini merupakan pertanyaan serius yang harus dijawab dengan jujur dan bertanggungjawab. Berangkat dari Firman-Nya sebagaimana sudah disinggung di atas, untuk menjawab pertanyaan itu, tidak lain kita harus mulai bertindak. Setidaknya ada daftar pertanyaan praktis yang dapat dibuat terkait dengan hal ini yaitu:

  • Apakah kita menyadari bahwa orang yang ada di sekitar kehidupan kita itu adalah orang yang tempatkan oleh Allah sendiri? Oleh sebab itu kita sungguh-sungguh menghargainya dan menerimanya di dalam suka dan duka?
  • Apakah kesaksian iman kita sudah nyata di tengah keluarga kita atau kita lebih banyak menuntut untuk menerima ketimbang memberikan kasih yang tulus?
  • Apakah kita mau bekerjasama dalam keragaman peran di tengah keluarga dan di tempat kerja, sehingga latihan rohani kita semakin hari semakin membawa kita kepada kesehatan dan kedewasaan iman?
Mari berjalan bersama Allah untuk mempersilahkan Dia berkarya bersama dan melalui kita untuk menjadikan keluarga dan relasi kita dengan sesama, harmonis.

(Pdt. Essy Eisen)
Comments