Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 3 November 2013

diposting pada tanggal 31 Okt 2013 20.44 oleh Admin Situs
Perubahan besar di kehidupanku, sejak Yesus di hatiku 

Yesaya 1:10-18, Mazmur 32:1-7, 2 Tesalonika 1:1-4, 11-12, Lukas 19:1-10

Kepada nabi Yesaya, Tuhan menasihatkan umat-Nya untuk memiliki motivasi yang benar dalam beribadah kepada-Nya (Yesaya 1:10-18). Adakalanya ungkapan syukur umat melalui persembahan tidak dilakukan dengan kesungguhan dan ketulusan hati. Selain itu, ibadah yang dilakukan, masih diiringi dengan kejahatan kepada sesama. Satu sisi mulut mereka mengucapkan doa, tetapi pada sisi lain, tindakan mereka berkebalikan dengan kata-kata doa yang mereka naikan.

Namun Tuhan setia dengan kasih-Nya. Ia memberikan kesempatan baru bagi umat untuk berhenti berbuat jahat dan belajar berbuat baik. Ibadah dan doa mereka harus senantiasa diikuti dengan usaha-usaha menyatakan keadilan. Para pemimpin diajak untuk mengendalikan orang kejam dan membela hak-hak orang yang tidak mampu seperti anak-anak yatim dan janda-janda.

Sebagai seorang yang merasakan bahwa kasih sayang Tuhan itu menyapa kehidupan orang-orang yang berbeban berat karena dosa, Pemazmur menyanyikan Mazmurnya (Mazmur 32:1-7). Pemazmur berujar: “Engkaulah persembunyian bagiku, terhadap kesesakan Engkau menjaga aku, Engkau mengelilingi aku, sehingga aku luput dan bersorak.” Pemazmur bersyukur sebab nasihat Tuhan yang membimbingnya lepas dari kuasa dosa. Luput dari ikatan kuasa dosa telah menjadi kebahagiaan yang luar biasa bagi Pemazmur.

Kasih sayang Allah yang besar itu kentara sempurna di dalam tindakan Tuhan Yesus Kristus bagi dunia ini. Lukas mencatat di kota Yerikho, ada seorang yang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai yang kaya. Besar dugaan, Zakheus menjadi kaya karena melakukan pekerjaannya sebagai koordinator para pemungut cukai dengan tidak jujur. Biasanya orang yang seperti dia itu tidak banyak memiliki sahabat dan secara sosial mendapat cerca dan kutuk tersendiri dari khalayak.

Tetapi rupanya Zakheus sayup-sayup dalam kesepian hidupnya, telah mendengar tentang nama Yesus. Ya! Yesus yang acapkali justru terdengar akrab menjangkau orang-orang yang memiliki stigma sosial yang tidak terpandang seperti orang kusta, perempuan pelacur, anak-anak, orang buta, dan orang berdosa. Zakheus ingin menjumpai Yesus!

Zakheus berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak, sebab badannya pendek. Entah apa yang terjadi saat itu. Bisa jadi ia terkena sikutan, cacian, cibiran, pandangan yang merendahkan dalam kerumunan orang banyak itu. Tetapi kerinduannya untuk mengalami perjumpaan dengan Yesus tidak menipiskan semangatnya.

Terhalang karena badannya pendek, Zakheus pun berlari mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara. Zakheus melakukan perhitungan yang tepat tentang rute yang akan dijalani Yesus. Perhitungannya tepat! Bahkan lebih dari yang diharapkan, ketika Yesus sampai ke tempat “tangkringan”nya itu, Yesus melihat ke atas dan berkata kepadanya, "Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu." Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita!

Melihat hal itu, semua orang mulai bersungut-sungut, katanya, "Yesus menumpang di rumah orang berdosa." Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan, "Tuhan, lihatlah, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat." Kata Yesus kepadanya, "Hari ini telah terjadi keselamatan kepada seisi rumah ini, karena orang ini pun anak Abraham. Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang."

Bagi kita, kisah yang sudah akrab ini kembali memberitakan kabar baik yang besar, bahwa Allah mengasihi kita yang lemah, yang rindu untuk menjumpai-Nya dengan tulus. Bukan hanya itu, pertobatan dari Zakheus ini juga menolong kita untuk berani menghasilkan buah-buah pertobatan yang nyata dalam hidup kita juga! Sekarang ini.

Dengan pertolongan Roh Kudus dan hikmat Firman Tuhan, lagi dan lagi kita tersadarkan supaya iman yang sejati makin bertambah, serta kasih kita seorang terhadap yang lain makin kuat. Pada saatnya, kehidupan kita akan menjadi contoh bagi orang lain. Saat kita memilki ketabahan dan iman dalam segala penganiayaan dan penindasan yang diderita, kita tengah menjadikan nama Yesus, dimuliakan dalam kehidupan kita.

(Pdt. Essy Eisen)
Comments