Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta, 7 Nopember 2010

diposting pada tanggal 1 Nov 2010 11.37 oleh Essy Eisen
Bahaya Pembusukan Agama


Ayub 19:23-27
“Tetapi aku tahu: Penebusku hidup, dan akhirnya Ia akan bangkit di atas debu.” (Ayb 19:25) Begitulah Ayub menyaksikan imannya menjawab komentar Bildad kawannya. Bagi Ayub, kebaikan Allah memang tidak langsung dirasakan jika seseorang menderita, tetapi dengan pengharapan yang sehat, Ayub mampu menjalani kesusahan hidupnya dengan tetap menomor satukan Allah yang pada saat-Nya berkenan menebusnya.

“Kesaksian yang sehat ialah pada saat orang menyaksikan kebesaran Allah, dan bukan diri sendiri”

Mazmur 17:1-9
“Dari pada-Mulah kiranya datang penghakiman: mata-Mu kiranya melihat apa yang benar.” (Mzm 17:2). Bagi Pemazmur, mata Allah tidak tertutup saat melihat umat-Nya teraniaya. Dalam keadaan terdesak karena aniaya yang dialami, pemazmur dalam ketabahannya mempersilahkan Allah menjadi hakim yang adil terhadap perkara yang dihadapinya.

“Tidak ada seorangpun yang dapat mengingkari keadilan Allah yang kelak dinyatakan-Nya”

Lukas 20:27-38
“…Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup." (Luk 20:38). Ini dikatakan Yesus agar murid-murid-Nya memegang pengarapan akan janji Allah yang membangkitkan orang mati. Jawaban Yesus terhadap pertanyaan jebakan orang Saduki ini berangkat dari peristiwa Musa yang menjumpai Allah melalui semak belukar yang menyala dan pengenalan diri Allah yang mengatakan: “Akulah Allah Abraham, Ishak dan Yakub”. Pernyataan Allah ini, menyiratkan tentang kuasa Allah yang melampaui kematian. Kitab Musa dipegang teguh oleh orang Saduki dan Yesus ingin meluruskan pemahaman mereka yang selama ini tidak mempercayai kebangkitan orang mati, berangkat dari apa yang selama ini mereka pegang teguh. Singkatnya Yesus menggali kebenaran Alkitab secara sehat untuk membangun ajaran yang sehat.

“Hati-hati di dalam menafsirkan kebenaran Alkitab. Jangan sampai salah tafsir.”


II Tesalonika 2:1-5, 13-17
“Dan Ia, Tuhan kita Yesus Kristus, dan Allah, Bapa kita, yang dalam kasih karunia-Nya telah mengasihi kita dan yang telah menganugerahkan penghiburan abadi dan pengharapan baik kepada kita, kiranya menghibur dan menguatkan hatimu dalam pekerjaan dan perkataan yang baik.” (2 Tes 2:16-17) Begitulah Paulus mendoakan jemaat Tesalonika agar tetap melakukan pekerjaan dengan baik, juga bijaksana dalam berkata-kata. Kesaksian dan pelayanan harus senantiasa berangkat dari karunia Kristus dan untuk kemuliaan-Nya. Jangan sampai jemaat menjadi sesat karena salah menghayati dan mengamalkan imannya.

“Hati-hati dalam memberitakan kebenaran Alkitab, jangan menyesatkan orang lain”

Perenungan
  • Kepada siapakah pujian diarahkan saat Anda bersaksi dan melayani?
  • Apa yang akan Anda lakukan saat mendengar tafsiran yang salah mengenai kebenaran Alkitab? Apa upaya yang Anda lakukan untuk memahami Alkitab dengan benar?
  • Menurut Anda, hal-hal apa saja yang dapat membusukan Agama?





Comments