Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 30 Juni 2013

diposting pada tanggal 29 Jun 2013 08.44 oleh Essy Eisen   [ diperbarui 9 Mei 2014 01.46 oleh Admin Situs ]
Mengikut Yesus dan Menjadi Pelayan-Nya

1 Raja-raja 19: 15-21; Mazmur 16; Galatia 5:1, 13-15; Lukas 9:51-62

Kisah Elia dan Elisa dalam 1 Raja-raja 19: 15-21 memberi kita sedikit gambaran tentang makna menjadi pengikut dan pelayan. Dalam tradisi Perjanjian Lama, mengikuti seseorang berarti menyerahkan dan mengabdikan diri kepada orang yang diikuti. Seorang pengikut mengambil keputusan untuk mentaati, menghormati, mencintai dan melayani orang yang diikuti. Itulah yang kita lihat dalam Kisah Elia dan Elisa. Selama Elisa “berjalan di belakang” Elia, dia belajar mengenal pikiran-pikiran, perilaku, tujuan-tujuan dan gaya hidup Elia. Lama-kelamaan sang pengikut menjadi serupa dengan yang diikuti dalam hal tujuan-tujuan, pikiran-pikiran, perilaku, dan gaya hidupnya. Selama “berjalan di belakang” orang yang diikutinya itu, sang pengikut mengalami perubahan dalam hidupnya. Hal itu digambarkan dalam kisah lanjutan bagaimana kemudian Elisa hidup sebagai nabi menggantikan Elia, tuannya itu. 

Pemahaman seperti itu juga yang berlaku di masyarakat pada masa Yesus hidup, bahkan sampai masa kita sekarang ini. Setiap orang yang mengaku sebagai murid Yesus adalah pengikut Yesus. Dan itu berarti seseorang yang memutuskan untuk mengikut Yesus Kristus bersedia berjalan di belakang-Nya, mengiringi-Nya, menaati-Nya, menyerahkan dan mengabdikan diri pada-Nya, mencintai dan menghormati-Nya serta melayani-Nya. Dan itu juga berarti bahwa siapapun yang mengaku sebagai pengikut Yesus selayaknya belajar 
mengenal pikiran-pikiran, tujuan-tujuan, perilaku dan gaya hidup Yesus, agar dapat meneladani Yesus. Misalnya, bila Yesus dalam hidupnya mempraktekkan kerendahan hati, maka setiap pengikut-Nya pun selayaknya hidup dalam kerendahan hati. Bila kehadiran Yesus selalu memberi harapan bagi mereka yang susah, tersisih dan tertindas maka kehadiran setiap pengikut-Nya pun selayaknya demikian. Dengan demikian semakin hari setiap pengikut Yesus akan mengalami perubahan dalam hidupnya. Setiap pengikut Yesus tidak lagi hidup untuk memuaskan keinginannya sendiri. Dia tidak lagi hidup sebagai hamba dosa sebab Kristus telah memerdekakannya (Galatia 5:1).

Apakah selalu mudah untuk memahami pikiran-pikiran, tujuan, perilaku dan gaya hidup Yesus Kristus yang kita ikuti? Belum tentu. Dalam Lukas 9:51-62 dikisahkan para murid ditolak memasuki desa orang Samaria. Yakobus dan Yohanes tersinggung dan mulai pamer kekuasaan: “Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?” (Luk.9:54). Dua murid ini nampaknya mengira bahwa Yesus pasti setuju dengan tindakan membinasakan orang yang berbeda dan menolak mereka seperti orang-orang Samaria itu. Para murid mengira Yesus menghendaki semua orang harus sepakat dengan-Nya dan mereka yang tidak sepakat harus disingkirkan. Tapi para murid keliru. Para pengikut itu, yang sudah bertahun-tahun berjalan di belakang Yesus, belum sungguh-sungguh mengenal seluruh pikiran, perilaku, tujuan, dan gaya hidup Sang Guru. Akibatnya, mereka mendapat teguran dari Yesus (Luk.9:55).

Ternyata tidak mudah mengikut Yesus. Dalam Luk.9:51-56 digambarkan betapa seorang murid merasa bahwa dia sedang mengikut Yesus, tapi yang terjadi sebenarnya dia justru sedang memuaskan keinginan dan ambisinya sendiri. Seorang murid mengaku sebagai pelayan Yesus, namun dalam prakteknya dia bertindak sebagai bos pemilik proyek pelayanan yang suka main gertak dan unjuk kekuasaan. Karena itulah dalam Luk.9:57-62 ditegaskan bahwa mengikut Yesus tidak bisa dilakukan dengan setengah hati. Untuk menjadi pengikut Yesus diperlukan sikap hidup yang mengutamakan Yesus di atas keperluan-keperluan yang lain. Seorang murid harus terus menerus melihat kepada Yesus, memperhatikan tujuan-tujuan-Nya, memahami apa yang menjadi keprihatinan-Nya, meneladani kepedulian-Nya, menyukai apa yang disukainya, melakukan apa yang dilakukan-Nya. Dengan terus menerus berjalan di belakang Yesus, dengan senantiasa memandang kepada Yesus, maka setiap murid akan berpikir sebagaimana Yesus berpikir, merasa sebagaimana Yesus merasa, bertindak sebagaimana Yesus bertindak. Setiap mereka yang sungguh-sungguh berjalan di belakang Yesus niscaya mengalami perubahan dalam hidupnya, yaitu semakin serupa dengan Yesus Kristus yang diikutinya.

Pertanyaan refleksi:
  • Siapakah yang kita ikuti: Yesus Kristus atau keinginan kita sendiri? 
(Mathyas Simanungkalit, S.Si. (Teol.))
Comments