Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Sentuhan belas kasihan berbuahkan kehidupan

diposting pada tanggal 2 Jun 2016 10.46 oleh Admin Situs   [ diperbarui2 Jun 2016 11.03 ]
1 Raja-Raja 17:17-24, Mazmur 30, Galatia 1:11-24, Lukas 7:11-17

Hati Tuhan Yesus tergerak oleh belas kasihan sewaktu melihat tangisan ibu janda yang ditinggal pergi anak satu-satunya. Dengan Firman dan sentuhan-Nya, sang anak yang mati mendapatkan kehidupan yang baru. Sang anak kembali kepada ibunya. Orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu memuliakan Allah. Mereka sadar bahwa melalui kehadiran, Firman, sentuhan, kuasa, kasih dari Yesus, Allah sedang melawat umat-Nya. Allah sedang mengaruniakan pemulihan hidup, memberikan penghiburan dan menjadi penopang bagi yang lemah dan berduka.

Karya pemulihan hidup oleh Tuhan Yesus ini mengingatkan kita akan kuasa Allah yang dulu sekali pernah dinyatakan melalui karya kenabian Elia (1 Raj. 17-17-24). Nabi Elia bukan saja dengan lantang memberitakan suara kenabian yang kritis, tegas dan keras kepada umat Israel, tetapi juga peduli dengan keberlangsungan hidup orang-orang yang mau dilibatkan dalam rencana penyelamatan Allah, yaitu ibu janda di Sarfat, sebuah wilayah di luar Israel. Belas kasih Elia dalam doa dan permohonannya didengarkan Allah. Anak si ibu janda, hidup kembali.

Sentuhan belas kasihan yang berbuahkan kehidupan juga kita jumpai dalam kehidupan Paulus (Gal. 1:11-24). Oleh karena kasih karunia Allah melalui penyataan Anak-Nya, Paulus mengalami kehidupan yang baru. Ia tidak lagi menjadi penganiaya dan penghambat berita kabar baik (Injil), tetapi menjadi pengajar dan pemberi teladan bagi banyak bangsa untuk hidup mengikut Tuhan Yesus Kristus. Melihat kehidupan Paulus yang baru, banyak orang memuliakan Allah.

Jika kita cermat menangkap keadaan orang-orang di sekitar hidup kita, maka kita akan menjumpai orang-orang yang “mati”. Tentu bukan dalam arti harfiah saja. Orang yang “mati” di sini, artinya orang-orang yang bersedih, berduka, kehilangan pengharapan, kehilangan arah hidup, kekurangan cinta kasih, merindukan perhatian. Hari ini kita mendapatkan kabar baik. Mereka dapat beroleh “hidup”! Allah melawat umat-Nya, dalam kehadiran Kristus melalui Gereja-Nya. Kuasa Allah yang mendatangkan kehidupan itu sungguh memulihkan kehidupan.

Namun pertanyaannya ialah, apakah Gereja-Nya, yaitu setiap pengikut Kristus, tergerak hatinya untuk berbelas kasihan lalu mengungkapkan kata-kata yang memberikan pengharapan dan bersedia mengulurkan sentuhan kasih yang nyata kepada orang-orang yang “mati” itu?
  • Kapan terakhir kali kita mengungkapkan kata-kata positif yang memberikan dukungan kepada orang-orang yang lemah dan gagal? 
  • Kapan terakhir kali kita turut merasakan kesedihan orang-orang yang kehilangan pengharapan dan memberikan bantuan nyata yang dapat kita berikan kepadanya? 
  • Kapan terakhir kali kita menjabat erat tangan orang yang telah menyakiti kita dan mengungkapkan kepadanya pengampunan tulus kita? 
  • Kapan terakhir kali kita mendekap orang yang begitu mengasihi kita dan peduli akan kebaikan kita lalu menghaturkan kepadanya “terima kasih!”?

Minggu 5 Juni 2016
Pdt. Essy Eisen
Comments