Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 28 September 2014

diposkan pada tanggal 24 Sep 2014 18.25 oleh Admin Situs
Adakah Tuhan di tengah-tengah kita atau tidak?

(Keluaran 17:1-7, Mazmur 78:1-4, 12-16, Filipi 2:1-13, Matius 21:23-32)

Jika kita jeli untuk mencermati bacaan-bacaan Alkitab saban Minggu, maka sudah beberapa minggu ini pada bacaan-bacaan pertama, kita diajak melihat suka duka perjalanan bangsa Israel keluar dari Mesir yang kembali “pulang kampung” ke negeri Kanaan. Ada banyak yang dapat dipelajari untuk hidup kita sekarang ini saat menyimak perjalanan umat yang disayangi Allah ini. Sebab tidakkah hidup kita juga dapat diumpamakan seperti sebuah perjalanan yang di dalamnya iman kita diuji, entah untuk menjadi semakin bertumbuh atau malah menjadi kerdil dan berujung pada malapetaka dan kesusahan yang kita pilih sendiri?

Sebuah tempat yang bernama “Rafidim”, diganti namanya menjadi “Masa dan Meriba” oleh Musa (Masa dan Meriba adalah bahasa Ibrani yang artinya mencobai, mengomel). Pemberian nama baru dalam kisah-kisah Perjanjian Lama selalu menjadi semacam monumen yang penting. Sepertinya Musa ingin mengingatkan mereka dan generasi berikut bahwa: pernah terjadi, orang Israel bertengkar dengannya dan secara tidak langsung melalui sikap tinggi hati itu, mereka telah mencobai TUHAN dengan mengatakan: "Adakah TUHAN di tengah-tengah kita atau tidak?"

"Adakah Tuhan di tengah-tengah kita atau tidak?" Pertanyaan emosional ini keluar dari mulut orang-orang yang saat itu sedang haus berat karena diterpa teriknya hawa panas menyengat Padang Gurun. Biasanya memang begitu. Gara-gara kelemahan fisik, atau gara-gara haus kekuasaan, haus harta, haus kasih sayang, maka akal budi dan hati nurani tidak lagi bekerja dengan baik. Iman sepertinya lalu kalah oleh hawa nafsu yang bergelora untuk memuaskan kesenangan diri.

Jauh hari sesudah pengalaman Rafidim itu, Asaf, seorang penyanyi dan pemusik pada era Raja Daud menggubah Mazmur 78. Ini adalah sebuah nyanyian pengajaran. Pesannya supaya umat Tuhan belajar dari sejarah perjalanan iman para leluhurnya. Asaf bijaksana. Dalam nyanyiannya, secara positif ia mengajak umat untuk melihat bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya yang kesusahan. Pemeliharaan Allah sungguh ajaib! Walaupun ada begitu banyak kasus umat Israel itu begitu menjengkelkan, Allah tetap membimbing, mengajar, mengarahkan umat-Nya dengan kasih. Di Rafidim pun kita membaca, umat yang keras kepala itu pada akhirnya minum. Allah mengetahui apa yang mereka butuhkan. Dari bukit batu yang keras, keluar air yang segar. Tongkat Musa tidak diperintahkan Allah memukuli kepala orang-orang yang lambat bertumbuh dalam iman itu. Allah sungguh baik. Pertanyaan "Adakah TUHAN di tengah-tengah kita atau tidak?" dijawab Allah dengan tindakan pemeliharaan-Nya yang ajaib.

Tidak salah untuk mempertanyakan sesuatu yang penting terkait hidup kita kepada Allah. Ini acap kali dinamakan sebagai pergumulan iman. Bukankah setiap pertanyaan akan menolong kita untuk mencari jawab, untuk belajar, untuk bertumbuh menjadi lebih baik? Kita mungkin memiliki pertanyaan-pertanyaan seperti: “Mengapa Tuhan diam saja?”, “Di manakah pertolongan-Mu yang ajaib itu Tuhan?”, “Sampai kapan saya harus mengalami ini Tuhan?”, “Mengapa dia membuat saya mengalami kepahitan ini, Tuhan?”

Walaupun pertanyaan-pertanyaan itu tidak salah, tetapi hati-hati! Tanpa kita sadari, acap kali pertanyaan-pertanyaan itu dapat berubah menjadi gugatan-gugatan sepihak kepada Allah. Jika menjadi gugatan, kita telah memilih untuk menjadi orang yang tinggi hati, keras kepala dan tidak lagi terbuka pada kemungkinan-kemungkinan baru yang sebenarnya sedang Allah sediakan. Kita menjadi tidak bertumbuh dalam iman. Bisa-bisa kita malah menjadikan Allah sebagai objek pemuas keinginan kita dan bukan sebagai subjek yang kita hormati dan yang membimbing kita.

Bukankah pertanyaan-pertanyaan yang sehat kepada Allah sepantasnya berjiwa permohonan? Jika jiwanya permohonan, maka kita sedang memosisikan diri kita dengan kerendahan hati dan kesediaan untuk mau dibentuk oleh Allah. Bayangkanlah sebuah situasi saat seseorang yang lemah dan perlu ditolong malah menghardik dengan kasar penolong yang lebih kuat dan dengan sabar berkenan menolongnya. Sungguh tidak elok bukan? Jadi memang kita mesti hati-hati untuk tidak mengarahkan permohonan kita menjadi gugatan sepihak kepada Allah.

Simaklah pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi dalam Matius 21:23-28. Menurut anda apa yang menjadi jiwa dari pertanyaan mereka? Apakah anda menemukan sebuah pembenaran diri dan hasrat untuk berkuasa di balik pertanyaan mereka? Tuhan Yesus mengajar mereka yang keras hati itu dengan perumpamaan yang akhirnya menyadarkan tinggi hati mereka (Mat. 21:28-32).

Tepatlah nasihat Paulus kita simak juga terkait hal ini. Paulus menuliskan: “Hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, tanpa mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri;” (Flp. 2:2-3). Pada bagian selanjutnya Paulus memaparkan bahwa sikap rendah hati itu telah ditunjukkan Kristus Yesus, sebagai sebuah teladan bagi para pengikut-Nya. Kerendahan hati Kristus ditunjukkan dengan tindakan nyata, mati di kayu salib, berujung pada pemuliaan Allah!

Kerendahan hati! Itu kata kuncinya. Lalu pertanyaan untuk kita jawab sekarang ini: sewaktu mengalami krisis-krisis yang mungkin terjadi dalam hidup kita, sewaktu diri kita menjadi begitu penat karena terpaan terik masalah-masalah yang menyengat, apakah kita tetap rendah hati memohon pertolongan-Nya? Apakah kita tetap percaya kepada pemeliharaan-Nya yang ajaib? Apakah kita menyadari kehadiran-Nya di tengah-tengah hidup kita?

(Pdt. Essy Eisen)
Comments