Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 9 Desember 2012

diposting pada tanggal 8 Des 2012 07.45 oleh Essy Eisen
“Hati-Hati: Bahaya hidup tanpa persiapan dan basi!” 

Maleakhi 3:1-4, Lukas 1:68-79, Filipi 1:3-11, Lukas 3:1-6

Tidak ada orang yang suka sesuatu yang sudah basi. Sebab apa yang basi ialah apa yang sudah terjadi, apa yang sudah berlalu, yang biasanya sudah tidak menyenangkan lagi dan sepatutnya tidak dihadirkan kembali dalam momen yang baru. Apakah hidup beriman dapat menjadi basi? Bisa saja. Saat seseorang memilih untuk tidak mau mengisi hidup yang dijalaninya bersama Kristus dengan pertobatan yang sungguh-sungguh.

Karena kasih Allah yang selalu memberi, kita sudah diselamatkan. Kita diberikan hikmat oleh-Nya untuk menjalankan hidup dalam sudut pandang yang baru. Kini hidup kita bukanlah menjadi milik kita belaka, tetapi menjadi hidup yang juga menjadi persembahan bagi-Nya. Allah sudah memulai pekerjaan baik-Nya, kini kita melanjutkan pekerjaan itu bersama-Nya.

Oleh sebab itu sejatinya saban hari hidup kita bersama Kristus haruslah menjadi hidup yang memiliki tujuan yang benar. Dengan iman kita menghayati Kristus hadir bersama dengan kita dalam setiap kegiatan yang kita lakukan. Karena penghayatan yang sedemikian, kita didorong untuk mempersiapkan dengan sungguh-sungguh segenap kegiatan kita, dilengkapi dengan hikmat-Nya, agar dalam pelaksanaannya dapat berujung pada pemberlakuan kasih yang pada akhirnya akan memuliakan nama-Nya.

Tentu itu semua membutuhkan proses yang tekun. Dengan menjalankan waktu teduh yang berkualitas kala Firman Allah dibaca dengan benar, dimengerti dan prinsip-prinsipnya dijalankan, kita mendapatkan hikmat Tuhan untuk waspada terhadap bahaya hidup yang tanpa persiapan dan basi. Ibarat logam mulia yang dimurnikan, anasir-anasir yang tidak perlu dalam hidup kita dibuang, sehingga pada akhirnya tinggal apa yang murni dan berkenan kepada Allah.

Hidup tanpa persiapan hanya akan berujung pada kekuatiran, pikiran negatif dan kecurigaan. Sebab tanpa persiapan orang seolah-olah berjalan tanpa bekal, tanpa pegangan. Ia dapat menjadi seperti daun kering yang ditiup angin dibawa tidak jelas entah ke mana. Tetapi dengan persiapan orang memiliki pegangan. Iman dan hikmat yang menyehatkan dari Firman Allah akan memampukannya menjalankan hidup dengan damai sejahtera, bahkan saat harus menghadapi tantangan sekalipun.

Hidup yang basi, atau hidup yang melulu tinggal dalam kubangan dosa, adalah hidup yang penuh beban. Hati dipenuhi dengan kecemasan dan dendam, karena keenganan untuk melangkah dan belajar bersama Allah untuk menuju pembaruan yang disediakan-Nya. Tetapi dengan meninggalkan hidup yang basi, dengan bertobat, orang mengalami kelegaan. Dengan mantap ia melangkah menjelang pembaruan yang disediakan Allah, menuju hari Kristus meraja dengan sempurna dalam hidupnya, menuju hari yang penuh dengan damai sejahtera.

Memasuki Adven kedua ini kita diyakinkan kembali bahwa Allah yang sudah memulai pekerjaan baik di dalam Tuhan Yesus Kristus tetap setia. Ia memakai banyak orang sebagai hamba-hamba-Nya untuk terus menyadarkan kita dalam meninggalkan hidup yang basi dan hidup yang tanpa persiapan. Marilah kita sambut kasih sayang-Nya itu dengan merelakan diri berjalan dalam jalan damai sejahtera-Nya.

Pertanyaan Aplikasi
  1. Apakah masih ada beban dan ganjalan yang menandakan Anda masih hidup dalam kehidupan yang lama, sama seperti hidup yang belum mengenal Kristus? Apa yang kini akan Anda lakukan? 
  2. Apakah yang menjadi tujuan hidup Anda minggu ini? Bagaimana Anda mempersiapkan diri mencapai tujuan itu bersama dengan Kristus dan Firman-Nya? 
  3. Pekerjaan baik apa yang sudah Allah kerjakan bagi hidup Anda? Apa yang akan Anda lakukan untuk melanjutkan pekerjaan baik itu bersama-sama dengan-Nya?
(Pdt. Essy Eisen)
Comments