Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 29 September 2013

diposkan pada tanggal 4 Okt 2013 23.56 oleh Essy Eisen   [ diperbarui 9 Mei 2014 01.44 oleh Admin Situs ]
Menjadi Bijak, Bukan Tamak Terhadap Uang

Amos 6: 1, 4-7; Mazmur 146; 1 Timotius 6: 6-19; Lukas 16: 19-31.

Banyak cara yang dilakukan manusia untuk mengamankan masa depannya. Pada jaman dahulu yang populer dipakai adalah cara menabung atau deposito berjangka. Di masa kini cara memenuhi rasa tenteram itu bertambah lagi dengan berbagai bentuk investasi: mulai dari investasi di bidang properti, emas, saham, reksadana, dan sebagainya. Dengan berbagai tindakan investasi tersebut banyak orang berharap dapat menjalani masa tua dengan tenang. Tapi, mungkinkah seseorang menyandarkan rasa amannya kepada harta benda? Apakah kekayaan atau uang memang dapat dijadikan sebagai jaminan rasa tenteram?


Paulus memperingatkan agar setiap orang percaya bersikap hati-hati terhadap kekayaan. “Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.” (1Tim. 6:10). Surat Paulus ini mengingatkan bahwa sikap memuja uang dapat membuat seseorang malah tidak menjadi tenang, melainkan tersiksa oleh berbagai persoalan. Pengejaran yang berlebihan terhadap kekayaan dapat membuat orang menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya.

Dalam Amos 6:1, 4-7 digambarkan ada sekelompok orang “memeras orang lemah, menginjak orang miskin”. Mereka gemar berpesta dan menggantungkan rasa tenteram mereka kepada kemampuan mereka sendiri. Dan Tuhan, melalui Amos, mengkritik sikap orang-orang yang menggantungkan hidupnya kepada hal material. Sikap mendewakan kekayaan dapat membuat orang melupakan pemeliharaan Tuhan. Orang yang mengandalkan hidupnya berdasarkan kepemilikan materi merasa tidak lagi perlu mematuhi perintah Tuhan.

Selain itu, sikap yang mementingkan kekayaan dapat membuat seseorang menjadi egois, hanya mementingkan diri atau kelompoknya sendiri. Dalam Lukas 16:19-31 dikisahkan ada seorang kaya yang setiap hari bersukaria dalam kemewahan. Pada saat yang sama, seorang
pengemis yang penuh borok berbaring dekat pintu rumah si orang kaya. Lazarus, si pengemis itu, berharap mendapat sisa-sisa makanan pesta si orang kaya. Tapi dalam kisah tersebut si orang kaya digambarkan tidak melakukan tindakan apapun untuk menolong Lazarus. Si orang kaya terlalu sibuk menikmati kemewahannya, sehingga tidak peduli kepada pengemis yang teronggok dekat pintu rumahnya. Di akhir cerita digambarkan bahwa sikap tidak peduli siorang kaya membuatnya berada di alam maut, sementara Lazarus ada dalam pangkuan
Abraham. Melalui penggambaran akhir ini ditegaskan bahwa kelimpahan harta tanpa disertai kepedulian terhadap sesama hanya akan mendatangkan maut bagi pemiliknya. Kalau begitu, apakah orang Kristen tidak boleh berusaha atau berinvestasi dan menjadi kaya?

Alkisah, di sebuah desa ada sepasang petani dengan seorang anak laki-laki. Pada suatu malam mereka kedatangan tiga orang tamu yang bernama: Kekayaan, Kesuksesan, dan Cinta-Kasih. Sebagai tuan rumah yang baik, si petani mempersilahkan mereka semua masuk untuk ikut makan malam. Tapi para tamu itu menolak dan mengatakan bahwa mereka tidak bisa masuk bersama-sama. Si petani diminta mengundang salah satu saja dari tiga tamu tersebut. Dengan sedikit heran, si petani pun berunding dengan istri dan anaknya. Si petani ingin mengajak si Kekayaan, tapi si istri bersikeras ingin mengajak si Kesuksesan agar panen mereka berhasil.

Anak mereka mengusulkan mengajak si Cinta-Kasih dengan alasan rumah mereka akan nyaman dan penuh kehangatan Cinta-Kasih. Akhirnya si petani keluar dan mempersilahkan si Cinta-Kasih untuk masuk dan makan malam bersama mereka. Tapi, anehnya, ternyata si
Kekayaan dan si Kesuksesan pun ikut masuk juga. Mengapa bisa begitu? Akhirnya tiga tamu itu memberi penjelasan. “Kalau anda mengundang si Kekayaan atau si Kesuksesan, maka yang lain akan tinggal di luar. Namun, karena anda mengundang si Cinta-Kasih, maka kemana pun Cinta-Kasih pergi, kami akan selalu ikut dengannya. Dimana ada si Cinta-Kasih, maka disitu ada si Kekayaan dan si Kesuksesan. Lagi pula kami berdua ini buta, dan hanya si Cinta-Kasih yang bisa melihat. Karena itu, hanya Cinta-Kasih yang dapat menunjukkan kepada kami jalan kebaikan. Tanpa Cinta-Kasih, Kekayaan dan Kesuksesan akan sesat”.

Bpk. Mathyas Simanungkalit, S.Si. (Teol)
Comments