Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 2 Juni 2013

diposting pada tanggal 30 Mei 2013 15.57 oleh Essy Eisen   [ diperbarui 9 Mei 2014 01.48 oleh Admin Situs ]
Kasih Sempurna Yang Tidak Berbatas 

1 Raja-Raja 8:22-23, 41-43, Mazmur 96:1-9, Galatia 1:1-12, Lukas 7:1-10

Di Kapernaum, Yesus diminta tolong untuk menyembuhkan seorang yang sedang sakit keras dan hampir mati. Orang yang sakit keras itu adalah hamba dari seorang perwira Roma. Namun Perwira Roma itu berbeda dari perwira kebanyakan. Sebab ia memiliki kepedulian kepada umat Yahudi. Ini antara lain ditunjukan dengan pertolongannya dalam pembangunan rumah ibadat Yahudi (sinagoge). Bukan hanya itu, kepeduliannya kepada hambanya juga menunjukkan bahwa ia adalah atasan yang peduli kepada bawahannya.

Dalam upayanya mencari pertolongan bagi kesembuhan hambanya, perwira ini mengajukan permohonan kepada Yesus. Sebagai seorang perwira ia mengenali tradisi orang Yahudi, yaitu bahwa orang Yahudi acapkali enggan untuk masuk ke rumah orang yang bukan Yahudi dengan alasan hukum adat istiadat (Kis.10:28). Oleh sebab itu ia menggunakan beberapa orang perantara, baik pemuka agama Yahudi maupun sahabat-sahabatnya.

Yesus berkenan akan permohonan si perwira itu. Namun saat Yesus hampir tiba di rumahnya, perwira ini memohon supaya Yesus mengucapkan sepatah kata saja. Rupanya selain menghargai kebiasaan orang Yahudi, perwira ini juga merasa tidak layak untuk menerima Yesus di rumahnya, entah apa sebabnya. Tetapi pada sisi lain ia percaya bahwa di dalam Yesus ada kuasa yang menyembuhkan dan memulihkan hidup (Luk. 7:7). Sudah rendah hati, penuh kasih, beriman pula! Tidak heran Tuhan Yesus memuji si perwira yang baik hati ini dan hambanya yang sakit keras dan hampir mati itu menjadi sembuh. Yesus berkata: "..iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel!" (Luk. 7:9).

Si perwira itu telah menunjukkan kasih yang tidak berbatas. Yesus menghargai kasih yang demikian. Sebab karya kasih Yesus di dalam dunia ini juga adalah kasih yang sempurna. Kasih yang tidak dibatasi oleh hal-hal seperti pengkotakan berdasarkan gender (Yoh. 4:7, 8:11), status sosial (Mat. 19:14, Luk. 19:5), budaya (Luk. 17:19, Luk. 21:3, Mrk. 3:5). Karya Tuhan Yesus itu menunjukan karya Allah yang kasih-Nya tidak berbatas. Persis seperti yang dinyatakan Pemazmur. “Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib di antara segala suku bangsa.” (Mzm 96:3). Pemazmur mengajak umat Tuhan untuk menyerukan: "TUHAN itu Raja! Sungguh tegak dunia, tidak goyang. Ia akan mengadili bangsa-bangsa dalam kebenaran." (Mzm 96:10).

Sebagai pengikut Kristus kita belajar untuk memiliki kasih seperti Tuhan Yesus. Seperti kata Rasul Paulus, menjadi hamba Kristus berarti bersedia untuk mencari apa yang disukai Allah (Gal 1:10). Apa yang disukai Allah? Hidup seperti Kristus, yang kasih-Nya tidak berbatas!

Kita dapat memulai untuk menunjukan kasih yang tidak berbatas dalam doa-doa kita. Apakah dalam doa-doa yang kita panjatkan, kita juga berkenan untuk mendoakan orang-orang yang selama ini asing bagi kita? Dalam doanya, Salomo memohonkan juga kepada Allah supaya orang asing kiranya didengarkan doanya oleh Allah, sehingga mereka takut kepada Allah (1 Raj. 8:41-43).

Kita dapat melanjutkan tindakan kasih yang tidak berbatas melalui kata-kata kita. Apakah selama ini dalam percakapan keseharian kita dengan keluarga kita, dengan rekan kerja kita, dengan teman-teman kita, keluar kata-kata yang rendah hati dan membangun? Apakah melalui kata-kata kita orang dapat mengalami kasih dan damai sejahtera? Atau kata-kata kita malah bersifat tendensius yang diwarnai penghakiman, hasutan dan caci maki? (Yak. 3:9-10).

Namun jangan sampai berhenti di kata-kata saja. Kita harus terus belajar untuk menunjukan perilaku yang membangun relasi sosial yang sehat. Di tengah kepelbagaian budaya, agama, adat-istiadat, norma-norma, apakah kita telah rendah hati untuk memahami dan menjadi bijaksana dalam bertindak di tengah perbedaan yang ada? Apakah tindakan kebaikan kita hanya sesempit bagi orang-orang yang satu gereja, satu agama, satu budaya, satu famili saja? Atau telah merambah menembus sekat-sekat lahiriah untuk menunjukkan kasih Allah yang tidak berbatas melalui kehadiran diri kita? (Mat. 5:43-48).

Pertanyaan Aplikasi:
  1. Mengapa si Perwira dalam kisah ini meminta pertolongan kepada Yesus? Apa yang ia lihat ada dalam Yesus? Bagaimana Anda melihat kehadiran Yesus dalam hidup Anda?
     
  2. Apa alasan Yesus memuji sikap iman si perwira? Apakah Anda memiliki sikap iman seperti si perwira itu, saat Anda membutuhkan pertolongan Yesus? Apa buktinya? 

  3. Bagaimana Anda mengajarkan orang lain untuk menunjukan bahwa kasih Allah adalah kasih yang tidak berbatas bagi dunia ini?

(Pdt. Essy Eisen)
Comments