Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 31 Maret 2013

diposting pada tanggal 5 Apr 2013 09.34 oleh Essy Eisen
"Kebangkitan Kristus Membawa Pemulihan"

Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka. (2 Kor. 5:15).

Paulus pernah menilai Yesus sebagaimana yang dipikirkan oleh dunia tentang-Nya. Sebagai seorang Yahudi yang terpelajar, Paulus juga menantikan sosok mesias. Tetapi pada masanya, mesias yang dinantikan lebih terkesan politis. Yesus, sebaliknya malah mati disalib. Menurut standar orang kebanyakan pada waktu itu, Yesus hanya menjadi seperti seorang pemberontak yang gagal. Tetapi hal itu berubah, sejak Paulus berjumpa dengan Kristus yang bangkit! (Kis. 9:1-15). Begitu juga saat ini. Banyak orang yang menjadi percaya dan mengalami pembaruan hidup saat mereka berjumpa dengan Kristus yang bangkit. Roh Kudus memberi mereka hidup baru. Mereka menjadi orang yang tidak sama lagu. Mereka “diciptakan ulang”. Saat seorang percaya bertobat, mereka memulai hidup mereka dalam tuntunan Tuhan dan Juruselamat. Hidup lama yang iikat dosa telah hilang. Hidup yang egois telah dimatikan (Gal. 5:16-21, 24). Selanjutnya hidup baru dimulai.

Kebaruan hidup ini bukanlah tindakan insani belaka. Sebab Allah sendiri yang akan memulainya. (Ibr. 12:2). Allah mendamaikan manusia kepada diri-Nya melalui karya Kristus. Saat mereka percaya kepada Kristus, mereka tidak lagi menjadi musuh Allah. Saat Kristus menempuh karya di atas kayu salib, kepada yang percaya kepada-Nya, Allah menjadikan mereka bagian dari keluarga-Nya. Kristus memberikan nyawa dan hidupnya supaya kita sembuh dan tidak lagu diikat oleh kuasa dosa (1 Kor. 15:3). Karena orang percaya sudah didamaikan Allah, maka kita juga dipanggil dan diutus Allah untuk membawa orang-orang berdamai dengan Allah. Itulah yang dilakukan Paulus. Semua bangsa menerima ajakan ini. (Rm. 5:10; Ef. 2:14-17). Kita tidak lagi menjadi musuh Allah. Kita sudah dibasuh oleh-Nya (Kol. 1:21-22). Inilah kabar baik yang terjadi dalam Paska Kristus.

Jika demikian, kini kuasa kasih Kristus menguasai kita yang merayakan Paska-Nya. Kita telah mati bagi hidup dosa yang lama dan bangkit dalam hidup yang baru bersama-Nya. Kita tidak lagi hidup untuk diri sendiri, tetapi hidup untuk memuliakan Allah yang telah membangkitkan Kristus dari kematian. Orang-orang Kristen ialah orang-orang yang kebaruan hidupnya dimulai dari dalam. Karena pertolongan kuasa Roh Kudus, mereka tidak sama lagi. Cara pandang kita terhadap dunia dan terhadap sesama kita, diperbarui. Kita mengikuti cara Kristus dengan hati sebagai hamba dan memiliki kasih yang selalu memberi. Melalui tindakan itu kita sedang mengundang orang lain untuk turut serta menikmati kuasa pembaruan hidup yang mendamaikan itu juga. Kita yang percaya kepada Kristus, membuat pertukaran. Ia mengangkat dosa kita dan membuat kita berbaik kembali dengan Allah. Dosa kita dipikulnya di kayu salib. Tetapi selain itu, kebenaran Allah kemudian menjadi milik kita, saat kita mau bertobat. Inilah makna pendamaian dosa.

Tema paska kita tahun ini: “Kebangkitan Kristus Membawa Pemulihan”. Pemulihan seperti apakah yang akan kita alami? Pertama, pemulihan cara pandang. Karena kebangkitan Kristus, kita percaya bahwa apa yang Ia tunjukkan dalam karya hidup-Nya, pengajaran-Nya, adalah kebenaran dari Allah yang membawa kehidupan. Kuasa maut tidak menguasai-Nya. Ia dibangkitkan! Ia menang. Oleh sebab itu, cara pandang kitapun diperbarui. Kini kita sadar bahwa kesetiaan kasih yang harus dibayar dengan salib tidak berakhir sia-sia. Ada kebangkitan hidup yang akan dialami oleh setiap orang yang percaya dan konsisten menghidupi kasih. Kedua, pemulihan relasi. Sejak kebangkitan Kristus, maka relasi kita dengan Allah pulih. Allah tidak menjadi musuh kita, tetapi menjadi Bapa kita. Karena hormat dan kasih kepada Allah, kita memberikan kasih kepada sesama ciptaan-Nya. Relasi kasih merajai hidup kita. Ketiga, pemulihan status. Kita tidak lagi diikat oleh kuasa dosa yang berakhir kepada maut, tetapi kini kita menjalani hidup baru yang akan berakhir kepada damai sejahtera Kristus. Selamat paska!

(Pdt. Essy Eisen)
Comments