Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Semua adalah satu

diposkan pada tanggal 25 Mei 2016 10.33 oleh Admin Situs   [ diperbarui25 Mei 2016 11.10 ]
Kisah Para Rasul 16:16-34; Mazmur 97; Wahyu 22:12-21; Yohanes 17:20-26

Ada banyak denominasi gereja di Indonesia dan di dunia. Keberagaman itu di satu sisi merupakan kekayaan kekristenan yang sangat berharga. Namun, tidak bisa dipungkiri, sebagaimana sering kita saksikan dan alami, keberagaman itu dapat menjadi sumber perpecahan. Tidak jarang gereja-gereja lebih disibukkan oleh perpecahan daripada memusatkan diri untuk melakukan aksi bersama sebagai kesaksian kepada dunia bahwa semua gereja adalah satu.

Ada sebuah semboyan yang terkenal di lingkungan gereja dan kekristenan di seluruh dunia. Dalam bahasa Latin bunyinya: Ut omnes unum sint ( Inggris: “That they all may be one”). Dalam bahasa Indonesia, sebagaimana tertulis dalam Yohanes 17:21 “supaya mereka semua menjadi satu”. Apa maksud Yesus dengan kata “menjadi satu”? Ada beberapa pertanyaan seputar kata ini:
  • Apakah gereja memang belum “menjadi satu” sehingga masih perlu diusahakan untuk “menjadi satu”? 
  • Apakah “menjadi satu” berarti semua gereja harus seragam dalam ajaran dan ekspresi ritualnya?
Dalam Yohanes 17:11 dikatakan “... supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita”. Teks ini menjelaskan bahwa kesatuan itu bukanlah sesuatu yang masih harus diusahakan, melainkan sesuatu yang sudah ada. Hal ini dipertegas dengan pernyataan pada ayat 22 “...sama seperti Kita adalah satu”. Dengan kata lain, sejak semula semua murid Yesus adalah satu dan harus mempertahankan kesatuan itu.

Kesatuan itu dapat kita lihat dalam praktek hidup rasul Paulus dan Silas saat menghadapi penganiayaan dari penguasa-penguasa wilayah yang mereka datangi (Kis. 16:16-34). Dalam situasi sulit tersebut, Rasul Paulus dan Silas tidak lagi belajar untuk bersatu, melainkan tetap mempertahankan kesatuan yang sudah ada sambil tetap mempertahankan keunikan masing-masing pribadi. Dengan demikian mereka bisa menanggung beban bersama dan saling memberi penghiburan serta dukungan satu terhadap yang lain. Kesatuan tidak berarti Paulus dan Silas menjadi seragam. Demikian juga komunitas Kristen mula-mula tidak merasa perlu harus menjadi seragam.

Minggu ini kita kembali mendengar panggilan untuk mempertahankan kesatuan semua anggota tubuh Kristus (gereja-gereja). Kita diingatkan bahwa kesatuan itu sudah ada sejak semula dan harus kita pertahankan sebagai bukti bahwa kita semua pengikut Yesus Kristus.

Pendalaman:
  1. Dalam pengalaman hidup saudara selama ini, apa saja yang dapat merusak kesatuan gereja? Hal apa yang memperkuat kesatuan gereja? 
  2. Dalam beberapa kasus kita kadang melihat ada anggota jemaat yang memaksakan ajaran dan ekspresi iman dari gereja lain untuk diberlakukan di gerejanya. Bagaimana kita menyikapinya, bila dikaitkan dengan kesatuan sebagai anggota tubuh Kristus? 
  3. Dalam hal apa saja gereja-gereja dapat bekerja sama sebagai bentuk kesaksian kepada dunia tentang kesatuan gereja? 

Minggu 8 Mei 2016
Mathyas Simanungkalit
Comments