Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 7 Oktober 2012

diposting pada tanggal 5 Okt 2012 23.29 oleh Essy Eisen
Bersedia Untuk Ikut Merasakan 

(1 Korintus 12:12-27)

Tubuh terdiri dari berbagai bagian tetapi di dalamnya kita melihat keutuhan bagian satu sama lain. Saat kepala kita sakit, biasanya kita akan langsung mengatakan “Saya sedang sakit”. Perhatikan bahwa sebutan “saya” itu menandakan keutuhan tubuh. Begitu juga dengan kehadiran Kristus dalam Gereja dan Keluarga. Walau terdiri dari banyak bagian, Kristus mempersatukan kita masing-masing menjadi satu dalam kasih-Nya.

Prinsip berbeda-beda tetapi satu, penting dalam berkeluarga. Tidak boleh satu bagian keluarga berusaha untuk menjadi “tuan” bagi yang lain. Sebab jika itu terjadi, akan ada kekerasan dan pemaksaan kehendak yang acapkali berakhir dalam pertengkaran. Sebagai pengikut Kristus, setiap bagian dari keluarga belajar untuk melayani satu sama lain dengan menghidupi diri sebagai hamba yang melayani satu sama lain.

Gambaran tentang “tubuh” yang Rasul Paulus nasihatkan terkait dorongannya untuk menjaga keutuhan Gereja, dapat juga kita gunakan dalam menjaga keutuhan keluarga. Sebagaimana tubuh itu utuh di mana bagian demi bagian saling mendukung satu sama lain supaya tubuh dapat berfungsi dengan baik, demikian juga dalam keluarga kita seharusnya mau:

  1. Membutuhkan satu sama lain. 
    Setiap anggota keluarga tidak boleh menganggap pekerjaannya lebih penting ketimbang yang lain. Kritik yang melemahkan pribadi yang lain adalah tidak membangun dan hanya akan menambah masalah sebab tidak berguna. Masing-masing harus melaksanakan tanggungjawabnya dengan semangat dan dedikasi yang tinggi untuk yang lain. 

  2. Menghormati satu sama lain. 
    Jika satu bagian dari anggota keluarga memutuskan untuk tidak melakukan perannya, maka keutuhan kasih terganggu. Tindakan menghormati yang lain berangkat dari kesadaran bahwa setiap bagian membutuhkan yang lain. Menghormati bukan sekedar tunduk yang buta, tetapi menghargai keberadaan yang lain baik kelebihan dan kekurangan yang ada. 

  3. Ikut merasakan perasaan satu sama lain. 
    Setiap pribadi yang ada memiliki keunikan dan potensinya masing-masing. Sudut pandang yang ada dapat berbeda-beda. Masing-masing perlu merasakan perasaan satu sama lain dan bukan hanya melihat dari sudut pandangnya sendiri saja. Dengan bersedia untuk ikut merasakan kebutuhan, pergumulan, masalah yang lain, tindakan akan berujung pada kasih. 

Jadi bagaimana kita memiliki sikap empati (bersedia untuk ikut merasakan) dalam keluarga?
  1. Sadar bahwa kita sudah dipersatukan Allah dalam keluarga. 
  2. Mengingat dan meneladani kebaikan Kristus yang sudah memberi hidup-Nya bagi kita. 
  3. Melembutkan hati dengan membiarkan Roh Kudus menolong kita untuk merendahkan hati dan mau menerima perbedaan. 
  4. Sadar bahwa kita tidak dapat hidup tanpa bantuan orang lain. 
  5. Tidak mencibir kekurangan yang lain melainkan menerima kekurangan dan memberikan dukungan kepadanya sesuai dengan talenta yang Tuhan percayakan kepada kita. 
  6. Sadar bahwa setiap pribadi unik dan menerima pribadi itu tanpa buru-buru menghakimi sebelum memberikan tanggapan atas sikapnya. 
  7. Lebih banyak menggunakan telinga untuk mendengar dan menyimak dengan baik dalam proses komunikasi yang ada. 
Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita. Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya. (1 Kor. 12:26-27).

(Pdt. Essy Eisen)
Comments