Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 3 Agustus 2014

diposkan pada tanggal 31 Jul 2014 22.57 oleh Admin Situs
Ditolong Allah Supaya Berdamai Dengan Diri Sendiri

Kejadian 32:22-31

Setiap orang punya kekuatan dan kebaikan dalam dirinya. Jika ini disadari dan dikelola dengan bijaksana, hidupnya dipenuhi dengan damai sejahtera. Bahkan ia pun dapat membagi kebahagiaan itu melalui kehadiran dirinya di mana saja kepada sesamanya. Tetapi setiap orang juga punya kelemahan dan keterbatasan yang dapat membuatnya menjadi jahat. Jika tidak dikelola dengan bijaksana, kelemahan dan keterbatasan itu dapat melemahkan potensi baik dalam dirinya.

Oleh sebab itu menjadi penting supaya orang berdamai dengan dirinya. Apa artinya? Artinya secara dewasa dan bijaksana ia mampu mengenali potensi baik maupun potensi jahat yang dapat keluar dari dirinya. Setelah menyadari itu semua, maka dengan rendah hati ia bersedia mengakui kelemahan diri yang dapat menyakiti sesama, sehingga ia menjadi hati-hati untuk tidak mengulangi kejahatan yang sama kemudian hari. Juga dengan rendah hati ia mengakui segala kekuatan dan kebaikan yang ada di dalam dirinya, sehingga kehadiran dari segala yang baik dalam dirinya itu pun tetap menghasilkan damai sejahtera bagi orang lain.

Untuk berdamai dengan diri sendiri, setiap orang harus mau dibentuk oleh kasih Allah. Proses bentukan Allah dalam diri itu acap kali disebut sebagai “pergumulan dengan Allah”. Mengapa begitu? Sebab memang ada sebuah proses memberi dan menerima, menghancurkan dan membangun, sebuah pergulatan untuk mengikis kecenderungan jahat dalam diri, untuk pada akhirnya menjadi pribadi yang terus menerus diperbarui oleh Allah. Kita menyadari dengan sungguh melalui kebenaran Firman Allah, bahwa kita perlu ditolong-Nya supaya dapat berdamai dengan diri sendiri.

Minggu ini, perjumpaan kita dengan cerita Yakub menolong kita menjumpai proses berdamai dengan diri sendiri. Pergulatan Yakub dengan “Seseorang” di tepi sungai Yabok menghasilkan pengalaman spiritual yang kemudian mengubah cara pandang hidupnya. Kala itu ia hendak berjumpa dengan Esau, kakaknya yang pernah ditipunya. Sebuah pengalaman besar tentunya. Tetapi sebenarnya bukan hanya itu saja. Sejak perseteruan dengan kakaknya itu, dapat kita katakan ia “melarikan” diri dari rumah ayahnya. Di kemudian hari, di rumah pamannya, Laban, ia mengalami proses pembentukan diri juga. Yakub membangun sebuah keluarga dan memiliki banyak harta. Tetapi sepertinya tetap ada semacam “ganjalan” dalam hati dan pikiran Yakub. Sebab sepertinya Yakub belum mengenali dengan baik keberadaan dirinya dalam lingkup janji suci Allah yang pernah ia dengarkan baik melalui berkat kesulungan yang diberikan ayahnya, maupun pengalaman mimpi suci di Betel.

Di tepi sungai Yabok itulah hidupnya sepertinya tidak sama lagi. Rupanya “Seseorang” yang bergumul dengannya sampai pagi itu dihayati sebagai simbol kehadiran Allah sendiri, Allah yang berkenan membentuk pribadi Yakub. Dikisahkan dalam pergulatan itu, keduanya sama “kuat”. Tetapi pada akhirnya, Yakub dipukul di sendi pangkal paha. Dalam kelemahannya itu, dikisahkan ia memohon berkat dari “Orang” itu. “Orang” itu menanyakan namanya. Pertanyaan ini menjadi sebuah gambaran tegas tentang proses mengenali diri. Seolah-olah Yakub diajak Allah untuk berpikir, “apakah kamu mengenali siapa dirimu?” Tentu Yakub mengenali siapa dirinya! Bukankah ia Yakub? (artinya “yang memegang tumit, si penipu). Tetapi pengenalan Yakub belum sempurna. Allah berkenan menyempurnakannya.

Pergantian nama menjadi “Israel” dan penegasan bahwa ia “menang” dalam “pergumulan” bersama dengan “Allah dan manusia” ini menjadi sebuah titik penting dalam hidup Yakub melengkapi semua proses berjalannya Yakub bersama dengan Allah pada peristiwa-peristiwa sebelumnya. Kita menghayati di sini bahwa Allah mengakui ketekunan Yakub dalam berproses mengenali dirinya sendiri, sekaligus kesediaannya untuk mau diubahkan oleh Allah, mengingat permohonan berkat yang keluar dari mulutnya dalam kelemahan karena kakinya terpelecok. Yakub pada akhirnya ditolong oleh Allah untuk mengerti sumber kekuatannya bukan pada dirinya, atau kehebatannya sendiri, tetapi dari Allah saja. Mungkin pukulan di sendi pangkal paha itu juga bukan tanpa maksud. Itu menjadi semacam “peringatan” dari Allah supaya Yakub tidak lagi “melarikan diri” atau merasa benar sendiri saja, tetapi kini ia harus mau mengakui pertolongan Allah dalam proses pembentukan segala yang baik dalam hidupnya.

Setelah peristiwa ini, perjumpaan dengan Esau kakaknya yang pernah disakitinya tentu terjadi dengan cara pandangnya yang baru. Yakub menyadari bahwa Allah telah menolongnya untuk berdamai dengan diri sendiri. Tanda dari perubahan hidup Yakub antara lain terlihat dari ucapannya kala berjumpa dengan Esau kakaknya. “..karena memang melihat mukamu adalah bagiku serasa melihat wajah Allah, dan engkaupun berkenan menyambut aku.” (Kej. 33:10). Sungguh menjadi sebuah ucapan yang manis, dari seseorang yang sudah berdamai dengan diri sendiri, karena ditolong oleh Allah!

(Pdt. Essy Eisen)
Comments