Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 8 September 2013

diposkan pada tanggal 17 Sep 2013 23.15 oleh Essy Eisen
Melepaskan milik untuk mengikut Tuhan

Ulangan 30: 15-20; Mazmur 1: 1-6; Filemon 1: 1-21; Lukas 14: 25-33.

Ada banyak alasan orang-orang mengikut Yesus. Dalam Lukas 14: 12-24 digambarkan alasan orang mengikut Yesus adalah untuk mendapat kebahagiaan Kerajaan Allah. Mendengar itu berkatalah seorang dari tamu-tamu itu kepada Yesus: “Berbahagialah orang yang akan dijamu dalam Kerajaan Allah.” (Lukas 14: 15). Agar orang banyak tidak salah mengerti, Yesus tanpa basi-basi memperingatkan setiap orang untuk mempertimbangkan dengan sungguh-sungguh sebelum memutuskan menjadi murid-Nya. Mengapa demikian? Sebab memilih untuk menjadi murid Yesus berarti bersedia menanggung berbagai konsekuensi, termasuk melepaskan segala sesuatu yang dimiliki. Yesus memperingatkan orang banyak yang berduyun-duyun mengikuti-Nya: “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.” (Luk.14:26). Nampaknya Yesus sengaja menggunakan istilah yang “keras” itu untuk menunjukkan bahwa pilihan untuk menjadi murid-Nya merupakan suatu hal yang sangat serius. Tapi apakah Yesus memang menganjurkan kita untuk membenci bapa, ibu serta keluarga kita?

Alkisah di sebuah pulau hiduplah seorang raja rampok yang sakti mandraguna. Dia terkenal sangat kejam, karena itu seluruh penduduk pulau dan sekitarnya sangat takut kepadanya. Dia punya seorang anak laki-laki yang diharapkan akan menggantikannya menjadi raja rampok. Tapi, tanpa diketahui oleh si raja rampok, si anak telah belajar tentang Yesus dari seorang pendeta di pulau tersebut. Si anak perampok bahkan sudah memutuskan untuk menjadi pengikut Yesus. Demikianlah pada suatu hari si raja rampok memanggil si anak untuk ditahbis menjadi raja rampok menggantikan dirinya. Berkenaan dengan itu si raja rampok juga bermaksud akan mewariskan seluruh kesaktiannya kepada si anak. Lalu apa yang terjadi? Si anak menolak untuk mewarisi kesaktian dan menolak untuk menggantikan ayahnya menjadi raja rampok. Si anak menganggap nilai-nilai dan cara hidup yang dijalani ayahnya tidak sesuai dengan ajaran Yesus. Si anak tidak mau hidup dan menjadi kaya raya dengan cara mengambil harta orang lain, melukai orang yang tidak mau menyerahkan hartanya, dan bangga kalau orang takut kepadanya.

Si raja rampok marah besar. Ia mengusir dan tidak mau lagi mengakui anaknya. Meskipun demikian, si anak tidak membenci ayahnya. Si anak tidak menolak ayahnya, melainkan menolak ajaran dan cara hidup ayahnya. Dia sungguh-sungguh sadar memilih menjadi pengikut Yesus berarti menjadikan Yesus dan seluruh ajarannya menjadi yang terutama dalam hidupnya. Dan itu berarti dia harus menolak nilai-nilai dan cara hidup yang bertentangan dengan ajaran Yesus, walaupun untuk itu dia harus berbeda pendapat dengan orang-orang yang sangat dekat dengannya, termasuk harus kehilangan hak waris, terusir dari rumah, dan kehilangan pengakuan dari keluarga. Si anak tidak menyesali keputusan yang diambilnya karena dia tahu bahwa memilih untuk mengikut Yesus berarti memilih kehidupan dan menolak kematian. Ingatlah, aku menghadapkan kepadamu pada hari ini kehidupan dan keberuntungan, kematian dan kecelakaan,karena pada hari ini aku memerintahkan kepadamu untuk mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan berpegang pada perintah, ketetapan dan peraturan-Nya, supaya engkau hidup dan bertambah banyak dan diberkati oleh TUHAN, Allahmu, di negeri ke mana engkau masuk untuk mendudukinya. Tetapi jika hatimu berpaling dan engkau tidak mau mendengar, bahkan engkau mau disesatkan untuk sujud menyembah kepada allah lain dan beribadah kepadanya, maka aku memberitahukan kepadamu pada hari ini, bahwa pastilah kamu akan binasa (Ulangan 30:15-18a).

Memutuskan menjadi murid Yesus Kristus berarti bersedia melepaskan segala sesuatu yang menghalangi kita memberlakukan seluruh ajaran Yesus. Pastilah sangat berat. Yesus sendiri sudah mengingatkan setiap orang: “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.” (Lukas 14: 27). Namun kesulitan itu setimpal dengan rahmat yang Tuhan limpahkan kepada orang yang mau hidup sesuai kehendak-Nya: “Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.” (Mazmur 1: 1-3).

(Mathyas Simanungkalit, S.Si. (Teol.))
Comments