Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta, 27 Maret 2011

diposting pada tanggal 24 Mar 2011 17.24 oleh Essy Eisen
Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa


Kel 17: 1-7; Mzm 95; Roma 5: 1-11; Yoh 4: 1-42


Berpuasa, berdoa berjam-jam, mengaku dosa, dan pergi berziarah, bahkan sampai berjalan dengan lutut menaiki tangga Basilika St Petrus di Roma. Demi apa? Demi mendapat pengampunan dosa. Begitulah kehidupan Martin Luther selama dia menjadi biarawan lima abad yang lalu. Dia belum bisa menerima bahwa Yesus Kristus mati demi orang-orang berdosa seperti dirinya dan diri kita semua. Dia ingin menghukum diri dengan ibadah yang lebih banyak, penyangkalan diri yang lebih hebat dan bahkan menyiksa diri secara fisik. Mungkin dia tidak sendirian. Banyak juga orang Protestan sekarang yang tetap merasa dirinya tak layak menerima pengampunan Tuhan dan ingin menghukum diri setiap kali merasa berdosa.

Tidak bisa menerima diri sendiri telah diampuni dosanya juga bisa berujung pada ketidakmampuan menerima pengampunan dosa bagi orang lain. Ada orang-orang tertentu yang tidak senang kalau seorang “pendosa” masuk ke gereja. Orang-orang yang kelihatan baik saja yang layak masuk gereja, sedangkan mereka yang lebih kentara dosanya jangan sampai menginjakkan kaki ke gereja, lupa bahwa semua orang sesungguhnya telah berdosa (Rm 3: 11).

Begitu juga pandangan orang-orang yang hidup pada zaman Yesus. Mereka membenci semua orang yang dicap berdosa. Perempuan Samaria yang ditemui Yesus di tepi sumur cocok dengan deskripsi orang berdosa. Dia bukan perempuan baik-baik yang membesarkan keluarga dengan satu suami. Dia punya banyak suami dan bahkan saat itu hidup dengan pria lain tanpa ikatan pernikahan (Yoh 4: 1-42). Bagi banyak orang saat itu, perempuan semacam itu hanya setengah manusia, tidak layak diterima dalam masyarakat. Oleh karena itu, dia terpaksa pergi ke sumur di tengah hari, ketika semua orang sudah selesai mengambil air dari sumur. Namun, Yesus melakukan yang sebaliknya. Ia mengajak perempuan itu bercakap-cakap dan bahkan menerimanya sebagai sesama manusia, bukan sebagai setengah manusia. Ini bahkan mengejutkan murid-muridNya sendiri.

Sesungguhnya, ini bukan tindakan aneh sama sekali. Ketika umat Israel memberontak dan bersungut-sungut, Allah tidak mengeluh dan menghukum umatNya (Kel 17: 1-7). Dia menolong mereka keluar dari masalah mereka. Allah mengasihi umatNya bahkan ketika mereka berdosa. Yesus Kristus mencontoh teladan Allah BapaNya.

Bukankah ini kabar baik? Saya dan saudara-saudara diterima oleh Allah. Kita tidak perlu hidup dalam penyesalan dan penghukuman diri. Allah menerima diri kita sebagaimana adanya. Kita juga tak perlu menghakimi orang lain karena dosa-dosa mereka, karena Allah juga ingin menerima mereka dalam anugerahNya melalui Yesus Kristus. Sudah selayaknya kita berbagi kabar baik ini dengan sebanyak mungkin orang, seperti yang dilakukan oleh Perempuan Samaria di Injil Yohanes.

Apakah ini kemudian berarti kita boleh memuaskan diri dalam dosa? Toh kita sudah diterima Allah. Dalam Mzm 95 dicatat bahwa Allah tidak selamanya membiarkan umat Israel berlaku sesukanya. Pada akhirnya mereka tidak masuk ke Tanah Perjanjian. Anak-cucu merekalah yang akhirnya bisa masuk ke Kanaan. Dosa-dosa kita barangkali sudah dihapuskan, tapi jangan lupa konsekuensi dari dosa yang kita lakukan pada akhirnya membawa buah yang tidak menyenangkan. Adalah bijak kalau kita sungguh-sungguh bertobat, menerima anugerah pengampunan dosa Allah dan sungguh-sungguh berbalik dari dosa kita. Liturgi lama GKI menyampaikan pesan ini dengan baik. Berita Anugerah disambung dengan segera oleh Petunjuk Hidup Baru. Memang demikianlah kehidupan Kristiani, kita menerima anugerah Allah untuk memulai suatu kehidupan yang baru. Inilah yang dimaksudkan oleh Injil Yohanes dengan “menyembah dalam Roh dan kebenaran.” Dalam Roh, bukan dalam keinginan daging, dan dalam kebenaran, bukan dalam kejahatan dosa. Maukah kita, dalam masa Pra-Paskah ini, mengikuti kehendak Roh dan hidup dalam kebenaran? Ingatlah, “Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” Marilah kita hidup untuk Kristus, dalam Roh dan kebenaran.

Agustian N. Sutrisno

Sumber gambar: http://www.sundayschoollessons.com/lent3mles.htm

Comments