Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 7 April 2013

diposting pada tanggal 5 Apr 2013 09.38 oleh Essy Eisen
Minggu “Tomas”

Kisah Para Rasul 5:27-32, Mazmur 118:13-29, Wahyu 1:4-8, Yohanes 20:19-31

Kristus hidup. Ia memberikan kekuatan kepada murid-murid-Nya yang mengurung diri dalam pintu yang terkunci. Demikian Injil Yohanes 20:19-31 mengisahkan. “Damai sejahtera bagi kamu!”, demikian kata Kristus. Sebuah sapaan salam keseharian yang umum pada zaman itu, tetapi memberikan kesan yang mendalam, sebab terbukti bahwa Kristus tetap hadir dalam keseharian hidup untuk menunjukkan kuasa kasih yang tidak dapat dihentikan oleh hentakan maut sekalipun.

Kristus menunjukkan tangan dan lambung-Nya. Ya. Tangan dan lambung yang ada bekas luka. Ini merupakan penegasan dari Kristus bahwa sungguh Dialah yang hadir. Tetapi penunjukkan luka-luka itu juga memberikan makna yang dalam bahwa, itulah tanda cinta, tanda perjuangan kasih, yang berujung kepada kemenangan, kepada kehidupan. Lalu Kristus mengaruniakan kepada murid-murid, Roh Kudus. Bersama Roh Kudus, kelak mereka akan selalu dimampukan Kristus untuk melanjutkan karya kasih-Nya sampai kesudahannya. Karya kasih yang berisikan kesempatan baru bagi setiap orang untuk menikmati kedamaian karunia Allah dalam hidup yang diampuni.

Ada seorang murid Yesus yang tidak sempat hadir pada perisitwa itu. Tomas namanya. Tomas yang pernah berkata: "Marilah kita pergi juga untuk mati bersama-sama dengan Dia." (Yoh. 11:16) sewaktu Yesus hendak menuju Yerusalem dalam menghadapi siksa dan derita. Ada di mana Tomas? Injil tidak mengisahkannya. Namun Injil mengisahkan bahwa sekembalinya Tomas kepada kumpulan murid-murid, ia tidak begitu saja percaya. Tomas ragu.

Namun Yesus tidak mempersalahkan keraguan Tomas. Yesus tahu, keraguan itu, jika dijalani dengan hikmat yang benar akan berujung kepada iman yang tangguh. Jika seseorang mengatakan tidak pernah mengalami keraguan, jangan-jangan ia menempatkan diri di atas Kristus sendiri. Sebab bukankah Yesus pun pernah ragu? Di atas kayu salib Ia berseru: “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”(Mrk.15:34)

Iman yang otentik memang selalu dimulai dengan kejujuran intelektual dan keraguan ialah tanda yang jelas akan kejujuran itu. Iman yang kokoh biasanya terjadi bukan tanpa keraguan, tetapi pada saat seseorang berhasil melampaui keraguan! Oleh sebab itu kita boleh selalu berdoa kepada Tuhan, “Ya Tuhan, aku percaya, tolonglah aku yang kurang percaya ini.”

Melihat pertumbuhan iman Tomas sepertinya kitapun dapat melihat pertumbuhan iman kita juga. Yesus memperhitungkan setiap orang yang tidak melihat peristiwa penampakkan-Nya secara langsung sebagai orang-orang yang terberkati (Yoh. 20:29). Artinya, dalam keraguan yang acap muncul dalam proses pertumbuhan iman kita, melangkahlah, pada saat-Nya Kristus akan menolong kita untuk menemukan dan memahami keajaiban kuasa pemeliharaan-Nya.

Minggu Paska II ini mungkin dapat kita sebut sebagai Minggu “Tomas”. Sebab dalam Minggu ini, kita melihat dan memaknakan kembali sosok Tomas yang tidak mudah percaya, namun akhirnya melampaui ketidakpercayaannya itu dalam kemenangan iman yang memulihkan hidupnya. Apa makna Minggu “Tomas” ini bagi kita saat ini? Pertama, kita belajar tentang “trust” atau “mempercayakan diri”. Ya. Kita belajar untuk “mempercayakan diri” kita kepada Kristus yang telah mempercayakan pengutusan-Nya kepada murid-murid-Nya. Yesus membangun kepercayaan diri murid-murid saat Ia menghadirkan diri-Nya di tengah keputusasaan murid-murid. Kedua, kita belajar untuk percaya akan kehadiran orang lain yang memberi makna bagi hidup kita. Dalam proses itu, kita belajar untuk tidak selalu menuntut dan memerintah, tetapi mendelegasikan dan memberikan keteladanan. Pada akhirnya, dalam percaya yang benar kepada Kristus, dan percaya akan makna kehadiran orang lain yang berguna dalam hidup, kita belajar untuk membangun komunitas yang saling percaya.

(Pdt. Essy Eisen)
Comments