Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 9 Maret 2014

diposkan pada tanggal 11 Mar 2014 06.22 oleh Admin Situs   [ diperbarui9 Mei 2014 01.38 ]
"Berani berkata tidak"

Kejadian 2:15-17; 3:1-7 Mazmur 32; Roma 5:12-19: Matius 4:1-11.

Kejadian 2: 15-17 yang menjadi salah satu bacaan kita hari ini berisi perintah Tuhan kepada manusia di taman Eden. Bagian ini merupakan bagian dari kisah penciptaan dan kejatuhan manusia ke dalam dosa. Kita semua tentu sangat ingat bagaimana Hawa terbujuk godaan ular untuk memakan buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, yang berakibat terusirnya Adam dan Hawa dari taman Eden. Bujukan ular begitu meyakinkan dan menggiurkan, sehingga Hawa gagal untuk menolaknya.

Mengapa Hawa mau terbujuk oleh perkataan ular untuk memakan buah pengetahuan pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat? Apakah ada kemungkinan Hawa lolos dari bujukan ular itu? Pertanyaan ini tidak selalu mudah untuk dijawab. Seorang teman saya secara bergurau pernah berpendapat bahwa bila seandainya Adam dan Hawa adalah orang Cina, maka jalan ceritanya bisa berbeda. Bila Adam dan Hawa orang Cina, maka begitu ular mendekati untuk menggoda, ular itu akan segera binasa. Adam dan Hawa akan membuat daging ular menjadi sup, dan kulitnya dikeringkan untuk dibuat tas.

Mungkin gurauan teman saya ini terdengar kasar. Namun, dalam gurauan tersebut tersirat pesan bahwa Hawa sebetulnya punya peluang besar untuk lolos dari godaan ular. Kalau begitu, mengapa Hawa terbujuk? Alasannya dapat kita lihat dalam Kejadian 3:5-6 (“tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat." Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian). Yang membuat Hawa jatuh oleh godaan adalah ketergiurannya melihat buah itu dan keinginannya sejajar dengan Allah.

Manusia dalam hidupnya agaknya memang selalu berhadapan dengan berbagai godaan. Bahkan sampai saat ini kita semua setiap saat berhadapan dengan berbagai godaan: godaan untuk korupsi, godaan untuk selingkuh, godaan untuk sombong, godaan untuk pelit, godaan untuk membalas dendam, godaan untuk memperalat orang lain, godaan untuk menghalalkan segala cara, dan berbagai godaan lainnya. Kita semua tentu berharap agar kita tidak terbujuk oleh godaan-godaan itu. Kita tentu berharap mampu berkata tidak terhadap berbagai godaan untuk berbuat jahat dalam hidup kita. Bagaimana caranya?

Dalam Matius 4: 1-11 dikisahkan Yesus menghadapi 3 godaan: godaan penyalahgunaan mujizat (ay.3), godaan mencobai Allah (ay.6), dan godaan berpaling dari Allah demi harta duniawi. Godaan itu begitu berat karena disertai tantangan “jika Engkau anak Allah, ....”. Tapi Yesus tidak tergoda untuk pamer statusnya sebagai anak Allah. Yesus merasa tidak perlu membuktikan bahwa Dia anak Allah dengan cara-cara yang justru tidak berkenan kepada Allah. Belajar dari Yesus dalam kisah ini kita dapat melihat bagaimana cara untuk lolos dari godaan berbuat hal yang tidak berkenan kepada Allah:

  1. Memiliki pemahaman yang tepat akan kehendak Allah, tahu apa yang berkenan dan apa yang tidak berkenan kepada Allah;
  2. Memiliki komitmen untuk taat kepada kehendak Allah, dan dengan demikian terhindar dari keinginan menonjolkan kepentingan diri sendiri.

Mengetahui apa yang berkenan kepada Allah pastilah tidak selalu mudah. Namun bila kita terus menerus memelihara hubungan dengan Tuhan melalu saat doa dan pembacaan Firman Tuhan, maka sebagaimana Yesus, kita semua akan semakin tertuntun untuk memahami apa yang Dia kehendaki untuk kita lakukan dalam konteks kita masing-masing. Pemahaman yang tepat tentu tidak berarti apa-apa tanpa komitmen yang kuat untuk melakukan apa yang Allah kehendaki itu. Memasuki minggu Pra-Paskah 1 ini merupakan saat yang tepat untuk meneguhkan tekad mencari tahu kehendak Allah dan memberlakukannya dalam kehidupan kita masing-masing. Dengan itu semua kita mampu berkata TIDAK kepada setiap ajakan berbuat hal yang bertentangan dengan kehendak Allah. Selamat memasuki masa Pra-Paskah.

(Mathyas Simanungkalit, S.Si. (Teol.))
Comments