Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 29 Juni 2014

diposting pada tanggal 25 Jun 2014 01.50 oleh Admin Situs
“Secangkir Air Sejuk”

Kejadian 22:1-14, Mazmur 13, Roma 6:12-23, Matius 10:40-42

Kasih yang berkorban dan bukan mengorbankan
Kasih yang berasal dari sorga, menolak dengan tegas tindakan kekerasan yang mengorbankan sesama. Sebab, kasih tidak pernah mengorbankan. Kasih itu sejatinya berkorban. Kasih yang sejati selalu memberi dan bukan melulu ingin mendapatkan. Oleh sebab itu jelas sekali, di tengah bangsa-bangsa yang waktu itu dengan begitu mudahnya mengorbankan anak-anak demi mendapat berkah, Allah menyetop tindakan Abraham, sewaktu ia hendak menyembelih Ishak, darah dagingnya sendiri. Apakah di dalam hidup kita sekarang ini, pikiran dan hati kita mau dibanjiri oleh kasih yang berasal dari sorga itu? Kasih yang tidak pernah mengorbankan orang lain, tetapi berkorban demi orang lain.

Tuhan menyediakan pilihan-pilihan

Sebagi ciptaan-Nya, kita diberikan Allah akal budi, hati nurani dan hikmat suci dalam mengambil pilihan-pilihan hidup. Saat mengalami kesusahan dan seolah-olah menjumpai jalan buntu, dengan hikmat suci Allah akan menolong kita untuk menjumpai pilihan-pilihan lain yang dapat kita tempuh. Orang yang serius menghidupi imannya dengan sungguh, tidak cepat menilai keadaan sulit yang dihadapinya sebagai jalan buntu. Sebab dengan iman ia menyadari bahwa pertolongan Tuhan datang dalam bentuk yang tidak terduga. Abraham mengalami itu. Keterbukaannya kepada perintah dan bimbingan Allah, menolong dia untuk melihat seekor domba jantan yang diimaninya disediakan Allah, sebagai pengganti Ishak yang hendak dikorbankan olehnya. Apakah sekarang ini mata, telinga, pikiran dan hati kita cukup peka kepada Firman Allah, sehingga kita dimampukan-Nya menjumpai alternatif-alternatif pilihan yang dapat kita ambil saat sedang mengalami kesusahan?

Iman yang bertumbuh, berkembang dan berbuah
Dengan cara apakah iman dapat bertumbuh, berkembang dan berbuah? Dengan dihidupi dalam berbagai kondisi hidup nyata. Situasi yang menyenangkan dan menyakitkan hati, keberlimpahan dan kekurangan, sukacita dan duka cita, semuanya dapat menjadi sarana bagi pertumbuhan iman. Mengapa Abraham acap kali disebut sebagai bapa orang beriman? Karena di dalam berbagai peristiwa hidup yang ia hadapi, Abraham tidak pernah melepaskan pengharapannya kepada Allah. Abraham mau dituntun dan dibentuk Allah. Apakah dalam situasi hidup nyata iman kita teruji kebenarannya? Apakah kita berkenan untuk dibentuk dan diarahkan hikmat Firman Allah?

Allah hadir memberikan kelegaan
Pemazmur (Mzm 13:1) mempertanyakan kehadiran kuasa Allah saat ia susah. Di mana Allah? Allah setia dengan kasih-Nya. Allah ada. Tetapi memang membutuhkan iman, pengharapan dan kasih untuk menyadari kehadiran-Nya. Kehadiran Allah tidak selalu melenyapkan kesusahan, tetapi Allah juga sering kali hadir dalam bentuk solidaritas, kesediaan-Nya berjalan bersama kita di dalam kesusahan itu. Bukankah itu yang kita imani di dalam kehadiran Tuhan Yesus Kristus di dunia ini? Ia merasakan apa yang dirasakan manusia. Ia menempuh sengsara dan derita untuk menunjukkan keberpihakan-Nya dalam mengangkat kita dari kebodohan dosa. Di dalam Tuhan Yesus Kristus, Allah hadir memberikan kelegaan bagi kita. Apakah sekarang ini kita merasakan Allah begitu jauh? Atau jangan-jangan kita yang terlalu keras hati untuk menyadari kehadiran-Nya yang begitu dekat?

Hidup dalam kelegaan karunia Allah
Sebagai umat perjanjian baru, kita hidup di dalam suasana baru. Kita mengimani bahwa pikiran, hati dan tindakan kita bukanlah hanya milik kita saja, tetapi juga dengan kerelaan, mau menerima intervensi suci karunia cinta kasih Tuhan yang kita amini hadir dalam setiap pembacaan Firman Tuhan. Dalam kelegaan yang diberikan oleh Allah itu kita dimampukan untuk menunjukkan solidaritas, mendukung orang-orang yang sedang berjuang untuk menghadirkan suasana baru yang dipenuhi kasih sebagaimana dikehendaki Allah di tengah dunia ini. “Secangkir air sejuk” (Mat. 10:42), tentu bukan sekadar kita pahami secara harfiah saja. “Secangkir air sejuk”, dapat hadir juga dalam bentuk perhatian, tindakan nyata, dukungan, kerja keras, keterlibatan diri kita untuk menghadirkan kelegaan kepada orang-orang yang mengupayakan kebaikan bagi dunia ini. Kapan terakhir kali anda menyambut pesan sekaligus orang yang membawa pesan demi kebaikan anda sesama? Apa yang menjadi tanggapan anda?

(Pdt. Essy Eisen)


Comments