Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 30 September 2012

diposting pada tanggal 26 Sep 2012 21.40 oleh Essy Eisen   [ diperbarui29 Sep 2012 10.37 ]
Masalah + Ketekunan Kasih = Tahan Uji = Pengharapan 

(Roma 5:1-11)

Bagi Rasul Paulus, pengikut Kristus adalah orang yang sudah didamaikan dengan Allah karena karya kasih Kristus. Akibat pendamaian itu, kini ia ada dalam genggaman kasih Kristus dan bertumbuh terus untuk menjadi semakin serupa dengan Kristus dalam menghadapi masalah-masalah hidup. Karena kasih karunia Allah, kini ia mendapat status “anak Raja” sekaligus dipanggil untuk menjalankan kerja sebagai “hamba yang setia”. 

Sebagai “hamba yang setia”, saat menghadapi masalah dan kesengsaraan, cara pandangnya sudah diperbarui Roh Kudus. Hatinya dilimpahi oleh kasih Allah, sehingga sewaktu menghadapi masalah, ia dimampukan Allah untuk tekun mengambil pelajaran dari masalah itu secara positif. 

Jika proses ini berjalan dengan sehat, lambat laun karakternya menjadi karakter yang tahan uji. Ia tidak mudah putus asa, karena memiliki pengharapan bahwa di dalam segala sesuatu Allah turut bekerja mendatangkan kebaikan bagi yang mengasihi-Nya. Ia mengimani bahwa orang yang dipanggil-Nya dari kegelapan dosa sedang diajak untuk menuju terang hidup. Sesuai dengan rencana-Nya, Allah mengaruniakan apa yang indah pada waktu-Nya.

Namun hati-hati, nilai-nilai ketekunan menghadapi masalah ini tidak boleh dipakai untuk melanggengkan kekerasan dalam rumah tangga! Jika ada anggota keluarga yang mengalami kesengsaraan karena ketidakpedulian, pengabaian, apalagi tindakan kekerasan dari anggota keluarga yang lain, tidak tepat kalau ia bertekun menanggung semua itu. Kekerasan harus dihentikan, dan yang melakukan tindakan itu harus mendapat hukuman yang setimpal dengan perbuatannya. Ingatlah bahwa kasih Allah adalah kasih yang menunjung keadilan dan kebenaran juga. 

Nilai-nilai ketekunan yang disampaikan Paulus ini, harus dimengerti sebagai sebuah upaya yang tidak kenal henti dari pribadi yang sedang menumbuhkan karakter Kristus dalam dirinya untuk mengasihi tanpa syarat dengan memberikan apa yang baik kepada pribadi yang lain walaupun ia sendiri belum atau tidak pernah mendapatkan apa yang baik dari pribadi yang lain itu.

Nilai ketekunan ini juga berarti kesabaran untuk mengambil pelajaran dari perbedaan-perbedaan yang ada atau masalah-masalah yang terjadi, untuk kemudian melihatnya secara positif dan optimis bahwa Allah turut bekerja bersama-sama dengannya dalam mencari solusi-solusi yang bijak sesuai dengan tuntunan-Nya. Dalam proses itu, Allah memampukannya menjadi pribadi yang memiliki karakter tahan uji untuk tetap setia mengasihi dalam segala kondisi dan tanpa syarat.

Jadi, bagaimana supaya pengharapan tetap ada dalam keluarga?
  1. Mengimani bahwa Allah turut bekerja mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi-Nya dan mau melakukan kasih-Nya bagi yang lain. 
  2. Setiap jam mau bertumbuh menerapkan karakter Kristus dalam diri. 
  3. Setiap jam membiarkan Roh Kudus melembutkan hati. 
  4. Jangan melanjutkan ke poin 5 kalau poin 1 – 3 belum dilakukan. 
  5. Tidak membenci masalah, tetapi melihat masalah dengan gembira sebagai bagian dari kehidupan dan secara bijaksana dan proporsional mengenali akar-akar penyebab masalah tanpa menghakimi yang lain. 
  6. Menjadi solusi dari masalah dengan menunjukkan kasih yang berkorban dan bukan menambah masalah dengan menuntut orang lain dalam penyelesaian masalah itu. 
  7. Melihat dengan rendah hati dengan mata hati yang jernih serta penuh kasih bahwa setiap orang memiliki ketidaksempurnaan dan dengan sabar mau melengkapi ketidaksempurnaan orang lain. 
  8. Ulangi poin 1 – 3, dilanjutkan dengan poin 5 – 7, jika mulai putus asa. 
Ingatlah, “…Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.” (Rm. 5:3-5).

(Pdt. Essy Eisen)
Comments