Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 8 Desember 2013

diposting pada tanggal 12 Des 2013 00.27 oleh Admin Situs   [ diperbarui12 Des 2013 00.28 ]
Siapa pun diterima-Nya

Lukas 19:1-10

Pada masa Yesus pemungut cukai dianggap sebagai pekerjaan “kotor” karena dua hal. Pertama, seorang pemungut cukai adalah kaki tangan penjajah Roma untuk menarik pajak dari bangsa Yahudi (yang sedang dijajah). Karena itu, seorang pemungut cukai dianggap sebagai penghianat oleh bangsanya sendiri. Kedua, seorang pemungut cukai pada prakteknya sering melakukan pemerasan dengan cara menuntut pajak lebih tinggi dari yang seharusnya dibayar warga masyarakat. Seorang pemungut cukai adalah seorang penghianat sekaligus pemeras bangsanya sendiri. Memang, Injil Lukas tidak menjelaskan apakah Zakheus termasuk pemungut pajak yang melakukan pemerasan terhadap bangsanya sendiri. Tapi gambaran umum tentang seorang pemungut pajak sangatlah tidak baik. Melihat kenyataan ini, agaknya tidak mudah menjalani hidup seperti Zakheus, seorang kepala pemungut cukai yang kaya. Barangkali banyak orang diam-diam mencibir dan mengutuki dalam hati setiap kali bertemu dengan Zakheus. Banyak orang mungkin bahkan membenci Zakheus dan menganggapnya sebagai pendosa.

Di Yerikho, dalam perjalanan-Nya menuju Yerusalem, Yesus bertemu dengan Zakheus. Awalnya, dengan segala cara Zakheus berusaha mencari tahu seperti apakah Yesus itu. Tubuh Zakheus yang pendek dan kerumunan orang banyak yang berdesakan membuatnya tak punya kesempatan untuk melihat sosok Yesus. Tapi ia tak menyerah. Ia memanjat pohon di tepi jalan yang akan dilalui Yesus agar bisa sekedar memuaskan keinginannya melihat Yesus. Lalu pada akhirnya Yesus melihat Zakheus. Dan yang mengejutkan adalah bahwa Yesus, dengan nada riang, memintanya turun dari pohon karena Dia harus menumpang di rumah Zakheus. Sebuah tawaran yang tidak pernah dibayangkan oleh Zakheus. Bagaimana mungkin seorang pemungut cukai memperoleh kehormatan sebesar ini? Dapat kita bayangkan betapa sukacitanya Zakheus menerima Yesus di rumahnya. Perjumpaannya dengan Yesus dan penerimaan Yesus terhadap dirinya mengubah seluruh kehidupanZakheus. Ia yang tadinya hanya memikirkan dirinya sendiri, sekarang punya kepedulian terhadap orang lain, terutama kepada mereka yang miskin: "Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin.” Selain itu Zakheus memperlihatkan komitmen untuk menjalani hidupnya secara baru dengan sikap yang benar: “dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat."

Lalu, apa tanggapan Yesus terhadap perubahan sikap Zakheus ini? Kata Yesus kepadanya: "Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang ini pun anak Abraham. Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang."

Tanggapan Yesus ini menegaskan sikapnya terhadap orang yang oleh masyarakat dianggap sebagai pendosa. Yesus melalui sikapnya menggambarkan kerinduan Allah untuk menerima dan mengampuni orang berdosa. Ini berbeda dengan tanggapan orang banyak: “Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: "Ia menumpang di rumah orang berdosa."

Memasuki minggu adven kedua ini kita bersyukur dapat melihat jejak hidup kita melalui kisah Zakheus. Ada tiga posisi yang tergambar dalam kisah ini. Pertama, posisi Yesus yang memberitakan dan mempraktekkan penerimaan Allah terhadap semua orang, termasuk terhadap orang yang dianggap pendosa oleh masyarakat. Kedua, posisi Zakheus yang dijumpai Yesus dan mengalami pembaharuan hidup. Bukti otentik dari seseorang yang telah mengalami perjumpaan dengan Yesus dan yang mengalami kasih-Nya adalah perubahan hidup yang radikal: kepedulian terhadap orang lain dan komitmen untuk menjalani hidup dengan nilai- nilai yang benar. Ketiga, posisi orang banyak yang selalu tidak rela bila seorang pendosa mendapat kesempatan dijumpai Tuhan. Orang banyak ini selalu merasa istimewa sebab mereka merasa lebih suci dari orang yang mereka anggap sebagai orang berdosa. Karena itu mereka ingin agar seorang pendosa tetap tinggal sebagai orang pendosa agar mereka boleh tetap merasa lebih istimewa dengan perasaan mereka yang lebih suci dari orang pendosa tersebut.

Memasuki minggu adven kedua ini kita sungguh bersyukur karena boleh, sekali lagi, mengetahui bahwa Allah yang kita sembah adalah Allah yang bersedia menerima semua orang, tanpa terkecuali. Setiap orang boleh datang kepada Allah membawa seluruh kekurangan dan cacat cela. Siapa pun diterima-Nya.

(Mathyas Simanungkalit, S.Si. (Teol.))
Comments