Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta, 7 Agustus 2011

diposkan pada tanggal 4 Agt 2011 02.27 oleh Essy Eisen
"Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?”

1 Raja-Raja 19:9-18, Mazmur 85:8-13, Roma 10:5-15, Matius 14:22-33

Tuhan Yesus memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang. Sementara itu Ia berdoa seorang diri (Mat 14:22-23). Ia mengambil saat teduh untuk mencari kekuatan setelah kejadian yang dialami sepupu, rekan pelayanan-Nya, Yohanes Pembaptis yang dibunuh Herodes. Sebuah pergumulan yang pernah dialami juga oleh Elia (1 Raj 19:9-10). Mereka mengalami tekanan dari orang-orang yang menjahati pelayan Allah.

Dalam pergumulan Elia, daya alam dalam angin, gempa dan api tidak memperlihatkan penyataan Allah. Melalui bunyi angin sepoi-sepoi basa, Elia merasakan kehadiran Allah dan bersedia beranjak dari kesendiriannya untuk mendengarkan sapaan Allah dan mengikuti Firman-Nya. Dalam ketenangan ternyata Allah hadir, memampukan Elia melanjutkan pelayanan dan pengutusannya kepada dua orang Raja yang diurapinya dan seorang nabi yang kelak menggantikannya (1 Raj 19:12-18). Benarlah apa yang dikatakan pemazmur: “Sesungguhnya keselamatan dari pada-Nya dekat pada orang-orang yang takut akan Dia, sehingga kemuliaan diam di negeri kita” (Mzm 85:10). Hingar bingarnya hidup kita dan tekanan yang datang menghadang, dapat diobati dengan kelegaan dari Allah saat orang menghidupi keheningan yang tulus untuk mendengarkan suara-Nya.

Dalam dan melalui ketenangan di dalam doa, Yesus mendapatkan kekuatan untuk terus melanjutkan karya-Nya. Bukan hanya itu, sekitar jam tiga malam, Ia beranjak untuk menguatkan murid-murid-Nya yang sedang ada di dalam kesusahan karena perahu mereka sedang diombang-ambingkan gelombang oleh angin sakal. Kedatangan Yesus kepada murid-murid-Nya dengan berjalan di atas air memperlihatkan bahwa Ia sungguh berkuasa bukan hanya atas kebutuhan keseharian hidup manusia berupa roti dan ikan, tetapi juga atas daya alam yang acapkali menakutkan bagi manusia. Namun reaksi murid-murid sungguh menggelikan pada awalnya. Sebab mereka mengira Tuhan itu hantu. Perkataan Yesus: “Tenanglah, Aku ini jangan takut!”, menunjukan bahwa Yesus ingin murid-murid bukan saja mengenal diri-Nya, tetapi juga mengalami kuasa-Nya yang menyelamatkan (Mat 14:24-26).

Adalah Petrus, yang kemudian merasa ragu dan ingin mengetahui lebih lanjut kuasa Allah di dalam Yesus itu. Petrus keluar dari perahu, berjalan di tengah air yang bergelombang untuk mendapatkan Yesus. Kebimbangan Petrus membuatnya menjadi takut dan mulai tenggelam. Yesus segera menolong Petrus yang bimbang. Yesus dan Petrus bersama murid-murid naik ke perahu dan anginpun reda. Sadarlah mereka, bahwa Yesus sungguh Anak Allah (Mat 14:28-33). Petrus dalam peristiwa-peristiwa bersama Yesus memang acapkali menunjukan kebimbangannya. Kita ingat penyangkalannya (Mat 26:33-35) dan juga kesalahmengertiannya mengenai karya Kristus (Mat 16:21-23). Tetapi kita juga mengingat perutusan Yesus bagi Petrus sebagai pemimpin Gereja (Mat 16:18). Apa maknanya?

Gereja -dalam arti “orang-orang yang berkumpul di dalamnya”- acapkali diumpamakan dengan wujud perahu atau bahtera yang sedang mengarungi gelombang. Simbolisasi ini juga yang digunakan dalam logo GKI. Sebuah perahu dengan salib sebagai pusatnya sedang mengarungi gelombang melambangkan tugas perutusan GKI yang tidak mudah di dunia ini, dengan penyertaan Allah Yang Maha Kuasa, yang disimbolkan dengan huruf Alpa dan Omega. Gereja dapat mengalami gelombang. Pemimpin gereja dapat mengalami kebimbangan. Umat dapat mengalami ketakutan dan mengalami disorientasi pengenalan kuasa Allah. Oleh sebab itu kata-kata Yesus: "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” sebenarnya bukan saja untuk Petrus, tetapi juga untuk kita sekarang ini. Ini menjadi sebuah pengingat bahwa betapa dekatnya Yesus yang berkuasa atas alam itu di tengah-tengah ketakutan-ketakutan dan kebimbangan Gereja dalam menjalankan tugas perutusannya. Paulus mengatakan: “Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan.” (Rm 10:13)

Sebagai Gereja, kita terus “berlayar” menuju labuhan abadi, baik bersama-sama dalam “perahu” GKI maupun secara mandiri melalui tugas dan panggilan kita sehari-hari dalam pekerjaan, di tengah keluarga dan masyarakat. Saat angin bertiup keras dan gelombang menghempas kehidupan kita, apakah kita cukup jeli untuk mendengarkan Yesus yang berkata: ““Tenanglah, Aku ini jangan takut!”?

(Pdt. Essy Eisen)
Comments