Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 2 Maret 2014

diposting pada tanggal 28 Feb 2014 00.33 oleh Admin Situs

"Hidup mulia dengan mendengarkan Yesus Kristus"

Keluaran 24:12-18, Mazmur 2, 2 Petrus 1:16-21, Matius 17:1-9

Dalam ilmu kimia, logam mulia adalah logam yang tahan terhadap korosi (karat) maupun oksidasi (peluruhan). Contoh logam mulia adalah emas, perak dan platina. Logam mulia mahal harganya, karena keunikan sifatnya itu. Selain itu, logam ini berguna bukan saja sebagai perhiasan, tetapi juga sebagai logam penopang yang aman bagi tubuh. Apa yang mulia terkait dengan keunikan, daya tahan, dan dampak.

Dalam hidup beriman, yang mulia itu adalah Allah. Namun, kemuliaan Allah bukanlah kemuliaan yang digunakan untuk merusak dan menghancurkan kehidupan. Allah menyediakan apa yang baik dan menyelamatkan. Dalam perjanjian pertama (lama), melalui orang-orang yang dipanggil dan dipercaya oleh-Nya, Allah menyatakan jalan-jalan-Nya. Hukum kasih dan perintah-perintah hidup yang mesti diajarkan kepada umat-Nya, disampaikan melalui para nabi dan hamba-hamba-Nya dan didengarkan serta dipelajari dalam ibadah-ibadah yang dilakukan (Kel. 24:12-18).

Dalam hidup sehari-hari kita menjumpai orang-orang yang dianggap mulia. Hakim misalnya, dipanggil “yang mulia”. Juga presiden dan orang-orang yang menjabat kedudukan terhormat dan mengemban tugas demi kebaikan banyak orang berlandaskan kasih, keadilan dan kebenaran. Namun kemuliaan mereka dapat saja hilang, kalau mereka tidak menjalankan tugas-tugas yang diamanatkan dengan benar dan bertangggungjawab.

Oleh sebab itu pemazmur dengan bijak memberikan pengajaran dalam Mazmur 2:10-12 demikian: “Oleh sebab itu, hai raja-raja, bertindaklah bijaksana, terimalah pengajaran, hai para hakim dunia!  Beribadahlah kepada TUHAN dengan takut dan ciumlah kaki-Nya dengan gemetar, supaya Ia jangan murka dan kamu binasa di jalan, sebab mudah sekali murka-Nya menyala. Berbahagialah semua orang yang berlindung pada-Nya!” Setiap orang yang menjalankan tugas kepemimpinan bagi orang banyak, harus mengingat kasih sayang Allah dan menyatakan kasih sayang Allah itu melalui tindakan kepemimpinan mereka.

Kisah Injil hari ini, menceritakan tentang visi (penglihatan) suci yang dilihat Petrus, Yakobus dan Yohanes dalam diri Yesus. Di atas gunung, Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang. Lalu Musa dan Elia berbicara dengan Dia. Penglihatan ini memiliki arti. Yesus, sebagai penggenap perjanjian lama, mengalami kemuliaan ilahi. Musa, sebagai penyampai 10 hukum kasih Allah, Elia sebagai nabi yang berjuang untuk membersihkan umat Allah dari berhala-berhala, turut hadir dalam peristiwa ilahi itu. Penglihatan ini menegaskan tentang kehadiran sebuah perjanjian yang baru bagi umat Allah.

Petrus, murid Yesus terkenal karena sifat reaktifnya, segera berkata: "Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia." Namun, saat Petrus berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata: "Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia." Mendengar itu tersungkurlah murid-murid-Nya dan mereka sangat ketakutan. Apa artinya? Rupanya penglihatan suci yang menunjukkan kemuliaan Yesus sebagai Kristus (Yang Diurapi Allah, Juruselamat), seharusnya tidak disikapi dengan membangun ritus-ritus ibadah belaka (pendirian kemah-kemah). Sebab suara ilahi mengatakan, Yesus adalah Anak yang dikasihi Allah. Allah berkenan kepada Yesus Kristus. Murid-murid harus mendengarkan Yesus! Ini dia yang utama. Mendengarkan Yesus.

Kisah ini berlanjut dengan ajakan Yesus kepada tiga murid-Nya itu untuk tidak takut. Mereka melihat Musa dan Elia tidak ada lagi dalam penglihatan itu. Yesus Kristus sebagai “Musa baru” dengan semangat kenabian Elia, kini hadir sebagai bukti kemuliaan Allah yang setia, menyapa, membimbing, menuntun umat-Nya kepada segala yang baik menuju kegenapan pemerintahan Allah yang penuh kasih di dunia ini. Apa yang terjadi sesudah peristiwa ini? Yesus dan murid-murid “turun gunung”. Yesus dan murid-murid kembali berkarya. Puncak karya Yesus berujung di Golgota, tanda cinta kasih-Nya bagi keselamatan dunia. Yesus dibangkitkan Allah dan menang. Ia mengutus murid-murid-Nya untuk melanjutkan karya kasih-Nya, sampai saat-Nya Ia datang kembali sebagai raja (2 Ptr. 1:16-21).

Pertanyaan perenungan dan aplikasi:

1.      Apa yang membedakan kemuliaan Allah dengan kemuliaan menurut dunia?

2.      Apa arti kehadiran Musa dan Elia bersama Yesus dalam penglihatan di atas gunung itu? Apa arti suara dari dalam awan itu bagi murid-murid Yesus yang akan melanjutkan karya kasih Kristus di dunia sampai saat ini?

3.      Bagaimana cara saudara mendengarkan suara Yesus Kristus? Kehidupan yang seperti apakah yang akan terjadi jika saudara mengikuti apa-apa yang menjadi cara hidup Kristus?

(Pdt. Essy Eisen)

Comments