Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 8 Juni 2014

diposting pada tanggal 14 Jun 2014 09.06 oleh Essy Eisen
Diutus dan dimampukan untuk bersama menjadi saksi

Bilangan 11:24b-30; Mazmur 104:24-35; 1Korintus 12:3-13; Yohanes 20:19-23

Pada suatu hari seorang teman dari gereja lain datang menemui saya. Dengan wajah sedih dia mengatakan bahwa dia merasa tidak diurapi oleh Roh Kudus. Rupanya, sudah dua tahun dia menjadi jemaat gereja tertentu. Setiap minggu, semua jemaat di gereja itu berbahasa roh, kecuali teman saya ini. Hal itu membuat teman saya tersebut merasa sebagai orang yang tidak diberkati sebab tidak memperoleh karunia Roh Kudus. Akibatnya, setiap Minggu dia dengan perasaan terkucil duduk di deretan paling belakang di gerejanya. Teman saya ini menjadi kurang bersemangat datang ke gereja, apalagi terlibat mengikuti berbagai kegiatan di sana. Karena itulah dia datang untuk minta pendapat.

Barangkali masih banyak orang Kristen yang berpendapat seperti teman saya ini, bahwa karunia Roh Kudus itu selalu diterima dalam bentuk kemampuan berbahasa roh, penyembuhan masal, dan berbagai peristiwa “luar biasa”. Menurut pemikiran seperti ini, jika seorang Krsiten tidak bisa berbahasa roh maka dia belum mendapat curahan Roh Kudus.

Akibat dari pemikiran seperti ini membuat orang menganggap bahwa orang yang diutus untuk mengabarkan Injil hanyalah orang “pilihan” yang memiliki karunia berbahasa roh, bernubuat, menyembuhkan, dan berbagai karunia yang mencengangkan. Dengan pemikiran seperti itu juga maka pemberitaan Injil dianggap sebagi proyek pribadi dari orang-orang yang “terpilih” tersebut. Benarkah demikian?

Dalam 1 Korintus 12:3-13 Paulus menjelaskan bahwa karunia Roh Kudus itu tidak hanya berupa bahasa roh, tapi juga berkata-kata dengan hikmat, berkata-kata dengan pengetahuan, karunia untuk menyembuhkan, karunia untuk bernubuat, dan sebagainya (ayat 4-10). Semua karunia itu dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama. Paulus juga menekankan bahwa karunia Roh Kudus itu diberikan kepada jemaat secara keseluruhan sebagai satu tubuh (ayat 12, 13).

Dengan mengacu pada penjelasan rasul Paulus ini kita menjadi mengerti bahwa karunia Roh Kudus itu bisa hadir dalam berbagai bentuk. Tiap orang tidak perlu merasa saling iri terhadap karunia yang diperoleh saudaranya, sebab semua itu diberikan oleh Roh yang sama sebagai anugerah semata-mata untuk perlengkapan mengabarkan Injil. Tiap karunia yang diberikan kepada seseorang akan memperlengkapi karunia yang diberikan kepada orang lain. Semua karunia itu diberikan untuk membekali setiap umat menjalankan tugas sebagai saksi. Yang tidak kalah penting untuk diingat adalah bahwa semua karunia itu Allah berikan bagi jemaat sebagai keseluruhan. Karena itu tugas mengabarkan Injil bukanlah proyek pribadi, melainkan tugas seluruh jemaat sebagai satu kesatuan tubuh Kristus.

Penjelasan Paulus dalam 1 Korintus 12:3-13 tentang berbagai karunia dan tugas pengutusan oleh Yesus Kristus dalam Yohanes 20:19-23 membuat kita juga mengerti bahwa setiap kita diutus menjadi saksi. Tidak ada lagi alasan bagi kita untuk menolak tugas sebagai saksi karena merasa tidak diberi karunia. Juga bagi teman yang saya ceritakan di atas tadi.

Setelah kami ngobrol panjang lebar, akhirnya teman saya itu memutuskan untuk membuat kolam ikan di lahan gerejanya yang kebetulan kosong dan cukup luas. Atas persetujuan pendetanya, dia mulai menggerakkan jemaat pemuda untuk mengelola kolam-ikan-air-deras tersebut. Setelah empat bulan kolam itu siap dipanen ikannya. Lalu jemaat pemuda mulai mendatangi penduduk di sekitar gereja (yang kebetulan tingkat ekonominya rendah) untuk menawarkan ikan dengan harga terjangkau. Banyak penduduk dengan senang hati datang ke gereja untuk membeli ikan hasil panen tersebut.

Pada suatu hari teman saya itu datang lagi berkunjung, tapi kali ini dengan wajah berseri. Dia dengan bersemangat lalu bercerita tentang proyek kolam ikannya yang membuat banyak orang merasa senang. Menurut dia, sekarang penduduk di sekitar gereja menjadi lebih ramah bahkan menawarkan diri untuk ikut mengurus kolam ikan. Mendengar cerita itu saya pun ikut senang, bukan saja karena penduduk miskin yang mendapat tambahan gizi dengan biaya murah, tapi juga karena hari itu saya Tuhan ijinkan menyaksikan bahwa Roh Kudus memberi karunia yang luar biasa kepada kawan saya itu. Bukankah Roh Kudus yang sama juga memberi masing-masing kita karunia yang luar biasa untuk menjadi saksi?

(Mathyas Simanungkalit, S.Si. (Teol.))
Comments