Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta, 5 Juni 2011

diposkan pada tanggal 7 Jul 2011 11.15 oleh Essy Eisen
Mengapakah kamu melihat ke langit?

Kisah Para Rasul 1: 6-14

Sewaktu mulai bekerja di UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization/ Lembaga Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa), saya harus mengikuti pelatihan keselamatan dan keamanan kerja. Salah satu modul pelatihan itu mengajarkan cara mengenali arah melalui rasi-rasi bintang. Ini penting kalau suatu saat staf UNESCO tersesat di hutan belantara ketika malam hari selagi melaksanakan mandat. Sejujurnya, ketika mengikuti pelatihan itu, saya rasa itu semua buang-buang waktu. Saya toh tidak bertugas di daerah perang atau terpencil. Saya bertugas di kantor perwakilan UNESCO Jakarta dan jika saya tersesat pada malam hari di Jakarta, tidak ada gunanya pengetahuan membaca rasi-rasi bintang sebab polusi udara membuat hampir tidak ada bintang yang terlihat di langit Jakarta. Namun, belakangan ini saya rasa pelatihan itu ada gunanya juga—bukan untuk mencari arah ketika tersesat di malam hari, tetapi untuk mengagumi rasi-rasi bintang. Saya jadi senang memandangi langit malam di Australia. Biarpun kota Brisbane berpenduduk relatif padat dan berhambur cahaya lampu, saya bisa mengamati rasi-rasi bintang dengan sangat jelas.

Selepas Tuhan Yesus naik ke sorga, para murid terus memandang ke langit. Tentu itu adalah pemandangan yang spektakuler. Tidak sering terjadi manusia terangkat ke langit dan hilang dari pandangan mata di antara awan-awan. Apalagi yang terangkat ke langit itu adalah guru mereka, orang yang mereka kenal sehari-hari selama tiga tahun belakangan. Namun, dua malaikat mengingatkan mereka, “Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga.”

Peringatan ini mengandung dua makna penting. Pertama, para murid tidak boleh terpaku pada pemandangan hebat yang ada di hadapan mereka. Peristiwa kenaikan Tuhan Yesus ke sorga tidak boleh berhenti pada kekaguman belaka. Apakah manfaatnya mengetahui Tuhan Yesus sekarang duduk di sebelah kanan Allah Bapa, jika itu tidak diikuti tindakan nyata?

Kedua, para murid diingatkan bahwa guru mereka akan datang kembali ke dunia ini. Ia tidak pergi selama-lamanya. Ia akan kembali lagi dan Ia akan kembali ke dunia ini. Dunia ini menjadi titik tolak Tuhan Yesus naik ke sorga dan titik kembalinya Dia suatu hari nanti. Di dunia inilah kita sebagai pelanjut murid-murid Kristus perlu berkarya dan menghasilkan segala sesuatu yang baik demi kemuliaan Dia yang duduk di sebelah kanan Allah Bapa. Kita tidak boleh terus menerus mengagumi segala hal luar biasa yang disaksikan Injil tentang juruselamat kita sampai lupa bahwa di dunia ini kita punya tugas dan tanggung jawab. Kita juga tidak boleh terbius oleh harapan akan sorga yang mulia sampai kita lupa bahwa kita hidup saat ini, di sini, di dunia ini.

Mengenai hal ini, reformasi gereja dan Pencerahan (Aufklarung) di Eropa lima ratus tahun yang lalu membawa perubahan besar dalam cara pandang gereja tentang peranan manusia di dunia. Manusia tidak lagi dipandang sebagai peziarah yang hanya sementara saja melewati dunia ini untuk menuju ke sorga (viator mundi). Manusia juga adalah pekerja di dunia ini yang mengubah dan memperindah dunia tempatnya tinggal (faber mundi). Oleh karena itu, tugas gereja bukanlah menyiapkan anggota jemaat untuk siap masuk sorga. Tentulah kita semua ingin masuk sorga, tetapi biarlah selagi kita ada di dunia, mata kita tertuju pada dunia tempat kita tinggal. Apa yang dapat kita lakukan untuk dunia yang rusak oleh dosa? Apa yang dapat kita lakukan untuk menolong sesama yang terpinggirkan? Apa yang dapat kita lakukan agar dapat memandang langit Jakarta yang bebas dari polusi sehingga kita boleh mengagumi rasi-rasi bintang ciptaan Allah? Ini semua adalah tanggung jawab Kristiani yang bertolak dari pemahaman bahwa Tuhan Yesus naik ke sorga. Ini semua adalah tanggung jawab gerejawi.

Kenaikan Tuhan Yesus ke sorga tidak serta-merta membawa pandangan kita ke langit, ke sorga yang mulia, tempatNya duduk di sebelah kanan Allah Bapa. Kenaikan Tuhan Yesus ke sorga sebaliknya menolong kita untuk menghayati bahwa saat ini tempat kita di dunia ini dan dengan pertolongan Tuhan Yesus yang telah mendapat segala kehormatan dan kuasa di sorga, kita dipanggil untuk menjadi saksinya di sini, saat ini. Apa yang mau kita (baca: gereja) buat?

(Agustian N. Sutrisno)
Comments