Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 6 April 2014

diposkan pada tanggal 4 Apr 2014 02.27 oleh Admin Situs
Yesus berkata: Akulah Kebangkitan dan Hidup!

Yehezkiel 37:1-14, Mazmur 130, Roma 8:6-11, Yohanes 11:1-17, 33-36, 39-45

Nabi Yehezkiel mendapatkan penglihatan suci yang penuh makna tentang pengharapan hidup orang percaya, yang terjadi karena pertolongan Allah. Dengan menggunakan penggambaran hidupnya kembali tulang-tulang kering karena kuasa Roh Allah, Yehezkiel diperintahkan Allah untuk menyampaikan janji pemeliharaan Allah terhadap umat-Nya yang sedang putus asa dan kehilangan pengharapan karena pembuangan, jauh dari kampung halaman mereka (Yeh. 37:11).

Oleh sebab itu, ketimbang berkeluh-kesah, umat sepatutnya berdoa, sebagaimana doa pemazmur dalam Mazmur 130:5-7. “Aku menanti-nantikan TUHAN, jiwaku menanti-nanti, dan aku mengharapkan firman-Nya. Jiwaku mengharapkan Tuhan lebih dari pada pengawal mengharapkan pagi, lebih dari pada pengawal mengharapkan pagi. Berharaplah kepada TUHAN, hai Israel! Sebab pada TUHAN ada kasih setia, dan Ia banyak kali mengadakan pembebasan.”

Di dalam perjanjian-Nya yang baru, Allah setia pada janji pemeliharaan-Nya yang menyatakan kehidupan. Yesus mendengar kabar bahwa Lazarus, sakit. Ia kenal Lazarus, juga saudara-saudaranya. Bahkan dikatakan Yesus mengasihi Lazarus. Namun jika demikian, mengapa Yesus dengan sengaja menunda kedatangan-Nya dengan segera kepada Lazarus? Rupanya ada hal-hal yang memang tidak dapat kita paksakan kepada Yesus. Tetapi yang pasti, apa yang menjadi rencana dan tindakan Yesus kita imani baik. Dan memang demikian adanya. Di mata Yesus, setiap peristiwa kehidupan adalah sarana untuk menyatakan kemuliaan Allah.

Daerah tempat Lazarus tinggal adalah daerah Yudea, dekat Yerusalem. Kita mengetahui bahwa orang-orang yang hendak menyakiti Yesus karena ketegaran hati mereka untuk menerima Kristus, banyak tinggal di daerah Yerusalem dan sekitarnya. Keputusan Yesus untuk kembali ke Yudea, menjumpai Lazarus yang Ia ketahui sudah meninggal, adalah bukti betapa besar kasih Kristus bagi setiap orang yang bersedih. Namun perhatikan bahwa terang hikmat yang ada bersama dengan Kristus, memampukan Kristus untuk terus melangkah dan melakukan perkara baik Allah tanpa gentar.

Yesus tiba di tempat perkabungan. Lazarus sudah empat hari mati. Suasana perkabungan yang dipenuhi dengan isak tangis membuat hati Yesus sedih dan terharu. Lalu menangislah Yesus. Ia menangis karena turut merasakan apa yang dirasakan oleh orang-orang yang kehilangan Lazarus. Dalam doa syukur dan kuasa Allah yang menyertai Yesus, Lazarus diundang Yesus keluar dari kuburnya. Lazarus hidup kembali! Tidak sia-sia orang yang menaruh pengharapan kepada Allah melalui Kristus. Kebangkitan Lazarus menjadi tanda bahwa sungguh benar Yesus Kristus adalah kebangkitan dan hidup. Ia menghadirkan dan menyatakan pembaruan dalam hidup orang-orang yang percaya kepada-Nya.

Sebagai pengikut Kristus, Paulus mengajarkan bahwa hidup orang Kristen adalah hidup dalam kesediaan untuk dihidupi oleh Roh Kristus (Rm. 8:9). Dengan kekuatan Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, yang tinggal di dalam diri orang percaya, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuh kita yang fana itu oleh Roh-Nya yang tinggal di dalam kita (Rm. 8:11).

Jika Yesus Kristus berkata: “Akulah kebangkitan dan hidup”, maka itu bukanlah omong kosong. Dari peristiwa kebangkitan Lazarus yang terjadi karena kehadiran Kristus ini, kita menjumpai kenyataan bahwa Allah bukanlah Allah yang menikmati kematian dan kehancuran anak-anak-Nya. Allah adalah sumber kehidupan. Allah memahami kebutuhan anak-anak-Nya untuk mendapatkan kehidupan. Adalah pengakuan iman kita bahwa pada saat-Nya, sesuai dengan waktu, rencana dan kehendak-Nya, kepada semua yang percaya kepada Yesus Kristus, kita akan dibangkitkan dari kematian.

Tetapi tentu bukan sekadar itu saja. Kitapun percaya “kebangkitan-kebangkitan lain” yang terjadi dalam hidup kita yang mampu dihadirkan Kristus dengan nyata bagi yang percaya. Di tengah beratnya tekanan hidup atau masalah-masalah di dalam relasi kita dengan sesama acap kali kita menjadi seperti orang mati, tidak bisa melakukan apa-apa, kering dan tanpa pengharapan. Di tengah-tengah suara bising dalam hidup yang acap kali menyuarakan ancaman yang berujung pada kematian dan pesimisme, kita seperti dililit oleh kain kafan dan ada dalam gua yang pengap sehingga kehilangan vitalitas hidup kita. Acapkali “suasana maut tanpa pengharapan” itu melanda hidup kita juga bukan?

Lalu apa tanggapan kita? Mari kita belajar percaya. Mari berjalan menempuh resiko bersama Sang Terang Dunia di tengah gelapnya perjalanan hidup. Mari mendengar suara Kristus yang memanggil: “Keluar!” dari “kuburan” ketakutan, pesimisme, keraguan kita. Mari tanggalkan “pakaian kuburan” yang hanya menghambat gerak hidup kita berjalan bersama Kristus. Ya dan Amin. Kita akan dibangkitkan-Nya, dan dihidupkan-Nya!

(Pdt. Essy Eisen)
Comments