Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta, 31 Juli 2011

diposting pada tanggal 27 Jul 2011 14.45 oleh Essy Eisen
“Bawalah ke mari kepada-Ku”
Yes. 55:1-5; Mzm 145:8-9, 14-21; Rm 9:1-5, Mat 14:13-21

“Bawalah ke mari kepada-Ku”. Ini adalah kata-kata Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya yang mendapati 5 roti dan 2 ikan yang ada pada mereka. Di tangan Yesus, setiap pemberian bernilai dan berharga untuk diberkati-Nya. Di tangan Yesus, murid-murid-Nya dipakai untuk turut serta dalam karya baik-Nya memberikan kedamaian dan kelegaan kepada banyak orang. Murid-murid diajar dan mau dipakai untuk menjadi jalan berkat Allah. Tidak banyak yang mereka miliki, tetapi mereka mau memberi. Setiap pemberian yang sejalan dengan misi Allah bagi dunia ini akan menghasilkan pembaruan kehidupan yang luar biasa. Saat Herodes sang raja wilayah merasa memiliki kuasa dengan membunuh Yohanes Pembaptis karena nafsu jahat Herodias (Mat 14:1-12), Yesus dengan nyata menunjukkan kuasa sejati Allah yang bersehati-sepenanggungan kepada banyak orang yang mengikuti-Nya. Yang sakit disembuhkan-Nya (Mat 14:14), yang lapar jasmani dan rohani dikenyangkan-Nya. Awal yang sulit dalam kehidupan, akan berujung pada keberlimpahan yang mengejutkan, karena kemurahan hati Allah dan kepedulian orang-orang yang mau dipakai menjadi jalan berkat-Nya.

Sebagai Roti Hidup, Yesus sudah memberikan diri-Nya bagi dunia (Yoh 6:33-35). Setiap merayakan Perjamuan Kudus, kita mengingat kembali akan karya Kristus bagi kita dan dunia. Kenyataan bahwa di dalam Yesus kita menemukan makna kehidupan yang mengenyangkan spiritualitas kita, tidak boleh berhenti pada kekaguman dan kenyamanan diri sendiri belaka. Pada akhirnya kepada kita sekalian didorong untuk melanjutkan kemurahan hati Allah itu, dengan menunjukan kemurahan hati Allah melalui segenap keberadaan diri, pemberian Allah ini.

Setiap pengikut Kristus diajak untuk memiliki hati seorang murid yang taat untuk mendengarkan nasihat Allah yang berujung kepada keberlimpahan hidup, ketimbang nasihat dan hawa nafsu jahat yang hanya memuaskan keinginan hidup yang sementara (Yes 55:2-3). Orang yang menyadari kemurahan hati Allah di dalam Tuhan Yesus Kristus, akan dimampukan Allah untuk memliki kesehatian dan mau sepenanggungan (empati) dengan sesamanya yang membutuhkan. Paulus contohnya. Dengan sepenuh hati ia bersedih hati atas kekerasan hati saudara-saudara Yahudi yang tidak mau menerima kemurahan hati Allah (Rm 9:1-5). Kemurahan hati karunia Roh Kudus akan mengenyahkan kebencian kepada orang yang berbeda dan sebaliknya akan membuahkan semangat untuk memberikan yang terbaik untuk orang lain.

Di tengah-tengah keseharian hidup kita, saat begitu banyak orang merasa lapar baik jasmani maupun spiritual karena kesesakan hidup, Kristus dengan kuasa-Nya dan kemurahan hati-Nya yang membawa pembebasan kembali berkata kepada kita “bawalah kemari kepada-Ku”. Ya! kita diajak untuk membawa apa yang kita miliki kepada-Nya. Seberapapun dan bagaimanapun itu, untuk diberkati-Nya menuju pembaruan hidup. Dan bukankah “suara Yesus” yang seperti itu juga acapkali bergema melalui mulut sesama kita yang membutuhkan perhatian, pertolongan dan uluran kasih yang tulus (Mat 25:35-45)? Adakah kita mau membawa apa yang ada pada kita kepada Yesus dan kepada mereka?

(Pdt. Essy Eisen)
Comments