Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta, 3 April 2011

diposkan pada tanggal 31 Mar 2011 20.28 oleh Essy Eisen   [ diperbarui31 Mar 2011 21.08 ]
Gelapnya hati manusia dan terangNya Kristus

I Sam 16: 1-13; Mzm 23; Ef 5: 8-14; Yoh 9: 1-41

Kota Canberra, ibu kota Australia, dikelilingi danau buatan manusia yang besar. Ketika siang hari, kota itu terlihat cantik dengan paduan taman, gedung, bukit dan danau. Namun ketika matahari tenggelam, danau besar di sekelilingnya membuat kota itu gelap dan agak menakutkan bagi orang yang baru berkunjung.

Bacaan Injil dalam Minggu Pra-Paskah IV juga berbicara tentang dua jenis kegelapan. Pertama kita diajak menjumpai seseorang yang telah buta sejak lahirnya. Bagi orang seperti ini, hanya ada kegelapan dalam kamusnya. Tidak ada cahaya, warna, dan rona yang dikenalnya. Pada kehidupan Tuhan Yesus, orang sepertinya diasosiasikan dengan dosa. Para murid pun bertanya, dosa siapakah yang membuat orang itu buta, apakah dosa orang tuanya atau dosanya sendiri. Daripada berdebat kusir tentang dosa, Tuhan Yesus memilih untuk langsung menyembuhkannya pada Hari Sabat. Kegelapan pun langsung sirna dan terang untuk pertama kalinya mencerahkan hari sang buta. Penulis Injil ingin menunjukkan kepada kita kuasa ilahi Yesus, yang menunjukkan kepada kita, pembacanya, bahwa “Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam namaNya” (Yoh 20: 31). Kegelapan fisik semacam ini rupanya mudah dicerahkan. Yang lebih sulit dicerahkan adalah kegelapan tipe kedua.

Penginjil mengajak kita menjumpai sekelompok Orang Farisi. Masalah mereka bukan indra pengelihatan yang buta. Mata mereka bisa melihat dengan jeli, bisa membaca isi Hukum Taurat dengan terang. Namun, hati mereka gelap oleh keinginan untuk menegakkan peraturan-peraturan, bukan demi kebaikan masyarakat banyak, tapi demi tampilan luar yang saleh. Karena itu bukannya bersukacita dan bersyukur atas mukjizat yang dialami oleh seorang buta, mereka malah sibuk memperkarakan mengapa orang buta disembuhkan di Hari Sabat, dan siapa yang melanggar peraturan Sabat. Hukum keagamaan memang baik untuk mencegah dosa dan mendorong kehidupan yang saleh, tapi ketaatan yang membuta pada hukum keagamaan membuahkan pola pikir picik yang miskin dari kasih kepada Allah dan sesama.

Dalam I Sam 16: 7, TUHAN berfirman, “ Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” Bukan tampilan luar yang saleh yang disukai Allah, hati yang mengasihi Allah itulah yang dicariNya.

Tuhan Yesus benar sekali Ia berkata kepada Orang-Orang Farisi, “Sekiranya kamu buta, kamu tidak berdosa, tetapi karena kamu berkata: Kami melihat, maka tetaplah dosamu.” Justru karena Orang Farisi melihat dengan terang dan dapat membaca Hukum Taurat, kegelapan hati mereka sangat menakutkan. Mereka yang mengaku saleh dan dekat pada Tuhan, ternyata dipenuhi kedengkian pada sesama dan tidak bisa bersukacita bersama orang lain. Merekalah yang justru berdosa.

Kota Canberra yang gelap karena dikelilingi danau bisa diterangi dengan lampu yang banyak, tetapi seluruh lampu di dunia ini tidak akan cukup untuk menerangi hati yang gelap karena dosa. Dalam masa Pra-Paskah, kita dipanggil untuk hidup dalam pertobatan yang sejati, bukan untuk menaati Hukum Taurat dengan membuta atau sibuk mengejar orang-orang yang kita curigai tidak menaati peraturan agama. Hati kitalah yang perlu dicelikkan dengan terang Yesus Kristus. Rasul Paulus berujar, “Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang” (Ef 5: 8).

Agustian N. Sutrisno
Comments