Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta, 3 Juli 2011

diposkan pada tanggal 7 Jul 2011 11.27 oleh Essy Eisen   [ diperbarui7 Jul 2011 11.36 ]
“Memikul Kuk” Kristus

Zakharia 9:9-12, Mazmur 145:8-14, Roma 7:15-25a, Matius 11:16-19, 25-30

Kuk adalah alat kayu yang digunakan pada ternak untuk membantu ternak menarik beban yang dibebankan padanya untuk ditarik. “Memikul kuk yang dipasang Kristus” (Mat 11:29) berarti menerima pengajaran yang disampaikan Kristus dan dengan sukacita mau melakukan ajaran Kristus dalam kehidupan sehari-hari. Kristus lemah lembut dan rendah hati untuk menerima setiap orang yang penuh dengan keterbatasan dan kelemahan. Ketimbang memberikan solusi yang “meninabobokan dan memanjakan”, Kristus mengajak setiap orang yang mengalami kegelisahan jiwa dalam menghadapi pergumulan hidup, untuk berjalan bersama-Nya, menggunakan cara hidup-Nya, menggunakan cara berelasi yang baru dengan Bapa dan sesama manusia. Melalui karya pekabaran Injil Kerajaan Allah yang disampaikan-Nya, Kristus menunjukkan pola sikap Allah yang sejati kepada umat manusia, yaitu pola sikap yang memberikan kasih setia dan penerimaan ketimbang banyak menuntut, membenci dan mempersalahkan.

Pada saat Kristus berkarya di bumi, orang-orang yang dijumpai dan menjumpai-Nya mengalami “beban berat”, karena tuntutan-tuntutan agamawi dan politik menghujani mereka sebagai syarat untuk diterima satu sama lain. Disatu pihak para pemuka agama (orang Farisi dan ahli Taurat yang menolak Kristus) mengajarkan bahwa untuk dapat menerima kebaikan Allah orang harus menjalankan rupa-rupa kewajiban agama dengan membabibuta. Pada sisi lain tekanan penjajah Romawi mengikis solidaritas di antara mereka, sehingga kasih kepedulian menjadi dingin dan penuh dengan tindakan manipulatif. Mereka menjadi orang yang tinggi hati dan mengabaikan karya kasih. Mereka tidak menerima pengajaran kasih yang disampaikan Kristus dan hamba-hamba Allah yang lain yang diutus-Nya (Mat 11:16-19).

Tetapi Kristus juga menjumpai jenis orang-orang yang lain. Ia menjumpai orang-orang yang “tidak dianggap secara sosial”, yang rendah hati, yang mau mencari Allah dengan ketulusan hati, yang merindukan karya kasih Allah hadir dalam kehidupan mereka, untuk menyapa dan memulihkan keberdosaan mereka (Mat 11:25-27). Terhadap orang-orang yang “berbeban berat, letih dan lesu” tetapi rindu untuk disapa dan dibentuk Allah inilah, Kristus menawarkan ajakan: “Marilah datang kepada-Ku”. Mereka diajak untuk meneladani Kristus, menghadapi beban kehidupan mereka dengan menggunakan cara Kristus, dengan “memikul kuk” Kristus.

Mengikut Kristus tidak sama dengan menerima kelegaan yang gampangan. Mengikut Kristus berarti menjadi cukup rendah hati untuk mengakui bahwa sebagai manusia memang kita lemah dan mudah digoda dosa. Tetapi seiring pengakuan itu, kita juga kuat! Sebab dikuatkan Kristus untuk melangkah dalam kebaruan pemulihan hidup melalui cara pandang-Nya. Kita diterima Allah Bapa yang penuh anugerah saat kita dengan rela membuang egoisme dan egosentrisme kita (Rm 7:15-25a). Dalam iman akan penerimaan dan pemeliharaan Allah yang setia itu, kita tidak lagi disibukan dengan pertanyaan “Bagaimana cara aku mengatasi beban hidup ini? atau Sampai berapa lama lagi Tuhan?” tetapi dengan kerendahan hati kita menjawab tantangan kehidupan itu dengan “Aku mau berjalan dengan-Mu Kristus, Aku percaya janji-Mu Bapa” (Zak 9:9-12, Mzm 145:8-14).

(Pdt. Essy Eisen)
Comments