Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 29 April 2012

diposkan pada tanggal 27 Apr 2012 03.04 oleh Essy Eisen   [ diperbarui27 Apr 2012 03.07 ]
Lebih Dari Sekedar Hebat

Kisah Para Rasul 4:5-12, Mazmur 23, 1 Yohanes 3:16-24, Yohanes 10:11-18


Dalam bahasa Yunani, ada dua kata yang digunakan untuk menggambarkan “baik” yaitu agathos, artinya "menggambarkan kualitas moral sesuatu”, dan kalos, artinya "sesuatu atau seseorang yang bukan hanya baik, tetapi di dalam kebaikannya ada kualitas kebijaksanaan, kasih, perhatian yang membuatnya menyenangkan bagi yang lain”.

Tuhan Yesus berkata “Akulah gembala yang baik” (Yoh. 10:11). “Baik” di sini adalah kalos. Kebaikan Tuhan Yesus bukan sekedar hebat dan mengaggumkan, tetapi ada kualitas yang lebih ketimbang kebaikan pada umumnya karena di baliknya ada kasih yang berkorban untuk kebaikan bagi yang lain.

Dengan menggunakan gambaran gembala yang merawat, memelihara dan menuntun domba-domba, Kristus mengajak kita untuk menyadari bagaimana kasih Allah itu sebenarnya. Daud pernah menggunakan penggambaran seperti ini juga (Mzm. 23). Gembala dan domba adalah gambaran yang tidak asing di Palestina. Secara sekilas jika dilihat dari luar, tidak ada perbedaan antara gembala yang baik dan jahat. Mereka sama-sama memiliki kulit yang gelap karena terbakar matahari, mereka memiliki tongkat, mereka memiliki keahlian mengurus domba. Tetapi Kristus mengajarkan, perbedaannya ada pada hati. Gembala yang baik memiliki “hati gembala”. Sedangkan gembala yang jahat, hanya memiliki “gaji gembala”. Dalam keadaan yang menyulitkan dirinya, gembala yang jahat memilih untuk menyelamatkan diri dan mengabaikan domba-domba yang ada dalam bahaya dan membutuhkan pertolongan.

Sungguh, menjadi kabar baik bagi kita bahwa: Pertama, Kristus, tidak pernah mengabaikan “domba-domba”-Nya. Ia memberikan diri untuk keselamatan domba-domba-Nya. Ia rela susah supaya orang lain beroleh kelepasan dari kesusahan (Yoh. 10:11-13).

Kedua, sebagai gembala yang baik, Kristus mengenal domba-domba-Nya. Kristus tidak mengenal kita sebagai angka-angka, Ia mengenal kita sebagai nama-nama, pribadi-pribadi, yang unik, yang memiliki kelebihan dan kekurangan, yang dikasihi dan diperhatikan-Nya (Yoh 10:14-15).

Ketiga, dalam pengenalan-Nya itu, “domba-domba”-Nya juga mengenal suara-Nya. Sebuah hubungan mutual yang indah bukan? Sebab dengan mengenal suara Sang Gembala yang baik, “domba-domba” senantiasa diarahkan untuk mendapatkan apa yang baik! (Yoh 10:10). Ini adalah kesempatan yang tidak boleh diabaikan oleh orang percaya, untuk tetap tekun dan setia mendengar suara Kristus melalui pemberitaan Firman maupun juga pembacaan Firman dalam saat teduh.

Keempat, karena gembala yang baik itu memiliki kasih yang berkorban, maka kasih-Nya tidak dibatasi oleh sekat-sekat yang dibangun oleh egoisme manusia. Kasih Kristus adalah kasih yang terbuka kepada banyak orang, apapun juga latarbelakangnya (Yoh. 10:16). Dunia hanya dapat diperbarui dengan kasih Allah. Di atas kayu salib, seruan-Nya bukan hanya “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Mrk. 15:34), tetapi juga "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." (Luk. 23:34). Kristus tidak hanya menangis karena kepedihan hati sendiri, tetapi juga selalu mengarahkan perhatiannya kepada orang lain, bahkan yang membenci-Nya.

Kelima, Kristus sebagai gembala yang baik kini juga memanggil murid-murid-Nya, seperti dahulu Ia memanggil Petrus, "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" (Yoh. 21:17). Jika sekarang ini kita bersedia menjawabnya dengan "Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Maka, Kristus pun berkata kepada kita sekarang ini "Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Dalam pembacaan kita hari ini, kita menemukan jawaban Petrus terhadap perintah Yesus itu (Kisahnya dicatat dalam Kis. 4:5-12).

Kini, sebagai “domba-domba” dari “Gembala yang baik” kita dipanggil untuk menggembalakan “domba-domba-Nya” juga (1 Yoh. 3:16-24). Siapa “domba-domba-Nya” itu? Mereka adalah orang-orang yang Tuhan tempatkan di sekitar kehidupan kita. Dalam panggilan itu kita percaya bahwa Kristus senantiasa akan memperlengkapi kita untuk bukan hanya menjadi orang yang hebat, tetapi juga baik.

Pertanyaan Aplikasi:
  • “Rela susah supaya orang lain beroleh kelepasan dari kesusahan.” Apakah kata-kata itu mewakili pribadi dan karakter Saudara saat ini?
  • Apa yang akan Saudara dapatkan jika bersedia mengenal dan mendengarkan suara/Firman Kristus? Apa yang tidak akan didapatkan?
  • Menurut Saudara apa perbedaan antara “orang hebat”, “orang baik” dan “orang hebat yang baik?”

(Pdt. Essy Eisen)

Comments