Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta, 26 Juni 2011

diposting pada tanggal 7 Jul 2011 11.20 oleh Essy Eisen   [ diperbarui7 Jul 2011 11.26 ]
Menjadi Milik Kristus untuk Menyambut & Menyuarakan Suara Kenabian

Yeremia 28:5-9, Mazmur 89:2-5; 16-19, Roma 6:12-23, Matius 10:40-42

Dalam banyak kisah di Kitab Suci kita, Para Nabi dipanggil dan diutus Allah untuk memberitakan peringatan-peringatan kepada Raja-Raja, Imam-Imam, dan seluruh umat Allah jikalau mereka menjalankan kehidupan yang tidak berkenan kepada Allah. Tidak sedikit berita atau suara kenabian itu tegas dan pedas, masuk kepada inti masalah umat. Biasanya juga teguran itu diikuti dengan berita didikan Allah kepada umat, berupa masa-masa berat yang harus dijalani oleh umat karena mereka mengabaikan kehendak Allah.

Saat Israel dikuasai Babel (597 SM), Raja Yekhonya yang kemudian digantikan pamannya Zedekia bersama dengan orang-orang penting Israel di bawa ke Babel. Perkakas bait Yerusalem, juga diangkut ke sana. Di tengah hiruk-pikuk itu, seorang nabi yang bernama Hananya menyuarakan berita optimisme bahwa kesusahan itu tidak akan berlangsung lama. Nabi Yeremia, tidak sepaham dengan berita itu. Bagi Yeremia, itu memang harapan yang baik, tetapi Allah memiliki rencana yang melampaui optimisme sempit itu. Yeremia masih dapat melihat bahwa pembuangan ke Babel merupakan bagian dari rencana Allah dalam tujuan jangka panjang-Nya. Begitulah suara kenabian. Tidak hanya menyuarakan yang enak-enak didengar dan dipahami saja, tetapi berani menukik ke dalam kenyataan hidup sambil mencari terus kehendak dan maksud Allah di baliknya.

Bagi Paulus (Rm 6:12-23), orang Kristen ialah orang yang tidak lagi diperbudak dosa, tetapi orang yang karena kasih karunia Allah di dalam Kristus, kini menjadi hamba kebenaran, hamba Allah. Dengan status baru ini, orang Kristen dimampukan untuk mengutamakan Kristus saat menghadapi pilihan kehidupan yang menggoda iman. Seperti halnya seorang nabi berani memperjuangkan suara Allah, demikian juga kehidupan orang Kristen terarah menjadi senjata-senjara kebenaran yang memperjuangkan kedamaian dan keadilan.

Bukan saja didorong untuk menyuarakan suara kenabian, orang Kristen juga diajarkan oleh Tuhan Yesus untuk menyambut suara kenabian. Yesus berkata “Barangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi, dan barangsiapa menyambut seorang benar sebagai orang benar, ia akan menerima upah orang benar.” (Mat 10:41) Sambutan di sini dapat berarti sambutan lahiriah, saat seseorang memberikan bantuan kepada hamba-hamba Tuhan. Tetapi juga yang tidak kalah penting, sambutan di sini berarti “sambutan hati” yang menerima teguran dan didikan yang membangun. Telinga terbuka lebar untuk dinasihati, hati dan pikirkan dilapangkan untuk menerima hal yang tegas dan keras sekalipun, saat itu merupakan peringatan akan status diri sebagai milik Kristus dan bukan milik Dosa.

Di kehidupan kita, entah di rumah, tempat kerja, gereja, sekolah, kampus, di jalan, kala menyimak ketidakbenaran di depan mata, apakah kita mau menyuarakan “suara kenabian”, yaitu suara Allah melalui suara kita? Sadarkah kita bahwa kita adalah milik Kristus yang bukan lagi budak dosa? Apakah kita mau diarahkan, ditegur, dinasihati oleh firman Tuhan dan diajar oleh orang-orang yang mengasihi kita? Apa bentuk sambutan kita terhadap orang-orang yang seperti “nabi” itu? Bersediakah kita mencari kehendak dan wajah Allah dalam setiap kesusahan hidup kita?

(Pdt. Essy Eisen)
Comments