Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta, 4 September 2011

diposkan pada tanggal 2 Sep 2011 21.06 oleh Essy Eisen   [ diperbarui2 Sep 2011 21.09 ]
“Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia..”

Matius 18:15-20

Tuhan Yesus memberikan nasihat bagaimana pengikut-Nya menyikapi orang-orang yang telah melakukan dosa atau tindakan kejahatan terhadap dirinya. “Apabila saudaramu..” “Saudara” di sini merujuk kepada sesama orang Kristen di mana ada seseorang melakukan kejahatan kepada dirinya dan bukan kepada orang lain dan nasihat Yesus ini merupakan saran penyelesaian masalah bagi orang itu dengan orang yang sudah berbuat jahat kepadanya dalam lingkungan gereja dan bukan dalam lingkup komunitas yang lebih luas.

Perlu diingat bahwa kata-kata Yesus di sini tidak boleh menjadi alasan untuk kemudian seseorang melakukan “serangan langsung” kepada orang yang sudah menyakitinya. Juga, tidak boleh menjadi alasan untuk memulai kampanye gosip yang merusak untuk mengajak seluruh anggota jemaat mengadakan pengadilan sepihak kepada orang yang bersalah itu. Nasihat Yesus ini dirancang untuk tercapainya rekonsiliasi, perdamaian dari orang-orang yang sedang bertikai supaya, orang-orang Kristen dapat hidup secara harmonis, saling menerima dan menghargai satu sama lain.

Jika seseorang bersalah kepada kita, biasanya kita melakukan yang sebaliknya dari nasihat Yesus ini. Kadang dengan mudahnya kita memilih kebencian, mencari cara untuk balas dendam, atau membangun gosip yang merusak hubungan. Kini kita tahu, ketimbang melakukan hal-hal yang keji itu, kita sepatutnya menghampiri orang yang berbuat salah itu, walaupun dalam hati dan pikiran terasa sulit sekalipun. Lalu, kita harus memaafkan dan mengampuni kesalahan orang itu sesering dan sebisa kita sesuai dengan apa yang dibutuhkannya (Mat 18:21-22). Jika ini dilakukan, maka pemulihan hubungan akan menemui titik terang.

Mekanisme yang melibatkan satu atau dua orang sebagai saksi atau bahkan seluruh jemaat ini, tetap harus berlandaskan Firman Tuhan dan hikmat-Nya. Setiap anggota jemaat harus taat kepada Allah dalam melakukan keputusan atau kebijakan yang berkaitan dengan dosa atau kesalahan yang sudah dilakukan oleh salah seorang anggota jemaat. Semuanya harus berujung kepada damai sejahtera karena pengampunan yang diberikan oleh Tuhan Yesus Kristus kepada gereja-Nya supaya orang yang bersalah mendapatkan pemulihan hubungan dan kesempatan kehidupan yang baru di dalam anugerah-Nya yang tak berbatas.

Yesus menyadari bahwa kelak Ia hadir melalui Roh Kudus dalam diri orang yang percaya kepada-Nya. Dalam diri orang yang percaya (gereja), dua orang atau lebih yang bersehati di dalam doa, lebih bermakna ketimbang kehadiran ribuan orang yang hatinya dipenuhi dengan kebencian dan kebebalan untuk menjalankan kehidupan yang baru di dalam kasih Kristus. Dua orang atau lebih karena pertolongan Roh Kudus dan menaikan doa yang sesuai dengan kehendak Allah, doanya akan didengarkan Allah. Begitulah janji Kristus (Mat 18:19-20).

(Pdt. Essy Eisen)

Comments