Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 3 Maret 2013

diposting pada tanggal 27 Feb 2013 13.52 oleh Essy Eisen   [ diperbarui 9 Mei 2014 01.50 oleh Admin Situs ]
Kembali kepada Tuhan, kembali pada kesejatian hidup! 

Yesaya 55:1-9, Mazmur 63:2-9, 1 Korintus 10:1-13, Lukas 13:1-9

Kesejatian hidup maksudnya hidup sebagaimana yang Allah maksudkan pada awal penciptaan. Hidup yang lebih dari pada nafas belaka, tetapi hidup yang memiliki makna dan tujuan yang benar. Pada awalnya manusia sunguh-sungguh bersahabat dengan Allah, percaya akan tuntunan-Nya dan dengan nyata memberlakukan kasih-Nya tanpa beban. Namun manusia memilih menjauhi Allah. Manusia ingin jalan sendiri tanpa tuntunan. Pikiran dan hatinya tidak lagi terarah kepada Allah yang mengasihi, tetapi malah terarah kepada emosi negatif yang tidak terkendalikan lagi. Manusia malah memilih untuk terseret dalam “hisapan lumpur dosa” yang mematikan. Allah menjadi musuhnya. Sesama ciptaan yang lain juga menjadi musuhnya.

Allah tentu mendidik dengan tegas sikap manusia yang memilih untuk menjauhi-Nya itu. Sebab jika terus-menerus berada dalam keadaan yang demikian, manusia hanya akan menyakiti dirinya sendiri dan sesama ciptaan-Nya. Sedangkan yang Allah inginkan adalah kebaikan, kebenaran dan keharmonisan yang indah. Di balik didikan Allah yang tegas, tetap saja, kasih-Nya jelas terlihat. Allah benci tindakan manusia yang bermusuhan dengan-Nya, tetapi pada sisi lain Allah mengasihi pribadi yang telah Ia ciptakan dengan indah dan mulia itu.

Melalui Yesaya, kita menjumpai Allah yang menawarkan anugerah pembaruan-Nya pada umat-Nya yang berada dalam kemelut dosa demikian: Ayo, hai semua orang yang haus, marilah dan minumlah air, dan hai orang yang tidak mempunyai uang, marilah! Terimalah gandum tanpa uang pembeli dan makanlah, juga anggur dan susu tanpa bayaran! Mengapakah kamu belanjakan uang untuk sesuatu yang bukan roti, dan upah jerih payahmu untuk sesuatu yang tidak mengenyangkan? Dengarkanlah Aku maka kamu akan memakan yang baik dan kamu akan menikmati sajian yang paling lezat. (Yes. 55:1-2)

Bagaimana seharusnya manusia menanggapi kasih sayang Allah yang besar itu? Sikap Pemazmur dapat menjadi contoh yang baik. Pemazmur berkata: Ya Allah, Engkaulah Allahku, aku mencari Engkau, jiwaku haus kepada-Mu, tubuhku rindu kepada-Mu, seperti tanah yang kering dan tandus, tiada berair. Demikianlah aku memandang kepada-Mu di tempat kudus, sambil melihat kekuatan-Mu dan kemuliaan-Mu. Sebab kasih setia-Mu lebih baik dari pada hidup; bibirku akan memegahkan Engkau. (Mzm. 63:2-4)

Dalam karya Kristus, kita kembali tertegun oleh kasih Allah yang memberi kesempatan baru dalam hidup itu. Dalam pembacaan Injil hari ini (Lukas 13:1-9), Kristus mengundang setiap orang untuk kembali kepada Allah, menikmati kesejatian hidup, singkatnya: bertobat! Hidup di dalam dosa hanya akan berujung kepada kebinasaan. Tetapi hidup dalam naungan kasih dan tuntunan Allah akan memberikan damai sejahtera. Melalui kisah perumpamaan pohon ara yang tidak berbuah, seolah-olah Yesus ingin mengajak setiap orang untuk melihat betapa besar-Nya kasih Allah, seperti si pengurus kebun anggur yang memberikan kesempatan bagi pohon ara yang tidak berbuah itu untuk berbuah. Bahkan ia menolong pohon itu dengan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya. Sungguh sebuah anugerah yang besar!

Oleh sebab itu sangat disayangkan kalau melihat kasih Allah yang besar itu, manusia masih saja menjadi penyembah berhala (materialisme, hedonisme, egosentrisme) atau melakukan percabulan (menduakan Allah dengan tetap melakukan kebodohan dosa) atau mencobai Allah (dengan meragukan kuasa kasih-Nya dan memilih jalan sendiri) atau bersungut-sungut (dengan tidak mensyukuri segala berkat Allah). Paulus mengingatkan gereja Tuhan Yesus di Korintus untuk mewaspadai tindakan ceroboh itu dalam 1 Korintus 10:7-10. Indahnya, Paulus menegaskan, walaupun manusia memilih bermain-main dalam pencobaan (1 Kor. 10:9), Allah tetap menolong manusia untuk kembali kepada-Nya (1 Kor. 10:13). Sungguh lagi-lagi kita menjumpai berita anugerah yang ajaib!

Pertanyaan Aplikasi
  1. Apakah Anda pernah mendapat didikan yang tegas dari Allah? Apa sebabnya? 
  2. Apakah Allah menghukum orang berdosa? Jika ya, mengapa? Jika tidak, mengapa?
  3. Apa yang menjadi tanggapan Anda saat Allah memberikan kesempatan baru bagi Anda dengan tidak mengingat dosa-dosa Anda yang dahulu? Apa makna bertobat bagi Anda?
(Pdt. Essy Eisen)
Comments