Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Tidak sia-sia berharap

diposting pada tanggal 28 Jun 2018 02.31 oleh Admin Situs
Markus 5:21-43

Tanpa pengharapan, walaupun kita hidup, tetapi kita tidak benar-benar hidup. Mengapa? Sebab pikiran dan perasaan kita dipenuhi oleh hal-hal buruk dan menyedihkan. Acap kali pada saat itu terjadi, yang sering kita ucapkan adalah: “bagaimana nanti jika?”, “aku harus melakukan apa lagi?”, “rasanya sudah tidak ada jalan lagi!”.

Memang tidak selalu mudah untuk berharap. Sebab mungkin bukan sekali saja kita berharap. Bisa jadi kita dahulu pernah berharap, bahkan harapan-harapan baik yang diikuti dengan semangat yang luar biasa. Tetapi pada saat apa yang kita harapkan tidak kunjung terjadi dan terlaksana, pelan-pelan kita kembali pesimis. Kita kembali pada titik nol kehampaan hidup.

Pengharapan dalam terang hikmat kitab suci, tidak dimulai dengan keinginan dan kehendak diri sendiri. Pengharapan para leluhur kita dalam hal beriman, selalu dimulai dengan iman bahwa Allah baik dan sanggup menyatakan apa yang baik sesuai dengan waktu dan kehendak-Nya. Jadi rupanya jika kita jeli, para leluhur dan teladan kita dalam beriman bukanlah orang-orang yang sekadar menghendaki apa yang baik terjadi saja. Apa yang menguasai pikiran dan perasaan mereka adalah kasih kepada Allah dan yakin bahwa pemeliharaan sempurna dalam segala keadaan. Ini yang terutama ada. Di dalam iman yang sedemikian maka mereka dapat melihat dengan cara baru apa-apa yang terjadi saat ini bukan sekadar dengan cara pandang mereka saja, tetapi juga dalam lingkup iman bahwa Allah tidak pernah meninggalkan mereka.

Oleh sebab itu mengawali segala pengharapan, mereka melakukan tindakan-tindakan iman. Mereka berdoa, mereka meminta, mereka melangkah dengan keberanian untuk mengambil langkah-langkah menuju perubahan hidup. Yairus dan seorang perempuan yang sakit pendarahan adalah salah satu bukti yang nyata dalam hal ini. Pada akhirnya mereka melihat apa yang Allah kehendaki. Ternyata rencana dan tindakan Allah melampaui apa yang mereka bayangkan dan harapkan. Dalam keberserahan dan iman yang tulus, mereka menikmati apa yang Allah sediakan sesuai dengan waktu dan rencana-Nya yang “pas” untuk setiap orang yang percaya dan mengasihi-Nya.
  1. Kapan terakhir kali Anda mengalami putus asa? Apa sebabnya? 
  2. Jika Anda putus asa, biasanya apa yang Anda lakukan? Apa yang terjadi sesudahnya? 
  3. Yairus dan Perempuan yang sakit pendarahan akhirnya mengalami pertolongan Allah. Apakah Anda pernah mengalami pertolongan Allah yang memenuhi harapan Anda? 
  4. Jika sampai saat ini apa yang Anda harapkan belum juga terpenuhi dan terlaksana, apa yang akan Anda lakukan? Mengapa?
1 Juli 2018
EE
Comments