Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 5 Pebruari 2012

diposkan pada tanggal 3 Feb 2012 01.02 oleh Essy Eisen   [ diperbarui3 Feb 2012 01.02 ]
Mengalami kebaikan Allah
Yesaya 40:21-31, Mazmur 147:1-11, 20c, 1 Korintus 9:16-23, Markus 1:29-39

Ibu mertua Simon terbaring karena sakit demam. Badannya lemah. Geraknya terbatas. Langit-langit kamarnya. Itulah yang disaksikannya jam demi jam. Terbayang raut muka setiap bagian anggota keluarganya. Sudah beberapa hari ini ia tidak dapat menyiapkan makanan dengan tangannya sendiri. Sesekali matanya terbuka. Dari kejauhan ia menyaksikan kegelisahan menantunya. Antiobiotik belum tersedia dalam bentuk yang mudah didapat pada waktu itu, sehingga sakit demam dapat saja berakhir pada kematian.

Orang-orang di rumah Simon ingat kepada seorang Guru yang telah memukau banyak orang. Pengajaran-Nya tegas dan berkuasa. Kuasa jahat takluk pada-Nya. Hidup-Nya penuh dengan kebenaran-kebenaran yang membawa kesejukan dan memberikan kelegaan. Mereka ingin mengalami kelegaan yang sama. Mereka memberitahukan masalah itu kepada-Nya, kepada Yesus. Yesus pergi ke tempat perempuan itu, dan sambil memegang tangannya Ia membangunkan dia, lalu lenyaplah demamnya. Kemudian perempuan itu melayani mereka (Mrk 1:30-31).

Allah memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya (Yes 40:29, Mzm 147:3). Inilah makna dari Injil, kabar baik dari Allah yang dengan sempurna dihadirkan Yesus Kristus. Setiap orang yang mau menanti-nantikan-Nya, yang takut akan Dia dan berharap kepada kasih-setia-Nya, akan mendapat kebaikan dari Allah (Yes 40:31, Mzm 147:11).

Membuka diri untuk mengalami kebaikan Allah. Bagaimana caranya? Pertama, orang harus memiliki kerinduan yang besar akan Allah dan kuasa-Nya. Sebagai contoh, seseorang yang menanti-nantikan pertunjukan final sepak bola, akan mengerahkan segenap perhatiannya untuk pertunjukan itu. Ia menyisihkan waktu, menyiapkan snack, dan dengan hati yang penuh sukacita tidak sabar untuk menantikan tim kesayangannya bertanding. Menanti-nantikan Allah ialah menjadikan Allah yang utama dalam hidup ini. Allah menjadi kesayangan kita. Segenap perhatian dicurahkan kepada-Nya. Jika kerinduan ini ada dalam diri saat kita berdoa, berkebaktian, melayani, kita sungguh akan mendapatkan kekuatan dan semangat baru. Kita sungguh membuka diri untuk menerima Injil-Nya, kebaikan-Nya.

Yang kedua ialah, takut kepada Allah. Dalam perjumpaan kita dengan Allah melalui Firman-Nya, dalam kebaktian, dalam doa, sikap takut kepada Allah ditunjukkan melalui kesadaran bahwa bukan kita yang perlu dan ingin berjumpa dengan Allah, tetapi Allah-lah yang memiliki keperluan dengan kita. Tanpa Allah kita bukan apa-apa dan siapa-siapa! Setiap orang yang menerima Injil-Nya senantiasa memilih untuk lebih takut kepada Allah ketimbang kepada manusia, harta dan kesenangan diri sendiri.

Takut kepada Allah erat dengan kenyataan bahwa semua hal dalam hidup ini terjadi karena kasih karunia-Nya. Kita perlu berharap akan kasih karunia-Nya, bukan kepada yang lain. Kita perlu menyediakan diri untuk mau dibentuk setiap hari. Relasi yang sehat dengan Allah harus dipelihara dengan tekun. Kita dipanggil untuk meniru apa yang dilakukan Yesus: “Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.” (Mrk 1:35).

Kita yang mau menanti-nantikan-Nya, yang takut akan Dia dan berharap akan kasih-setia-Nya, akan menikmati kuasa-Nya yang mengubahkan kehidupan. Allah memberikan kekuatan dan semangat baru mengatasi ketidakberdayaan kita. Dalam sukacita karena pertolongan yang diberikan Allah, pada saatnya kita mampu meneruskan kabar baik Allah itu kepada orang lain. Tidak boleh kebaikan Allah disimpan sendiri saja. Saat Simon dan kawan-kawannya menyusul Yesus karena banyak orang mencari-Nya, Yesus memilih untuk melangkah ke tempat yang lain. Yesus diutus untuk memperluas pengaruh kebaikan yang Allah sediakan bagi dunia ini (Mrk 1:36-38).

Ibu mertua Simon (Mrk 1:31) dan pada bacaan kita minggu ini, Paulus (1 Kor 9:16), adalah orang-orang yang telah mengalami kebaikan Allah. Mereka dijumpai, disentuh oleh Yesus, lalu mengalami pembaruan hidup dan pada gilirannya mau melayani Allah. Bagaimana dengan kita? (Pdt. Essy Eisen)

Comments