Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta, 6 Nopember 2011

diposting pada tanggal 4 Nov 2011 20.52 oleh Essy Eisen
Bijaksana Menggunakan Waktu

Amos 5:18-24, Mazmur 70, 1 Tesalonika 4:13-18, Matius 25:1-13

Tidak terasa kita sudah tiba di penghujung tahun 2011. Waktu berjalan dengan cepat. Begitu banyak kejadian dan peristiwa dalam hidup kita. Ada suka, ada duka. Ada orang yang ingin supaya waktu dapat berjalan mundur kembali, supaya ia dapat melakukan apa-apa yang seharusnya ia lakukan sebelumnya. Ada orang yang berharap supaya waktu dapat berhenti, karena saat ini ia sedang mengalami hal-hal yang menyenangkan. Ada orang yang berharap supaya waktu dapat berjalan dengan cepat, karena penderitaan yang terasa berat yang dialami cukup lama. Tetapi tentu keinginan-keinginan itu sia-sia. Sebab waktu tidak dapat diputar mundur, diberhentikan atau dipercepat. Waktu berjalan sesuai dengan ritme yang sudah ditentukan oleh Tuhan. Orang tidak boleh mengkambinghitamkan waktu. Caranya dalam menggunakan waktu itulah yang sebenarnya menjadi hal yang penting dan berharga.

Komunitas apapun, akan mengalami bahaya jika para pemimpinnya mengabaikan keadilan dan kebenaran. Perhatian kepada yang lemah dan membutuhkan pertolongan harus menjadi prioritas. Kadang-kadang beragam alasan yang egois menghambat orang untuk menyatakan kasih. Waktu yang ada disia-siakan dengan hidup yang tidak peduli. Pada saat Tuhan menyatakan kehendak-Nya, atau dalam bahasa Amos, “Hari Tuhan”, setiap tindakan akan mendapatkan balasan yang sepadan. Oleh sebab itu bagaimana orang menjalani kehidupan yang penuh kepedulian kepada sesama akan terkait dengan apa yang akan terjadi di kemudian hari (Am 5:18-24). Amos mengajak kita mengisi waktu dengan kepedulian kepada sesama.

Orang-orang Kristen di Tesalonika sempat bingung akan apa yang terjadi dengan saudara-saudara mereka yang telah meninggal saat nanti Kristus datang kembali. Paulus menasihatkan bahwa sesuai dengan janji Kristus, mereka akan menerima apa yang baik sesuai dengan iman, pengharapan dan kasih yang mereka hidupi. Mereka akan dipersatukan dengan Kristus untuk menerima janji itu. Pengikut Kristus percaya bahwa kebangkitan Kristus menjadi kebangkitan hidup mereka juga untuk mengatasi dan melampaui segala tragedi yang terjadi pada saat Tuhan menyatakan kuasa-Nya (1 Tes 4:13-18). Nasihat Paulus ini menjadi pengharapan kepada kita untuk tetap terus melangkah dalam iman, pengharapan dan kasih di tengah kesusahan dan dukacita yang menerpa kehidupan kita.

“Mempersiapkan minyak bagi pelita yang dibawa” adalah arahan yang jelas bagi para pengikut Kristus. Melalui perumpamaan tentang gadis-gadis yang bijaksana dan yang bodoh ini, kebijaksanaan dalam hidup beriman tampak dalam kesiapsediaan untuk mengelola segala sumber daya anugerah Allah dengan baik. Antisipasi harus dilakukan dengan cermat. Dalam menantikan kedatangan Kristus kembali, orang harus mengisi hidupnya dengan kebajikan dan kebaikan sesuai ajaran dan teladan Kristus (Mat 25:1-13). Saat Kristus menyatakan kuasa-Nya, segala sesuatu akan dinyatakan setegas-tegasnya. Jangan sampai kita menjadi orang yang bodoh dan tidak menyadari apa yang sudah sedari dahulu Kristus ingatkan dan ajarkan.

Tidak ada kata terlambat untuk berubah dan mengelola kembali apa yang belum dikelola dengan baik. Dalam kasih karunia penyertaan Allah, kita mendapatkan hikmat untuk bijaksana dalam mengelola waktu. Kita mengisinya dengan menunjukan kasih dan kepedulian yang nyata kepada orang yang membutuhkan. Kita dimampukan Tuhan untuk tidak menyerah dalam kesusahan hidup. Dengan mata yang terarah kepada segala kebaikan yang Kristus sediakan pada kedatangan-Nya, kita isi kehidupan kita dengan penuh makna. Pada saat-Nya nanti segala harapan kita yang selaras dengan janji-Nya menjadi nyata, kala kita setia.

(Pdt. Essy Eisen)
Comments