Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 9 September 2012

diposkan pada tanggal 7 Sep 2012 10.20 oleh Essy Eisen
Ada Pemulihan dari Allah dalam Kerendahan Hati

Yesaya 35:4-7a, Mazmur 146:1-10, Yakobus 2:1-17, Markus 7:24-37

Kita tentu mengasihi diri sendiri dengan utuh, tidak sepotong-sepotong. Setiap jengkal bagian tubuh kita tidak akan lepas dari perhatian kita. Bahkan kalau ada bagian tubuh yang luka atau mengalami masalah, perhatian kita lebih banyak tercurah pada bagian yang lemah itu. Mengapa? Sebab dalam satu kesatuan, setiap bagian yang lemah akan mempengaruhi bagian yang lain.

Tindakan mengasihi diri sendiri yang tidak pilih-pilih kasih itu mengarahkan kita untuk juga belajar bagaimana seharusnya mengasihi sesama manusia dan ciptaan Allah yang lain dalam kesatuan komunitas hidup bersama. Tuhan Yesus mengingatkan kita untuk mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri. Tidak pilih-pilih kasih! Dalam mengasihi sesama manusia, pilih-pilih kasih hanya akan membiarkan diri kita dan komunitas kita tetap “sakit”.

Kita belajar untuk tidak pilih-pilih kasih dalam hidup ini dari Allah sendiri. Allah sudah memberikan contoh yang jelas dengan kepedulian-Nya di sepanjang sejarah umat-Nya. Allah peduli kepada orang yang tertindas dan tersisih. Orang yang rendah hati dan yang mau memiliki pengharapan untuk terus berjalan bersama Allah dan Firman-Nya akan mengalami pemulihan-Nya.

Orang yang tinggi hati, sebenarnya sedang memilih untuk tinggal dalam dosa. Orang yang seperti itu, tidak mampu melihat keindahan hidup dan tidak bersedia mendengar nasihat yang membangun kehidupan. Kuasa dosa yang jahat itu menjadikannya “lumpuh” dan “bisu” untuk mengekspresikan diri secara sehat dalam komunitas. Sebaliknya, orang yang rendah hati, yang mengakui kelemahan dirinya, akan menerima pemulihan karena kasih Allah. Orang itu akan menerima kelegaan dan kedamaian, yang akan melepaskannya dari ikatan kuasa jahat.

Perjalanan Tuhan Yesus ke daerah dekat kota Tirus, ke daerah yang bagi orang Yahudi adalah daerah kafir, adalah bukti bahwa Kristus sedang menunjukkan kasih Allah yang terbuka bagi semua orang. Di sana Kristus didatangi oleh seorang Ibu, yang bukan orang Yahudi, kelahiran daerah Fenisia di Siria. Daerah ini adalah kampung halaman Izebel yang keji itu, isteri dari Raja Ahab yang merampas kebun anggur Nabot. Lihatlah, betapa kasih Allah yang menyelamatkan merengkuh dan menembus sekat-sekat dosa-dosa manusia.

Ibu itu memohon pertolongan Yesus untuk memulihkan anak perempuannya yang sakit. Ibu ini mau beriman kepada Kristus. Ia percaya bahwa di dalam Kristus ada kuasa yang memulihkan kehidupan. Bahkan imannya nyata dalam kerendahan hatinya. Tuhan Yesus memuji tanggapan ibu ini yang berani menanggalkan ego, identitas, dan kebanggaan diri. Semua karena kasihnya yang besar kepada anaknya yang sakit. Sungguh, ada pemulihan dari Allah dalam kerendahan hati!

Begitu juga dengan seorang yang bisu tuli di sekitar daerah dekapolis, yang juga dipandang sebagai daerah kafir bagi orang Yahudi, perjumpaannya dengan Kristus karena kepedulian orang-orang yang membawanya kepada Kristus, pada akhirnya memampukannya untuk dapat mendengar dan dapat berkata-kata dengan baik. Nyata benar bahwa karya Kristus memulihkan kehidupan orang yang terikat oleh keterbatasan-keterbatasan yang melumpuhkan kehidupan. Perhatikan juha keteladanan yang baik dari orang-orang yang mau membawa orang yang bisu tuli itu kepada Kristus.

Karya Kristus yang memulihkan itu terus hadir sampai saat ini. Melalui Firman-Nya, melalui kehadiran Gereja-Nya, Roh Kudus memampukan setiap pengikut Kristus untuk menyatakan kasih kepada semua orang tanpa membeda-bedakan. Jika kita mengalami ikatan kuasa jahat yang “melumpuhkan” hidup kita, ingatlah akan kuasa Kristus yang memulihkan ini. Ingatlah bahwa ada pemulihan dari Allah dalam kerendahan hati.

Pertanyaan Aplikasi:
  • Apakah Allah pilih-pilih kasih dalam menyatakan kasih-Nya? Apa buktinya? 
  • Apa akibat yang paling nyata kalau orang tinggi hati? Terhadap Allah dan sesama? 
  • Bagaimana Anda menyatakan iman yang hidup, yang berangkat dari kerendahan hati?
(Pdt. Essy Eisen)
Comments