Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 2 Februari 2014

diposkan pada tanggal 28 Jan 2014 21.31 oleh Admin Situs

Siapakah Orang Yang Berbahagia?

Mikha 6:1-8, Mazmur 15, 1 Korintus 1:18-31, Matius 5:1-12

Apakah yang menjadi kebahagiaan orang tua saat melihat anaknya tumbuh menjadi anak yang dewasa dan mandiri? Jadi orang kaya? Hidup tidak susah? Jadi anak yang pintar? Takut kepada Tuhan? Apa lagi? Tentu masih banyak lagi. Tetapi rasanya tidak hanya itu saja. Memang hal-hal itu bagus-bagus semuanya dan tentu akan memberikan kebahagiaan dan kebanggaan tersendiri bagi orang tua.

Namun ada satu perkara yang pasti akan membuat orang tua manapun sangat bahagia. Apa itu? Pada saat anak-anaknya bukan saja mendapatkan kebahagiaan bagi dirinya sendiri saja, tetapi juga memberikan kebahagiaan bagi orang lain. Singkatnya, menjadi saluran berkat bagi orang lain dan bukan sekadar diberkati saja oleh Tuhan dengan apa-apa yang baik dan menyenangkan. Bukankah itu makna yang benar dan sehat tentang berkat Tuhan sebenarnya? (Kej. 12:2).

Rasanya kalau kita sebagai orang tua, mengamini kebahagiaan yang seperti itu, yaitu saat anak-anak kita menjadi orang yang mampu menghadirkan kebahagiaan bagi yang lain, maka kita tidak akan kesulitan untuk memahami pesan Firman Tuhan pada Minggu ini.

Perhatikanlah apa yang diberitakan oleh nabi Mikha: "Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?" (Mi. 6:8). Menurut nabi Mikha, di hadapan Tuhan, setiap orang harus adil, setia dan rendah hati. Sikap bijaksana itu harus seimbang ditujukan kepada Tuhan dan sesama manusia. Perkara itu sungguh menyenangkan hati Tuhan Allah.

Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita, menunjukkan setidaknya delapan sikap hidup orang-orang yang disebutnya berbahagia. Orang-orang yang seperti apakah itu? Perhatikan kutipan dari Matius 5:3-12 dari Alkitab dalam terjemahan bahasa Indonesia sehari-hari di bawah ini, khususnya bagian yang dicetak tebal.

  1. "Berbahagialah orang yang merasa tidak berdaya dan hanya bergantung pada Tuhan saja; mereka adalah anggota umat Allah! (Mat. 5:3)
  2. Berbahagialah orang yang bersedih hati; Allah akan menghibur mereka! (Mat. 5:4)
  3. Berbahagialah orang yang rendah hati; Allah akan memenuhi janji-Nya kepada mereka! (Mat. 5:5)
  4. Berbahagialah orang yang rindu melakukan kehendak Allah; Allah akan memuaskan mereka! (Mat. 5:6)
  5. Berbahagialah orang yang mengasihani orang lain; Allah akan mengasihani mereka juga! (Mat. 5:7)
  6. Berbahagialah orang yang murni hatinya; mereka akan mengenal Allah. (Mat. 5:8)
  7. Berbahagialah orang yang membawa damai di antara manusia; Allah akan mengaku mereka sebagai anak-anak-Nya! (Mat. 5:9)
  8. Berbahagialah orang yang menderita penganiayaan karena melakukan kehendak Allah; mereka adalah anggota umat Allah! Berbahagialah kalian kalau dicela, dianiaya, dan difitnah demi Aku. Nabi-nabi yang hidup sebelum kalian pun sudah dianiaya seperti itu. Bersukacitalah dan bergembiralah, sebab besarlah upah di surga yang disediakan Tuhan untuk kalian." (Mat. 5:10-12)

Dari delapan sikap itu, ada keseimbangan yang sempurna terkait kasih kepada Allah dan kepada sesama. Tidak ada sedikit pun tempat bagi ketidakpedulian, keangkuhan dan kebencian dalam pikiran dan hati orang-orang yang ingin mengalami kebahagiaan surgawi sebagaimana yang diajarkan Kristus.

Apakah kita dapat menghidupi delapan sikap itu dalam kehidupan kita? Bisa! Rasul Paulus mengatakan demikian: Allah sendirilah yang membuat sehingga Saudara bersatu dengan Kristus Yesus. Melalui Kristus, kita dijadikan bijaksana. Dan melalui Dia juga Allah membuat kita berbaik kembali dengan diri-Nya, menjadikan kita umat-Nya yang khusus, dan membebaskan kita. (1 Kor. 1:30, Terjemahan BIS-LAI). Mari menjadi orang yang berbahagia, sebagaimana yang sudah diteladankan oleh Tuhan Yesus Kristus bagi dunia ini.

(Pdt. Essy Eisen)

Comments